Tabuik Pariaman 1447 H, Prosesi Maarak Saroban Tampilkan Harmoni Budaya

Pariwisata489 Dilihat

Pariaman, RANAHNEWS – Ribuan warga tumpah ruah memenuhi pusat Kota Pariaman saat prosesi “Maarak Saroban” digelar, bagian dari tahapan penting dalam rangkaian tradisi Tabuik Budaya Pariaman yang berlangsung pada malam ke-8 Muharram 1447 H. Namun berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kali ini prosesi yang biasanya diwarnai momen tegang berupa “basalisiah”—perselisihan simbolik antara kelompok Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang—dihilangkan.

Menurut Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pariaman, Ferialdi, keputusan ini merupakan hasil kesepakatan bersama antara tuo tabuik dari kedua belah pihak. “Untuk malam ini, prosesi basalisiah ditiadakan setelah evaluasi bersama. Ini demi menghindari potensi gesekan, mengingat waktu pelaksanaan prosesi sangat berdekatan dengan puncak acara,” jelas Ferialdi kepada media.

Ia menegaskan bahwa peniadaan basalisiah tidak mengurangi makna dari maarak saroban itu sendiri, yang sarat simbolisme perjuangan, keberanian, dan nilai-nilai kebenaran yang diperjuangkan oleh Husein, cucu Nabi Muhammad SAW.

Senada dengan itu, Tokoh Masyarakat sekaligus pengamat seni dan pariwisata, Firman Syakri Pribadi alias Adjo Fe, menyatakan dukungannya. Ia menilai, meski tanpa konflik simbolik, pertunjukan kedua kelompok tetap memberikan tontonan yang menghibur dan bermakna.

“Tabuik adalah identitas kolektif orang Pariaman. Ia memperkuat semangat kebersamaan, gotong royong, dan menjadi momen pemersatu, termasuk bagi perantau yang pulang kampung. Kita perlu terus melestarikannya,” ungkap Adjo Fe.

Ia juga menyebut bahwa perbedaan pandangan terhadap tradisi adalah hal yang wajar dalam masyarakat demokratis. Namun bagi warga Pariaman, tabuik bukan hanya ritual budaya, tetapi juga cermin nilai-nilai sosial yang terus hidup dari generasi ke generasi. (rn/*/pzv)

Komentar