Danantara Temukan 1.073 Perusahaan, BUMN Bermasalah Siap Ditata

Ekonomi26 Dilihat

Jakarta, RANAHNEWS.com — Danantara Indonesia menemukan sedikitnya 1.073 perusahaan berada dalam ekosistem BUMN setelah melakukan pendataan ulang secara menyeluruh. Temuan tersebut menjadi titik awal transformasi besar-besaran yang mencakup likuidasi perusahaan bermasalah, divestasi bisnis noninti, hingga konsolidasi sejumlah perusahaan negara dalam sektor yang sama.

Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria, mengatakan jumlah perusahaan yang berada dalam ekosistem BUMN sempat berubah-ubah selama proses pendataan, mulai dari 888 perusahaan, kemudian 900, 970, 1.000, hingga akhirnya mencapai lebih dari 1.073 perusahaan.

“Artinya kita bahkan tidak mengetahui secara pasti berapa jumlah perusahaan yang kita miliki. Karena ada anak perusahaan, cucu perusahaan, cicit perusahaan, dan berbagai entitas lainnya,” ujar Dony dalam Podcast @BukanKalengKalengID yang tayang Rabu (10/6/2026).

Setelah memperoleh data yang lebih akurat, Danantara melakukan evaluasi menyeluruh melalui program fundamental business review. Seluruh perusahaan dianalisis berdasarkan standar global dengan menilai model bisnis, sumber pendapatan, struktur biaya, pangsa pasar, kemampuan organisasi, kondisi keuangan, hingga tata kelola perusahaan.

Dari hasil evaluasi tersebut, Danantara mengelompokkan perusahaan-perusahaan BUMN ke dalam empat kategori utama.

Kategori pertama adalah perusahaan yang akan dilikuidasi. Kelompok ini mencakup perusahaan yang dinilai tidak lagi memiliki prospek memadai karena kondisi keuangan yang berat, aset yang tidak mampu menutupi kewajiban, serta peluang bisnis yang terbatas.

Kategori kedua adalah perusahaan yang akan didivestasi. Kelompok ini terdiri atas bisnis noninti yang masih memiliki nilai ekonomi dan dapat dilepas kepada investor.

“Tujuannya agar perusahaan kembali fokus pada bisnis inti masing-masing,” kata Dony.

Beberapa contoh bisnis yang masuk kategori ini antara lain travel agent milik Pertamina, bisnis fiber optic milik PP, serta Edmedica yang berada di bawah Telkom.

Kategori ketiga adalah perusahaan yang akan dikonsolidasikan. Dalam skema ini, perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor serupa digabungkan menjadi entitas yang lebih besar dan efisien.

Salah satu contohnya adalah penggabungan 16 perusahaan logistik menjadi satu perusahaan logistik nasional di bawah PT Pos Indonesia. Konsolidasi juga dilakukan pada sektor rumah sakit, hotel, sekuritas, industrial estate, asset management, dan asuransi.

Untuk sektor asuransi, sekitar 15 perusahaan yang saat ini tersebar akan digabungkan menjadi tiga kelompok besar, yakni life insurance, general insurance, dan credit insurance.

Menurut Dony, langkah konsolidasi tersebut dirancang untuk menciptakan skala ekonomi yang lebih besar sehingga BUMN memiliki daya saing yang lebih kuat di tingkat global.

“Kita desain ulang business model-nya berdasarkan benchmark internasional. Jadi bukan sekadar digabung, tetapi juga dibangun ulang agar lebih kompetitif,” ujarnya.

Transformasi tersebut menjadi bagian dari upaya Danantara membangun BUMN yang lebih sehat, fokus, efisien, dan berkelanjutan pada masa mendatang. (rn/*/pzv)

Komentar