Oleh: Dr. Syamsul Bahri, M.M.
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Ekasakti (UNES) Padang
Wakil Ketua APIMSA (Asosiasi Pengusaha Kecil Menengah Mikro Nusantara) Sumatera Barat
RANAHNEWS.com — Abad ke-21 mengubah cara daerah membangun daya saing. Jika pada masa lalu kekayaan sumber daya alam menjadi penentu pertumbuhan ekonomi, kini keunggulan semakin ditentukan oleh kemampuan menarik manusia untuk belajar, meneliti, berinovasi, bekerja, dan membangun jejaring global. Dalam ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge economy), manusia telah menjadi aset paling bernilai sekaligus penggerak utama pertumbuhan. Dari sudut pandang itu, Sumatera Barat memiliki peluang besar yang belum sepenuhnya dimanfaatkan.
Perubahan tersebut tercermin pada meningkatnya mobilitas pelajar internasional. Data UNESCO menunjukkan jumlah mahasiswa yang menempuh pendidikan di luar negara asal terus bertambah dalam dua dekade terakhir hingga melampaui enam juta orang. Di Australia, pendidikan internasional menjadi salah satu sektor ekspor jasa terbesar dengan kontribusi ekonomi mencapai puluhan miliar dolar Australia setiap tahun. Inggris juga memperoleh manfaat ekonomi yang signifikan melalui belanja mahasiswa internasional di sektor perumahan, transportasi, perdagangan, pariwisata, hingga industri kreatif. Fakta ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak lagi sekadar dipandang sebagai layanan sosial, tetapi telah berkembang menjadi penggerak ekonomi.
Perubahan paradigma tersebut seharusnya menjadi perhatian Sumatera Barat. Selama ini, pembangunan ekonomi daerah lebih banyak bertumpu pada investasi, pembangunan infrastruktur, dan pengembangan pariwisata. Ketiga sektor itu tetap penting. Namun, jika hanya mengandalkan strategi yang sama dengan daerah lain, ruang kompetisi akan semakin sempit. Padahal, Sumatera Barat memiliki keunggulan yang tidak dimiliki semua daerah, yakni sejarah panjang sebagai penghasil sumber daya manusia unggul.
Berbeda dengan sejumlah provinsi yang ditopang kekayaan minyak bumi, gas alam, batu bara, atau mineral strategis, Sumatera Barat tidak memiliki cadangan sumber daya alam dalam skala besar. Kondisi tersebut sering dianggap sebagai keterbatasan. Menurut saya, justru di sinilah peluang terbesar berada. Sumber daya alam memiliki batas, sedangkan kualitas manusia dapat terus dikembangkan. Investasi pada pengetahuan akan melahirkan inovasi, produktivitas, dan nilai ekonomi baru yang berkelanjutan.
Pandangan itu memiliki pijakan sejarah yang kuat. Sejak awal abad ke-20, Sumatera Barat dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan dan pemikiran di Nusantara. Daerah ini melahirkan tokoh-tokoh nasional seperti Mohammad Hatta, Mohammad Natsir, Buya Hamka, Agus Salim, dan Mohammad Yamin. Selain itu, banyak akademisi, ulama, birokrat, serta pengusaha asal Minangkabau memberikan kontribusi penting bagi perjalanan bangsa.
Tradisi merantau turut memperkuat identitas tersebut. Dalam budaya Minangkabau, merantau bukan sekadar berpindah tempat untuk mencari penghidupan, tetapi juga perjalanan intelektual untuk memperluas ilmu, pengalaman, dan jejaring. Semangat itu berpadu dengan falsafah Alam Takambang Jadi Guru yang memandang alam, masyarakat, dan pengalaman hidup sebagai sumber pembelajaran sepanjang hayat. Pendidikan, dengan demikian, tidak hanya menjadi sarana memperoleh pekerjaan, tetapi juga membangun karakter dan peradaban.
Ironisnya, modal sejarah yang besar itu belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi strategi pembangunan ekonomi. Selama puluhan tahun, Sumatera Barat lebih dikenal sebagai daerah yang melahirkan dan mengirim banyak sumber daya manusia berkualitas ke berbagai wilayah di Indonesia maupun luar negeri. Sebaliknya, belum banyak orang datang ke Sumatera Barat dengan tujuan utama untuk belajar.
Menurut saya, kondisi tersebut menuntut perubahan cara pandang. Selama ini, perhatian lebih banyak diarahkan pada upaya meningkatkan jumlah wisatawan. Pertanyaan itu tetap relevan, tetapi belum cukup menjawab tantangan masa depan. Pertanyaan yang lebih strategis adalah bagaimana menjadikan Sumatera Barat sebagai tujuan belajar. Perubahan fokus tersebut akan membawa perubahan mendasar dalam arah pembangunan daerah.
Perbedaan keduanya sangat nyata. Wisatawan umumnya tinggal selama beberapa hari, menikmati panorama alam, mencicipi kuliner, membeli oleh-oleh, lalu kembali ke daerah asal. Aktivitas itu memang menggerakkan ekonomi masyarakat, tetapi dampaknya relatif singkat.
Sebaliknya, mahasiswa asing yang menetap selama beberapa tahun, peneliti yang melakukan riset berbulan-bulan, atau peserta summer school yang mengikuti program akademik selama beberapa pekan akan menciptakan dampak ekonomi yang jauh lebih luas. Mereka membutuhkan tempat tinggal, transportasi, makanan, layanan kesehatan, hingga berbagai kebutuhan harian. Mereka juga mengunjungi destinasi wisata, memanfaatkan jasa lokal, bahkan sering menerima kunjungan keluarga dari negara asal. Aktivitas tersebut menghasilkan perputaran ekonomi yang berlangsung lebih lama dibandingkan kunjungan wisata biasa.
Fenomena itu menjelaskan mengapa banyak kota di dunia berkembang bukan hanya karena daya tarik wisatanya, melainkan juga karena kekuatan institusi pendidikannya. Mesir merupakan contoh yang menarik. Selain dikenal melalui Piramida Giza dan Sungai Nil, negara tersebut juga identik dengan Universitas Al-Azhar yang selama lebih dari seribu tahun menjadi tujuan pelajar dari berbagai belahan dunia. Ribuan mahasiswa yang tinggal bertahun-tahun di Kairo ikut menggerakkan sektor perumahan, transportasi, perdagangan, konsumsi, hingga pariwisata. Dalam konteks ini, pendidikan menjadi salah satu fondasi penting kehidupan ekonomi kota.
Pengalaman serupa juga terlihat di berbagai negara. Oxford dikenal dunia bukan semata karena warisan arsitekturnya, tetapi karena University of Oxford. Cambridge tumbuh bersama reputasi University of Cambridge sebagai pusat ilmu pengetahuan. Di Amerika Serikat, Boston berkembang menjadi salah satu episentrum inovasi global berkat kehadiran Harvard University dan Massachusetts Institute of Technology (MIT). Di Indonesia, Yogyakarta menunjukkan bagaimana aktivitas ratusan ribu mahasiswa mampu menghidupkan ekonomi daerah sepanjang tahun.
Contoh-contoh tersebut memperlihatkan bahwa kota-kota maju tidak hanya membangun destinasi wisata, tetapi juga membangun ekosistem pengetahuan. Mereka menarik orang untuk tinggal, belajar, berkarya, melakukan penelitian, dan membangun jejaring internasional. Menurut saya, inilah arah pembangunan yang layak dipertimbangkan Sumatera Barat.
Sesungguhnya, Sumatera Barat telah memiliki hampir seluruh prasyarat untuk berkembang sebagai learning destination. Daerah ini memiliki tradisi intelektual yang kuat, kekayaan budaya yang terjaga, falsafah hidup yang menghargai ilmu pengetahuan, jaringan pesantren dan perguruan tinggi, bentang alam yang beragam, serta masyarakat yang religius. Tantangan utamanya bukan terletak pada keterbatasan potensi, melainkan belum adanya visi besar yang mampu menyatukan seluruh kekuatan tersebut dalam satu strategi pembangunan ekonomi.
Keunggulan pertama adalah kualitas sumber daya manusia (human capital). Tradisi pendidikan telah lama menjadi bagian dari identitas masyarakat Minangkabau. Semangat merantau tidak hanya dimaknai sebagai ikhtiar mencari penghidupan, tetapi juga sebagai proses memperluas wawasan, membangun jejaring, dan meningkatkan kapasitas diri. Reputasi Sumatera Barat sebagai daerah yang melahirkan banyak pemimpin nasional, akademisi, ulama, dan pengusaha menjadi modal yang sulit ditiru dalam waktu singkat oleh daerah lain.
Keunggulan berikutnya ialah kekayaan budaya (culture capital). Sistem adat, bahasa, arsitektur, sastra, seni, hingga kuliner Minangkabau bukan sekadar warisan yang dinikmati wisatawan, tetapi juga objek pembelajaran yang bernilai tinggi. Di tengah arus globalisasi yang semakin menyeragamkan budaya, identitas lokal justru menjadi daya tarik baru. Banyak perguruan tinggi dunia mengembangkan program cultural immersion, studi masyarakat adat, dan pembelajaran berbasis komunitas. Sumatera Barat memiliki potensi besar untuk mengembangkan program serupa.
Modal penting lainnya adalah nilai-nilai religius yang hidup berdampingan dengan budaya melalui falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK). Jaringan surau dan pesantren yang telah berkembang selama berabad-abad merupakan warisan intelektual yang bernilai tinggi. Menurut saya, potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi pusat pembelajaran Islam Nusantara, ekonomi syariah, filantropi Islam, kepemimpinan, hingga pemberdayaan masyarakat. Pengalaman Universitas Al-Azhar menunjukkan bahwa lembaga pendidikan keagamaan mampu menjadi magnet intelektual sekaligus penggerak ekonomi daerah.
Keunggulan lain yang tidak kalah penting adalah kekayaan bentang alam (natural capital). Lembah Harau, Danau Maninjau, Danau Singkarak, Kepulauan Mentawai, Geopark Silokek, hingga kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat merupakan laboratorium alam yang sangat kaya. Kawasan-kawasan tersebut tidak hanya layak dipromosikan sebagai destinasi wisata, tetapi juga dapat menjadi pusat pembelajaran mengenai lingkungan, geologi, kebencanaan, kelautan, antropologi, dan pembangunan berkelanjutan. Dengan pendekatan seperti ini, alam memiliki fungsi ekonomi yang lebih luas karena menjadi ruang belajar sekaligus ruang wisata.
Apabila seluruh potensi tersebut diintegrasikan dengan perguruan tinggi, pesantren, sekolah, pusat bahasa, lembaga pelatihan, serta komunitas masyarakat, Sumatera Barat memiliki fondasi yang kuat untuk membangun identitas baru sebagai kawasan pembelajaran bertaraf internasional. Karena itu, menurut saya, yang dibutuhkan bukan sekadar program baru, melainkan perubahan paradigma pembangunan.
Atas dasar pemikiran tersebut, saya menawarkan konsep Learning Destination Economy (LDE). Konsep ini menempatkan pendidikan, penelitian, inovasi, pertukaran budaya, dan pengembangan ilmu pengetahuan sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah. Dalam paradigma ini, kampus, pesantren, sekolah, lembaga pelatihan, dan pusat riset tidak hanya dipandang sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai simpul ekonomi yang menghasilkan efek berganda bagi masyarakat.
Ketika mahasiswa internasional datang, mereka membutuhkan tempat tinggal, transportasi, makanan, layanan kesehatan, ruang rekreasi, hingga produk UMKM. Saat konferensi internasional berlangsung, hotel, katering, transportasi, pelaku usaha kreatif, dan destinasi wisata ikut memperoleh manfaat. Demikian pula ketika peneliti melakukan riset lapangan, masyarakat lokal dapat menjadi mitra sekaligus penerima manfaat ekonomi. Dalam ekosistem seperti ini, pendidikan dan pariwisata tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling memperkuat.
Mewujudkan Sumatera Barat sebagai tujuan belajar dunia tentu tidak cukup dengan membangun kampus atau memperbanyak promosi wisata. Yang lebih penting adalah membangun ekosistem yang menghadirkan pengalaman belajar berkualitas sekaligus pengalaman budaya yang berkesan. Perguruan tinggi perlu memperluas kerja sama internasional melalui program pertukaran mahasiswa, summer school, riset bersama, dan dual degree. Pesantren dapat mengembangkan program singkat mengenai Islam moderat, tradisi intelektual surau, maupun kepemimpinan berbasis nilai Minangkabau. Sementara itu, pemerintah daerah dapat memperkuat program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), memfasilitasi konferensi internasional, serta menghubungkan kegiatan akademik dengan desa wisata, sentra UMKM, dan industri kreatif.
Peran diaspora Minangkabau juga sangat strategis. Selama ini diaspora lebih banyak dikenal sebagai penghubung jaringan ekonomi dan perdagangan. Ke depan, mereka dapat menjadi duta akademik yang membuka peluang kolaborasi riset, pertukaran mahasiswa, dan kerja sama perguruan tinggi di berbagai negara. Dengan demikian, pendidikan tidak lagi dipandang sebagai beban anggaran, melainkan investasi jangka panjang yang memberikan manfaat sosial sekaligus ekonomi.
Saya membayangkan dua puluh tahun mendatang Bandara Internasional Minangkabau tidak hanya dipadati wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam dan kuliner Minangkabau. Bandara itu juga menjadi pintu masuk ribuan mahasiswa, peneliti, dosen, inovator, dan wirausahawan sosial dari berbagai negara yang memilih Sumatera Barat sebagai tempat belajar, meneliti, dan membangun kolaborasi.
Mereka tinggal selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Kehadiran mereka menghidupkan rumah kos, hotel, restoran, transportasi, UMKM, industri kreatif, hingga berbagai sektor jasa lainnya. Lebih dari itu, mereka membawa pulang pengalaman, jejaring, dan cerita tentang Sumatera Barat ke negaranya masing-masing. Pada titik itulah promosi terbaik lahir bukan dari baliho atau media sosial, melainkan dari pengalaman langsung mereka sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Minangkabau.
Karena itu, sudah saatnya ukuran keberhasilan pembangunan diperluas. Keberhasilan tidak hanya diukur dari jumlah wisatawan yang datang, tetapi juga dari banyaknya orang yang memilih belajar, meneliti, dan membangun masa depan di Sumatera Barat. Mereka tidak hanya membawa koper, tetapi juga pengetahuan, kreativitas, jejaring, investasi, dan harapan. Dari sanalah ekonomi baru akan tumbuh.
Pariwisata akan tetap menjadi kekuatan penting Sumatera Barat. Namun, nilainya akan jauh lebih besar apabila dipadukan dengan pendidikan, budaya, riset, dan inovasi. Inilah esensi Learning Destination Economy, yaitu paradigma pembangunan yang menempatkan manusia sebagai pusat kemajuan dan pengetahuan sebagai sumber daya paling berharga.
Abad ke-20 ditandai oleh persaingan menguasai sumber daya alam. Abad ke-21 akan dimenangkan oleh daerah yang mampu menarik manusia untuk belajar, berkarya, dan berkolaborasi. Dengan sejarah intelektual, kekayaan budaya Minangkabau, falsafah ABS-SBK, serta tradisi pendidikan yang telah mengakar, Sumatera Barat memiliki modal kuat untuk menjadi salah satunya. Pariwisata mengundang orang datang, tetapi pendidikan membuat mereka tinggal. Ketika pengetahuan bertumbuh, ekonomi akan berkembang. Di situlah, menurut saya, masa depan Sumatera Barat. (***)










Komentar