Padang, RANAHNEWS.com — Pemulihan sarana dan prasarana menjadi kebutuhan utama SMAN 12 Nanggalo, Padang, setelah sekolah tersebut terdampak bencana hidrometeorologi pada 27 November lalu. Kebutuhan mobiler, air bersih, lapangan olahraga, hingga fasilitas ekstrakurikuler disampaikan langsung kepada Wakil Ketua DPRD Sumatera Barat, Evi Yandri Rajo Budiman, dalam kegiatan reses, Jumat (21/8/2026).
Evi Yandri datang ke SMAN 12 Padang untuk menjaring aspirasi dalam rangkaian reses perseorangan DPRD Sumatera Barat masa persidangan ketiga Tahun Sidang 2025-2026.
Salah seorang guru menyampaikan kebutuhan meja, kursi, dan loker untuk menunjang aktivitas sekolah. Fasilitas yang sebelumnya digunakan disebut sudah tidak layak setelah terendam lumpur saat bencana.
“Kami memerlukan meja dan kursi baru, Pak. Fasilitas yang lama sudah tidak layak pakai karena terendam lumpur saat banjir bandang kemarin,” ujar guru tersebut.
Bencana November lalu tidak hanya merendam lingkungan sekolah, tetapi juga meninggalkan endapan lumpur tebal. Saat proses pembersihan pascabencana, Evi Yandri disebut turut datang meninjau kondisi sekolah.
“Saat pembersihan lumpur pascabencana, Pak Evi langsung datang meninjau ke sini. Kami sangat berterima kasih atas kepedulian beliau. Tahun ini, kami juga menerima bantuan laptop dari dana pokok pikiran (pokir) Pak Evi,” kata guru lainnya.
SMAN 12 Padang juga tercatat kembali terdampak banjir pada 3 Agustus lalu, meski air disebut cepat surut. Banjir pada November menjadi yang terparah karena membawa material lumpur ke lingkungan sekolah.

Kondisi banjir turut menjadi perhatian siswa. Mereka berharap ada solusi agar sekolah dan jalan akses menuju lokasi tidak kembali tergenang ketika hujan.
“Pak, mohon dicarikan solusi agar sekolah dan jalan akses ke sini tidak banjir lagi. Kami kesulitan untuk datang belajar,” keluh seorang siswa.
Selain persoalan banjir, sekolah menghadapi kendala ketersediaan air bersih. Air yang digunakan disebut keruh dan berbau besi, bahkan terkadang tidak tersedia untuk kebutuhan wudu dan toilet.
“Air sekolah keruh dan berbau besi, bahkan kadang tidak ada air. Padahal sangat dibutuhkan untuk berwudu dan keperluan toilet,” ungkap seorang siswi.
Pihak sekolah menyebut telah membuat empat sumur bor dengan kedalaman hingga 60 meter untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi seribu lebih siswa dan guru. Namun, air yang dihasilkan masih keruh.
“Kalau menggunakan layanan PDAM airnya jernih, tetapi alirannya sering mati sehingga tidak cukup memenuhi kebutuhan sekolah,” jelas salah seorang guru.
Keterbatasan fasilitas juga terjadi pada lapangan olahraga. Lahan yang tersedia sebagian besar telah digunakan untuk pembangunan gedung baru.
Guru olahraga menyebut kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena pada 2027 sekolah akan menghadapi penilaian akreditasi.
“Tahun 2027 kami menghadapi penilaian akreditasi sekolah. Tanpa lapangan olahraga yang layak, nilai akreditasi kami terancam turun,” keluh guru olahraga.
Keterbatasan lapangan membuat siswa terkadang mengikuti materi olahraga di dalam ruang kelas. Sementara kegiatan ekstrakurikuler seperti futsal dan basket harus dilakukan dengan menyewa lapangan di luar sekolah menggunakan biaya mandiri.
“Sewa lapangan futsal mencapai Rp200 ribu per jam. Kasihan siswa yang punya semangat tinggi untuk berolahraga,” tambahnya.
Siswa juga menyampaikan kebutuhan alat penunjang kegiatan ekstrakurikuler, di antaranya alat musik tradisional talempong dan tenda PMR.

Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Evi Yandri meminta pihak sekolah menyusun perencanaan pembangunan secara matang dan berkelanjutan.
“Harus ada master plan yang jelas. Jangan sampai saat kepala sekolah berganti, kebijakannya ikut berubah. Itu akan menyulitkan pembangunan,” tegas Evi.
Ia mengatakan persoalan fisik sekolah, pengadaan mobiler, fasilitas lapangan, hingga penyediaan air bersih akan dibawa untuk dibahas bersama Dinas Pendidikan Sumbar agar pemenuhan anggarannya dapat dilakukan secara bertahap.
Pada akhir pertemuan, Evi Yandri juga menanyakan respons siswa mengenai kelanjutan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Para siswa meminta program tersebut tetap dilanjutkan dengan catatan pada kualitas makanan.
“Kami ingin program ini lanjut, Pak. Namun kualitasnya harus diperbaiki. Menunya jangan telur terus-menerus, dan kebersihannya harus dijaga,” ujar seorang siswa.

Pertemuan tersebut turut dihadiri Kabid Pembinaan SMA Dinas Pendidikan Sumbar Mahyan, pengawas sekolah, dan Sekcam Nanggalo. (adv)














Komentar