Jakarta, RANAHNEWS.com — Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, menegaskan pemerintah akan merampingkan lebih dari 1.000 entitas badan usaha milik negara menjadi sekitar 250 perusahaan melalui transformasi menyeluruh guna menciptakan BUMN yang sehat, efisien, dan kompetitif.
Pernyataan itu disampaikan Dony dalam sebuah acara di Jakarta, Selasa (22/4/2026), sebagai bagian dari upaya penataan ulang struktur perusahaan negara yang jumlahnya terus berubah.
“Awalnya saya dilaporkan ada 888 perusahaan. Dicek lagi menjadi 900, lalu 1.000, bahkan sempat 1.080. Karena itu kami mulai mendata ulang seluruh perusahaan,” ujar Dony.
Ia menyebut proses transformasi dipimpin langsung tanpa melibatkan konsultan eksternal, dengan fokus mempercepat penataan melalui tim internal.
“Saya pimpin sendiri proses transformasi ini bersama tim Danantara untuk memastikan semua berjalan baik,” katanya.
Langkah awal dilakukan melalui fundamental business review terhadap seluruh perusahaan, meliputi model bisnis, sumber pendapatan, struktur biaya, margin usaha, ukuran dan pangsa pasar, serta kekuatan organisasi.
Dony menegaskan seluruh BUMN harus memiliki tolok ukur kelas dunia agar mampu bersaing.
“Tidak ada bisnis BUMN yang tidak punya benchmark. Semua industri punya best practice,” ujarnya.
Ia mencontohkan peningkatan pendapatan di sektor bandara yang sebelumnya sekitar 1 dolar AS per penumpang menjadi 4 dolar AS setelah pembenahan fasilitas dan area komersial.
Di sektor perkeretaapian, ia menilai kontribusi pendapatan non-tiket masih rendah dibandingkan negara maju, meski sektor retail dan properti memiliki potensi besar.
Hasil evaluasi kemudian menentukan arah kebijakan terhadap masing-masing perusahaan. Perusahaan yang tidak sehat, memiliki utang lebih besar dari aset, serta tidak memiliki prospek akan dilikuidasi agar tidak membebani negara.
Sementara perusahaan yang masih memiliki nilai namun berada di luar bisnis inti akan didivestasi, baik kepada pihak internal maupun eksternal, guna meningkatkan fokus pada sektor strategis.
Untuk sektor dengan banyak entitas serupa, pemerintah memilih konsolidasi agar skala usaha lebih besar dan efisien, seperti pada bisnis rumah sakit, logistik, dan pengelolaan aset.
Adapun perusahaan yang masih potensial namun memiliki masalah operasional atau keuangan akan direstrukturisasi melalui pembenahan manajemen dan pengawasan.
“Dari lebih seribu entitas, ke depan akan disederhanakan menjadi sekitar 250 perusahaan yang benar-benar kompetitif dan sehat,” tegas Dony.
Ia juga menyoroti perkembangan restrukturisasi pada sejumlah BUMN. Kimia Farma disebut mulai membaik setelah penguatan pengawasan dan sistem inventaris sehingga mampu mencatat EBITDA positif.
Sementara Garuda Indonesia mulai mengaktifkan kembali armada yang sebelumnya tidak beroperasi, termasuk pada anak usaha Citilink.
Selain aspek keuangan, Dony menegaskan indikator kinerja BUMN juga harus mencakup kualitas layanan publik, termasuk pada sektor jalan tol.
“Saya ingin BUMN bukan hanya untung, tetapi juga memberi layanan terbaik kepada masyarakat,” ujarnya. (rn/*/pzv)

















Komentar