Padang, RANAHNEWS.com — Rumah Makan Goreng Baluik Payakumbuh memasuki usia dua tahun setelah melewati fase pertumbuhan, penurunan omzet selama enam bulan, hingga kembali berkembang dengan omzet rata-rata lebih dari Rp60 juta per bulan.
Usaha kuliner yang berada di Jalan Bypass KM 21, Batipuh Panjang, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, tersebut resmi berdiri pada 23 Agustus 2024.
Sebelum membuka rumah makan, Owner Rumah Makan Goreng Baluik Payakumbuh, Alif Ahmad, terlebih dahulu menjalankan usaha catering melalui bendera Sakato Kuliner. Pengalaman itu kemudian mendorongnya membuka rumah makan dengan menu yang lebih spesifik dan memiliki ciri khas.
“Awalnya saya tidak langsung berpikir untuk membuka rumah makan. Sebelumnya saya memang sudah menjalankan usaha catering di bawah bendera Sakato Kuliner. Dari pengalaman itulah kemudian muncul keinginan untuk memiliki rumah makan yang lebih spesifik dan punya ciri khas sendiri,” ujar Alif.
Pada awal berdiri, rumah makan tersebut mengandalkan menu goreng baluik atau belut, goreng ikan puyu, goreng ikan gabus, dan ayam goreng.
Seiring perjalanan usaha, pilihan menu terus dikembangkan. Kini pelanggan dapat menikmati gulai cincang, gulai ikan salai, gulai telur, sampadeh patin, hingga nila goreng.
“Menu terus kami kembangkan. Kami melihat apa yang dibutuhkan dan disukai pelanggan. Jadi bukan hanya goreng baluik, sekarang sudah ada berbagai menu lainnya,” katanya.
Perjalanan usaha itu sempat menghadapi tekanan ketika memasuki bulan keenam. Setelah pada awal berdiri mencatat perkembangan dan omzet yang cukup baik, omzet kemudian turun cukup jauh dan kondisi tersebut berlangsung sekitar enam bulan.
“Di awal berdiri, Alhamdulillah perkembangannya cukup bagus. Omzet juga lumayan untuk ukuran rumah makan yang baru buka. Tapi memasuki bulan keenam, kondisinya berubah. Omzet turun cukup jauh dan itu berlangsung sekitar enam bulan,” tutur Alif.
Di tengah penurunan tersebut, Alif memilih bertahan sambil melakukan evaluasi dan pembenahan terhadap usaha.
“Waktu omzet turun, tentu ada rasa khawatir. Tapi saya berpikir, kalau usaha baru langsung menyerah ketika menghadapi masalah, kita tidak akan pernah tahu sejauh mana usaha ini bisa berkembang. Jadi kami memilih bertahan, memperbaiki apa yang kurang dan terus mencoba,” ujarnya.
Memasuki tahun kedua, kondisi usaha mulai kembali membaik. Jumlah pelanggan bertambah dan perkembangan rumah makan kembali menunjukkan tren positif.
Saat ini, omzet rata-rata Rumah Makan Goreng Baluik Payakumbuh telah mencapai lebih dari Rp60 juta per bulan.
“Bagi saya, dua tahun ini bukan hanya soal angka omzet. Yang paling penting adalah prosesnya. Kami pernah merasakan masa ramai, pernah juga mengalami penurunan. Dari situ saya belajar bahwa menjalankan usaha itu membutuhkan kesabaran, konsistensi dan keberanian untuk terus mencoba,” katanya.
Memasuki tahun ketiga, Alif menargetkan usaha tersebut terus berkembang. Salah satu target yang ingin diwujudkan adalah membuka cabang baru.
“Sekarang rata-rata omzet sudah lebih dari Rp60 juta per bulan. Tentu kami bersyukur dengan pencapaian ini, tetapi saya tidak ingin berhenti di sini. Tahun ketiga target kami adalah terus berkembang dan mudah-mudahan bisa membuka cabang,” ungkapnya.
Alif berharap Rumah Makan Goreng Baluik Payakumbuh semakin dikenal dan memiliki lebih banyak pelanggan. Ia juga berharap perkembangan usaha dapat membuka kesempatan kerja bagi masyarakat.
“Harapan saya, Rumah Makan Goreng Baluik Payakumbuh semakin dikenal, semakin banyak pelanggan yang datang dan bisa memberikan manfaat, termasuk membuka lapangan pekerjaan bagi lebih banyak orang,” tambahnya. (rn/*/pzv)














Komentar