Dawam Nilai Ketum PBNU Baru Perlu Belajar dari Pendahulu

Nasional43 Dilihat

Jakarta, RANAHNEWS.com — Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026 dinilai menjadi momentum penting untuk memperkuat arah perjuangan organisasi memasuki abad kedua masa khidmah. Menjelang agenda tersebut, Mohammad Dawam menyoroti pentingnya calon Ketua Umum PBNU mendatang mempelajari pola kepemimpinan para pendahulu.

Anggota Kompolnas periode 2020–2024 sekaligus mantan Anggota Komisi Informasi DKI Jakarta dua periode itu menilai empat generasi kepemimpinan PBNU memiliki karakter dan warisan berbeda yang dapat menjadi rujukan bagi kepemimpinan NU ke depan.

“Empat generasi kepemimpinan PBNU telah meninggalkan karakter dan warisan besar pada zamannya masing-masing. Itu bisa menjadi semacam miqat atau arah kebijakan bagi kepemimpinan NU ke depan,” tulis Dawam dalam opini yang diterima wartawan, Kamis (28/5/2026).

Menurut Dawam, kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi simbol kedekatan PBNU dengan warga nahdliyin di akar rumput. Gus Dur dinilai aktif membangun komunikasi langsung dengan masyarakat hingga lapisan terbawah.

“Gus Dur tidak sekadar mengkritik pemerintah ketika kebijakan tidak berpihak kepada rakyat kecil, tetapi beliau juga rutin turun ke masyarakat, menghadiri pengajian kampung dan ziarah ke tokoh-tokoh NU,” tulisnya.

Dawam menyebut pendekatan humanis Gus Dur membuat warga NU merasa dihormati dan memiliki hubungan batin yang kuat dengan PBNU.

Sementara itu, kepemimpinan KH Hasyim Muzadi dinilai menonjol dalam penguatan manajemen organisasi dan diplomasi kebangsaan. Menurut Dawam, pada masa tersebut hubungan internal maupun lintas organisasi berjalan harmonis.

“KH Hasyim Muzadi berhasil membangun hubungan harmonis, baik di internal NU maupun lintas organisasi dan lintas agama. Pada masa itu, sinergi NU dan Muhammadiyah sangat terasa,” katanya.

Ia juga menilai kiprah internasional NU melalui International Conference of Islamic Scholars (ICIS) menjadi salah satu warisan penting yang perlu diperkuat kembali.

“Peran NU sebagai juru damai dunia sangat relevan, terutama di tengah konflik global yang terus memanas,” ujar Dawam.

Pada era KH Said Aqil Siroj, Dawam melihat fokus organisasi lebih diarahkan pada pembangunan sumber daya manusia dan penguatan pendidikan.

“Era KH Said Aqil ditandai dengan tumbuhnya kampus-kampus NU, pengembangan rumah sakit NU, hingga program beasiswa kader ke luar negeri,” katanya.

Menurut Dawam, langkah tersebut menjadi investasi jangka panjang bagi penguatan peradaban NU dan peningkatan kualitas kader.

Sementara itu, kepemimpinan KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya disebut membawa pembaruan dalam tata kelola organisasi melalui penerapan sistem administrasi satu pintu.

“Manajemen satu pintu membuat tata kelola organisasi lebih tertib, terkontrol dan akuntabel,” ujar Dawam.

Meski dinilai lebih ketat dan birokratis, ia menilai sistem tersebut penting untuk menjaga profesionalisme kelembagaan NU.

Dawam menegaskan kepemimpinan PBNU mendatang harus mampu menggabungkan nilai positif dari empat model kepemimpinan tersebut agar NU tetap relevan menghadapi perubahan zaman.

“NU harus tetap memegang prinsip Al-Muhafadhatu ‘Alal Qadiimish-Sholih Wal Akhdzu Bil Jadiidil Ashlah, menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil inovasi baru yang lebih baik,” katanya.

Ia juga mendorong PBNU memperkuat kerja sama strategis dengan pemerintah, masyarakat sipil, dan dunia internasional dalam membangun kebijakan yang berpihak kepada rakyat.

Menurutnya, kader-kader terbaik NU perlu didorong mengisi berbagai posisi strategis negara, tidak hanya di BUMN tetapi juga pada sektor pengambilan kebijakan nasional lainnya.

“NU harus hadir memberikan kontribusi nyata bagi bangsa melalui kader-kader terbaiknya yang memiliki kapasitas, integritas dan meritokrasi,” tutup Dawam. (rn/*/pzv)

Komentar