DPRD Padang Ajak Warga Rayakan Nataru dengan Empati

Parlemen98 Dilihat

Padang, RANAHNEWS — Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025, Wakil Ketua DPRD Kota Padang, Osman Ayub, mengingatkan masyarakat agar merayakan momen tersebut dengan tetap menjunjung tinggi nilai kearifan lokal Minangkabau yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat Kota Padang.

Osman Ayub menekankan bahwa toleransi, empati, dan sikap saling menghormati merupakan nilai dasar dalam adat dan budaya Minang yang harus terus dijaga, terutama di tengah situasi sosial yang masih diliputi keprihatinan akibat bencana.

“Budaya Minangkabau mengajarkan kita untuk saling menghormati dan merasakan apa yang dirasakan orang lain,” ujar Osman Ayub, Rabu (24/12/2025).

Ia menyoroti kondisi sejumlah wilayah pinggiran Kota Padang yang masih kuat memegang adat Minangkabau, khususnya kawasan mudik yang beberapa waktu lalu terdampak banjir bandang. Bencana yang terjadi pada November 2025 tersebut menyebabkan rumah warga hanyut, harta benda rusak, dan menelan korban jiwa.

Selain permukiman, bencana juga merusak infrastruktur vital. Sejumlah jembatan dan ruas jalan terputus sehingga aktivitas masyarakat terganggu, bahkan memaksa sebagian warga mengungsi ke lokasi penampungan yang telah disiapkan pemerintah.

Wilayah yang terdampak paling parah berada di Kecamatan Pauh, Kuranji, Koto Tangah, dan Nanggalo. Kawasan tersebut dikenal sebagai nagari serumpun yang memiliki ikatan sosial dan budaya Minangkabau yang kuat.

“Dalam adat Minang ada ungkapan, kalau saudara kita menangis, kita ikut merasakan kesedihannya,” kata mantan Ketua DPC Partai NasDem Kota Padang itu.

Menurutnya, musibah tersebut merupakan kejadian luar biasa yang patut menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat agar lebih peka terhadap kondisi sesama, terutama bagi warga yang hingga kini masih berjuang memulihkan kehidupan setelah kehilangan tempat tinggal.

Ia juga berharap para tokoh masyarakat di 11 kecamatan dan 104 kelurahan berperan aktif mengimbau warganya untuk menjaga sikap dan menghormati nilai budaya, khususnya dalam suasana perayaan Nataru.

Terkait pelayanan publik selama libur Nataru, Osman Ayub menilai pemerintah kota perlu mengatur jam operasional transportasi umum dan layanan publik lainnya secara terukur serta menyosialisasikannya sejak dini kepada masyarakat.

“Pengaturan jam operasional perlu disesuaikan, tentu dengan imbauan yang jelas agar masyarakat memahami,” tuturnya.

Selain itu, ia meminta petugas di kawasan wisata, khususnya Pantai Padang, untuk meningkatkan kesiapsiagaan demi menjaga ketertiban dan keamanan selama masa libur Nataru.

“Kita kembali pada nilai budaya kita sendiri. Rasa empati dan kepedulian itulah yang menjadi kekuatan masyarakat Minangkabau,” tegasnya. (rn/*/pzv)

Komentar