Tanah Datar, RANAHNEWS.com — Kulit jagung dan sampah daur ulang disulap menjadi kostum kreatif yang mengantarkan Kelompok Wanita Srikandi Lintau meraih Juara I tingkat nagari dalam pawai di Nagari Tanjung Bonai, Kecamatan Lintau Buo Utara, Kabupaten Tanah Datar.
Kostum tersebut dikenakan seorang model cilik saat mengikuti pawai di Nagari Tanjung Bonai, Selasa (18/8/2026). Busana dirancang menggunakan bahan dasar kulit jagung dan sampah yang didaur ulang hingga menjadi pakaian yang layak dan nyaman digunakan.
Desainer sekaligus pemilik Dania Daster, Resty Widia Yanti, mengaku bahagia dan bangga atas prestasi yang diraih karya tersebut.
“Alhamdulillah, saya sangat bahagia dan bersyukur karya yang kami buat bisa meraih juara satu. Apalagi bahan yang digunakan merupakan bahan sederhana yang ada di sekitar kita,” ujar Resty.
Ia menjelaskan, kulit jagung yang digunakan berasal dari tanaman yang ada di sekitar rumah. Bahan yang selama ini dianggap sebagai limbah dikumpulkan, diolah, kemudian dirangkai hingga menjadi busana kreatif.
Menurut Resty, pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai ekonomi merupakan salah satu bentuk kreativitas yang perlu terus dikembangkan. Selain mengurangi sampah, inovasi tersebut juga dapat membuka peluang bagi masyarakat menghasilkan karya yang memiliki nilai jual.
“Kulit jagung yang biasanya dibuang ternyata bisa kita manfaatkan menjadi bahan untuk membuat pakaian. Dengan kreativitas, bahan yang sederhana dan tidak terpakai bisa menjadi sesuatu yang menarik dan bernilai,” katanya.
Resty berharap karya kreatif dari masyarakat, khususnya kaum perempuan dan generasi muda di Tanah Datar, mendapat perhatian serta dukungan dari berbagai pihak.
Ia juga bercita-cita agar kreativitas tersebut berkembang menjadi wadah untuk mencetak model dan penjahit profesional dari Tanah Datar yang mampu bersaing di tingkat yang lebih luas.
“Semoga karya-karya seperti ini mendapat perhatian dan dukungan. Kita ingin dari Tanah Datar lahir model-model cilik yang berbakat sekaligus penjahit dan desainer profesional yang mampu membawa nama daerah,” harapnya.
Prestasi Kelompok Wanita Srikandi Lintau tersebut menunjukkan pemanfaatan bahan sederhana dan limbah dapat menghasilkan karya busana kreatif sekaligus bernilai ekonomi. (rn/*/pzv)














Komentar