Padang, RANAHNEWS – Dony menjelaskan, Danantara adalah era baru pengelolaan BUMN. Sebelumnya, Indonesia memiliki 888 BUMN yang berada di bawah Kementerian BUMN, dengan pelaporan keuangan kepada Menteri Keuangan dan deviden disetor ke negara. Kini, deviden disetor ke Danantara dan dikelola untuk investasi, seperti membuka usaha baru, memperbaiki infrastruktur, dan membangun pabrik. Tidak semua laba disetor penuh, melainkan dialokasikan secara proporsional untuk pengembangan usaha.
“Saat ini, Danantara mengelola aset senilai Rp11 ribu triliun di berbagai sektor. Ini bukan uang tunai, melainkan aset yang tersebar. Pola ini umum digunakan di seluruh dunia,” kata Dony.
Jika laba BUMN pada 2024 sebesar Rp307 triliun dan jumlahnya sama pada 2025, tidak seluruhnya disetor ke Danantara. Sebagian besar dimanfaatkan untuk memperkuat perusahaan.
“Kalau dulu antar BUMN tidak saling terhubung, sekarang kalau ada satu BUMN yang kesulitan, BUMN lain yang sehat bisa membantu karena semuanya berada di bawah Danantara,” jelas Dony.
Dony menyebut, selama ini peluang besar di Indonesia banyak diambil oleh pihak asing. Kini, Danantara berkomitmen untuk mengambil alih peluang itu dengan investasi sebesar Rp2.000 triliun. Investasi tersebut bersumber dari laba BUMN, bukan dari BUMN-nya, dan akan membuka lapangan kerja serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Danantara, atau Daya Anagata Nusantara, adalah badan pengelola investasi yang dibentuk pemerintah Indonesia untuk mengelola kekayaan negara demi masa depan. Gagasan ini pertama kali dicetuskan oleh Sumitro Djojohadikusumo, ayah Prabowo Subianto, ketika menjabat sebagai Menteri Keuangan. Lembaga ini resmi diluncurkan oleh Presiden Prabowo pada Februari 2025.
Danantara dikomandoi oleh Rosan Perkasa Roeslani sebagai CEO, Pandu Patria Sjahrir sebagai CIO, dan Dony Oskaria sebagai COO. Selain mengelola investasi, Danantara juga berwenang menyeleksi dan mewawancarai calon direksi BUMN berdasarkan penilaian profesional.
Rektor Universitas Andalas, Efa Yonnedi, menyatakan kesiapannya menjadikan kampus tersebut sebagai laboratorium BUMN. Ia juga berharap Danantara membuka peluang magang bagi dosen muda, bukan hanya mahasiswa. Efa melaporkan bahwa Unand telah memproduksi tinta dari bahan gambir yang digunakan pada pemilu, serta mengembangkan 32 produk kesehatan yang sudah teruji.
Efa juga menyampaikan kebanggaannya atas kehadiran Dony Oskaria, yang meski hanya setahun berkuliah di Unand sebelum pindah ke Bandung, tetap dianggap sebagai bagian dari keluarga besar Universitas Andalas.
“Saya alumni Unand,” ujar Dony.
Kuliah umum ini turut dihadiri oleh Direktur Utama Semen Indonesia, Indrieffouny Indra, Direktur Operasi Semen Indonesia, Reni Wulandari, Sekretaris Perusahaan Vita Mahyerni, pejabat BUMN di Padang, para guru besar, Plt Direktur Utama PT Semen Padang Pri Gustari Akbar, dan ratusan mahasiswa. (rn/*/pzv)












Komentar