Mataram, RANAHNEWS.com — Dari semula tak berani membayangkan masa depan hingga berani bercita-cita menjadi pengusaha sawit dan tentara, siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 18 Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), mulai menatap masa depan dengan keyakinan baru. Perubahan itu tumbuh setelah mereka mengenal fasilitas pendidikan dan kehidupan berasrama yang sebelumnya bahkan tidak terbayangkan dalam keseharian mereka.
“Jadi pengusaha sawit,” ujar seorang siswa ketika berbincang dengan Dewan Pengawas LKBN Antara Ramadhan Pohan, Senin (12/10/2026).
“Jadi tentara,” timpal siswa lainnya.
Mendengar jawaban tersebut, Ramadhan memberikan motivasi agar para siswa terus belajar dan berjuang meraih cita-cita.
“Oh, cocoklah. Postur kamu sudah mengarah ke tentara. Semangat belajar, raih cita-cita dan masa depan kalian,” ujarnya.
SRMP 18 Lombok Barat merupakan bagian dari program Sekolah Rakyat yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. Program ini menyasar anak-anak dari keluarga kurang mampu dengan menyediakan akses pendidikan dan fasilitas pendukung yang memadai.
Kepala Sentra Paramita, Arif Rohman, menjelaskan bahwa gedung yang kini digunakan sebagai sekolah rakyat rintisan di Mataram sebelumnya merupakan bangunan Sentra Paramita yang kondisinya nyaris ambruk. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) merehabilitasi bangunan tersebut untuk mendukung pelaksanaan program pendidikan itu.
“Kita dikebut waktu, termasuk menyeleksi siswa dan melakukan sosialisasi untuk meyakinkan masyarakat tentang Sekolah Rakyat. Sasarannya desil 1 dan 2, dan tidak ada paksaan untuk bersekolah di Sekolah Rakyat,” ujar Arif.
Kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dimulai pada 23 Juli 2025 di gedung tersebut. Pada tahap awal, pihak sekolah menghadapi tantangan untuk meyakinkan masyarakat agar bersedia menyekolahkan anak-anak mereka di Sekolah Rakyat.
Kepala SRMP 18 Lombok Barat, Satria, mengatakan respons para siswa berubah setelah mereka mengetahui fasilitas yang disediakan melalui program tersebut.
“Siswa begitu tahu fasilitas Sekolah Rakyat yang digariskan Pak Presiden, siswa di sini menangis semua. Pasalnya, dalam kehidupan sehari-hari mereka, bermimpi pun tidak atas semua yang ada di sekolah ini,” ujar Satria.
Fasilitas yang tersedia meliputi sistem pendidikan berasrama atau boarding school, kamar beserta perlengkapannya, tablet untuk belajar, seragam sekolah, sarapan, makan siang, makan malam, serta meja belajar. Sekolah juga dilengkapi sarana dan prasarana pendukung kegiatan belajar mengajar.
Dewan Pengawas LKBN Antara Wicaksono, yang mengunjungi Sekolah Rakyat tersebut, menilai program ini memberikan kesempatan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu melalui pendidikan gratis dan fasilitas asrama.
“Anak miskin sekolah gratis, tinggal di asrama, diajar oleh pengajar mumpuni. Baru di era Pak Prabowo ada program luar biasa humanisnya,” ujar Wicaksono.
Dalam kunjungan tersebut, Ramadhan Pohan dan Adrian Tuswandi juga mengingatkan para siswa agar memanfaatkan kesempatan belajar untuk membangun masa depan.
Mereka menekankan pentingnya pendidikan sebagai salah satu upaya pemberantasan kemiskinan serta mendorong siswa Sekolah Rakyat untuk berani bermimpi dan berusaha mewujudkan cita-cita mereka. (rn/*/pzv)













Komentar