Reses Endarmy Ungkap Dampak Putusnya Jembatan Rajang

Parlemen52 Dilihat

Padang Pariaman, RANAHNEWS.com — Ribuan kepala keluarga di Korong Salisikan, Nagari Sungai Buluh Timur, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, terisolasi sejak jembatan rajang putus diterjang banjir bandang Sungai Batang Anai pada Jumat, 28 November 2025. Kondisi tersebut terungkap saat Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat Endarmy melakukan reses perorangan sekaligus meninjau langsung lokasi jembatan yang ambruk, Rabu (4/2/2026).

Jembatan rajang yang roboh total itu sebelumnya menjadi akses utama penghubung antarpermukiman warga, termasuk jalur anak-anak menuju sekolah serta akses ekonomi masyarakat setempat. Sejak jembatan putus, aktivitas warga terganggu dan mobilitas menjadi sangat terbatas.

Endarmy menyampaikan, terputusnya jembatan berdampak langsung terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat. Para pelajar terpaksa menempuh jalur alternatif yang lebih jauh dan harus menggunakan jasa ojek dengan biaya mencapai Rp30 ribu per perjalanan.

“Jembatan ini sangat vital. Tanpa akses tersebut, anak-anak sekolah harus memutar jauh dan mengeluarkan biaya besar setiap hari,” ujar Endarmy.

Ia menambahkan, kondisi ekonomi warga semakin tertekan pascabencana. Mayoritas masyarakat menggantungkan hidup dari sektor pertanian sawah dan perkebunan, namun sebagian lahan rusak dan hanyut akibat banjir bandang.

Menurut Endarmy, sedikitnya sekitar 2.000 kepala keluarga terdampak langsung dan dapat dikategorikan terisolasi akibat terputusnya akses penghubung. Karena itu, pembangunan kembali jembatan rajang dinilai sebagai kebutuhan mendesak.

“Penanganannya harus segera. Jembatan rajang perlu dibangun kembali agar akses masyarakat kembali terbuka dan aktivitas ekonomi bisa pulih,” tegasnya.

Endarmy juga menyampaikan telah berkoordinasi dengan sejumlah organisasi perangkat daerah, termasuk Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, serta berkomitmen memperjuangkan pembangunan jembatan tersebut melalui rapat-rapat resmi bersama pemerintah daerah.

Sejak jembatan ambruk, belum tersedia penanganan jangka pendek untuk menunjang mobilitas warga. Masyarakat berharap adanya dukungan dari pihak terkait, termasuk TNI dan Polri, untuk membantu meringankan beban warga.

Sementara itu, perwakilan Lembaga Aksi Solidaritas Piaman Laweh (ASPILA) Azwar Anas menyatakan pihaknya menerima banyak keluhan masyarakat sejak jembatan tersebut roboh. Menurutnya, kondisi itu tidak hanya menghambat mobilitas, tetapi juga membahayakan keselamatan warga, terutama anak-anak dan lansia.

“Kami berharap pembangunan jembatan ini menjadi prioritas. Ini bukan sekadar infrastruktur, tetapi menyangkut keselamatan, pendidikan anak-anak, dan keberlangsungan ekonomi masyarakat,” kata Azwar Anas.

Ia juga mengapresiasi langkah Endarmy yang turun langsung ke lapangan dan menyatakan komitmen untuk mengawal aspirasi masyarakat hingga terealisasi dalam program pembangunan daerah. (rn/*/pzv)

Komentar