Bukittinggi, RANAHNEWS.com — Pelatihan Literasi Media bertajuk Masyarakat Peduli Penyiaran di Grand Bunda Hotel Bukittinggi mendorong peserta beralih dari sekadar pengguna menjadi kreator digital, dengan melibatkan 120 peserta dalam rangkaian kegiatan 3–7 Mei 2026.
Kegiatan yang diinisiasi Anggota DPRD Sumatera Barat dapil 7, Daswippetra, bekerja sama dengan KPID Sumbar ini difokuskan pada peningkatan pemahaman masyarakat terhadap arus informasi digital sekaligus pengembangan kemampuan produksi konten.
Dalam pemaparannya, Daswippetra menyoroti besarnya potensi ekonomi digital di kalangan generasi muda, khususnya pemilih pemula dan Gen Z di Sumatera Barat.
“Pemilih pemula, Gen Z dan yang baru pertama memilih, jumlahnya di Sumbar sekitar dua juta orang. Mereka aktif di media sosial. Kalau rata-rata satu orang menghabiskan Rp10 ribu per hari, berarti sekitar Rp20 miliar berputar atau bahkan menguap setiap hari di ruang digital,” ujarnya.
Ia menilai, masyarakat masih dominan sebagai pengguna, sementara peluang untuk menjadi pelaku di ruang digital belum dimanfaatkan secara optimal.
“Kita ini rata-rata hanya pemakai. Padahal waktu penggunaan gadget bisa sampai delapan jam sehari,” katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan kapasitas di era digital.
“Ini bukan sekadar pelatihan. Ini kegelisahan saya sebagai anggota DPRD. Kita ingin masyarakat berubah, dari hanya konsumsi menjadi produksi,” tegasnya.
Melalui pelatihan ini, peserta tidak hanya mendapatkan materi teori, tetapi juga diarahkan sesuai potensi, mulai dari konten kreator, jurnalis warga, hingga pelaku digital marketing.
“Tidak semua akan jadi, tapi pasti ada yang ‘boneh’. Dari situ bisa lahir mitra KPID, mitra DPRD, bahkan corong masyarakat,” ujarnya.
Selain itu, Daswippetra menyampaikan komitmen untuk mendorong penguatan nilai lokal dalam ruang digital melalui regulasi daerah.
“Kami bersama rekan-rekan di DPRD akan mendorong implementasi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2022 agar segera diturunkan ke dalam bentuk peraturan daerah, khususnya yang menguatkan nilai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK),” katanya.
Ia juga memaparkan data nasional terkait penggunaan internet dan media sosial yang menunjukkan tingginya aktivitas digital masyarakat Indonesia.
“Ini adalah tantangan sekaligus peluang. Tinggal kita pilih, mau jadi penonton atau pemain,” ujarnya.
Pelatihan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu memproduksi dan memanfaatkan teknologi secara produktif. (rn/*/pzv)













Komentar