Oleh: Edwar Jamil
Wartawan Muda
RANAHNEWS.com — Kepemimpinan daerah tidak selalu diukur dari banyaknya proyek yang terlihat. Dalam kondisi anggaran terbatas dan tantangan pembangunan yang kompleks, ukuran keberhasilan sering kali ditentukan oleh kemampuan menghadirkan harapan, menjaga optimisme, dan membuka jalan bagi kemajuan daerah. Dari sudut pandang itulah usulan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Solok yang menempatkan Bupati Solok, Dr. (HC) Jon Firman Pandu, S.H., sebagai calon penerima Anugerah Tokoh Inspiratif SMSI Award 2026 patut dipahami.
Usulan tersebut tidak muncul tanpa dasar. Ketika Jon Firman Pandu bersama H. Candra dilantik Presiden Prabowo Subianto pada 20 Februari 2025, Kabupaten Solok menghadapi berbagai tantangan. Bencana hidrometeorologi melanda sejumlah wilayah. Pada saat yang sama, kebijakan efisiensi anggaran nasional membuat banyak pemerintah daerah harus menata ulang prioritas pembangunan di tengah keterbatasan fiskal.
Kondisi itu menciptakan situasi yang tidak mudah. Harapan masyarakat terhadap pembangunan tetap tinggi, sementara kemampuan anggaran daerah menghadapi tekanan yang cukup besar. Namun dalam satu tahun terakhir mulai terlihat sejumlah perkembangan yang memunculkan optimisme baru.
Faktanya, berbagai dukungan Transfer ke Daerah (TKD) kembali mengalir ke Kabupaten Solok. Sejumlah Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk sektor infrastruktur, pertanian, pelayanan dasar, dan pembangunan strategis lainnya berhasil diperjuangkan dan kini memasuki tahap tender maupun persiapan pelaksanaan.
Menurut penulis, perkembangan tersebut memiliki arti penting bagi Kabupaten Solok. Sebab daerah ini memiliki potensi ekonomi besar yang membutuhkan dukungan infrastruktur dan kebijakan yang berkelanjutan agar dapat berkembang secara optimal.
Di sektor pertanian, Kabupaten Solok bukan hanya dikenal sebagai daerah penghasil beras. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, produksi bawang merah Kabupaten Solok mencapai sekitar 216 ribu ton per tahun dan menempatkannya sebagai produsen bawang merah terbesar kedua di Indonesia. Untuk kategori bawang merah dataran tinggi, Kabupaten Solok bahkan menempati posisi pertama secara nasional.
Keunggulan itu menjadikan sektor pertanian Solok memiliki peran strategis, bukan hanya bagi masyarakat setempat, tetapi juga bagi ketahanan pangan dan perekonomian Sumatera Barat. Karena itu, pembangunan jalan produksi, jaringan irigasi, pengendalian bencana, serta dukungan sarana pertanian memiliki dampak yang jauh lebih luas dibandingkan nilai proyek fisiknya.
Potensi lain yang tidak kalah penting adalah sektor pariwisata. Danau Singkarak, Danau Diatas, Danau Dibawah, kawasan Alahan Panjang, hingga Gunung Talang merupakan aset wisata alam yang terus menarik perhatian wisatawan.
Data pergerakan wisatawan pada libur Idulfitri 1447 Hijriah menunjukkan peningkatan mobilitas masyarakat di berbagai daerah, termasuk destinasi wisata alam. Secara nasional, tren kunjungan wisatawan juga terus membaik dalam beberapa tahun terakhir dan membuka peluang baru bagi daerah-daerah tujuan wisata.
Dengan keberadaan Danau Kembar, Festival Lima Danau, serta rencana pengembangan Gunung Talang sebagai destinasi kelas dunia, Kabupaten Solok memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu tujuan wisata unggulan di Pulau Sumatera.
Karena itu, ketika dukungan anggaran pusat kembali tersedia dan berbagai proyek strategis mulai berjalan, masyarakat sesungguhnya tidak hanya menunggu pembangunan fisik. Yang lebih penting adalah bagaimana seluruh potensi daerah dapat terhubung dalam satu ekosistem ekonomi yang mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat daya saing daerah.
Sebagian orang mungkin baru melihat papan proyek atau daftar rencana kegiatan pembangunan. Namun bagi pemerintah daerah, hal itu merupakan indikator bahwa roda pembangunan kembali bergerak setelah menghadapi berbagai keterbatasan.
Kabupaten Solok bukan daerah yang dapat dibangun hanya dengan satu atau dua proyek. Sebagai sentra pertanian utama Sumatera Barat sekaligus kawasan wisata unggulan, kebutuhan infrastrukturnya sangat besar. Jalan produksi, irigasi, pengendalian bencana, fasilitas wisata, dan pelayanan publik memerlukan dukungan anggaran yang berkelanjutan.
Dalam konteks itulah kemampuan menghadirkan program dan dukungan pendanaan dari pemerintah pusat menjadi salah satu ukuran penting efektivitas kepemimpinan daerah.
Di sisi lain, sejumlah capaian juga mulai tercatat. Kabupaten Solok meraih penghargaan Kampung KB tingkat nasional, penghargaan Bebas Frambusia dari Kementerian Kesehatan RI, serta apresiasi dari Bank Indonesia sebagai pemerintah daerah yang mendukung pengembangan UMKM secara kolaboratif.
Tentu masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Jalan rusak masih menjadi keluhan masyarakat. Pemulihan pascabencana membutuhkan percepatan. Kualitas pelayanan publik juga harus terus ditingkatkan.
Namun inspirasi tidak selalu lahir dari kondisi yang sempurna. Inspirasi justru muncul ketika seorang pemimpin tetap berupaya mencari solusi dan menjaga arah pembangunan di tengah berbagai keterbatasan.
Barangkali pertimbangan itulah yang dibaca SMSI ketika mengusulkan Jon Firman Pandu sebagai Tokoh Inspiratif dalam ajang nasional yang mengusung tema “Menjaga Kemerdekaan Pers dan Keberlanjutan Media dalam Menyongsong Indonesia Emas 2045”.
Pada akhirnya, penghargaan bukanlah tujuan akhir. Yang paling penting adalah manfaat pembangunan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Jika proyek-proyek yang saat ini memasuki tahapan tender dapat terealisasi dengan baik, sektor pertanian terus berkembang, dan pariwisata semakin tumbuh, maka penghargaan hanyalah konsekuensi dari kerja yang dilakukan.
Sebab penghargaan tertinggi bagi seorang kepala daerah bukanlah piagam yang dipajang di dinding kantor, melainkan ketika kebijakan pembangunan mampu menjawab kebutuhan rakyat dan masyarakat merasakan perubahan nyata di daerahnya. (***)










Komentar