Semua Tertimbun Kecuali Solidaritas

Opini125 Dilihat

Oleh: Adrian Tuswandi
Dewan Pakar PWI Pusat dan Ketua JPS

RANAHNES — Gelombang bencana banjir bandang yang melanda Aceh, Sumut, dan Sumbar pada akhir November menyisakan luka mendalam di banyak komunitas. Hujan berhari-hari mencapai puncaknya pada Rabu, 27 November 2025, mengguncang puluhan kampung dan meninggalkan jejak kehancuran yang sulit digambarkan. Rumah tertimbun lumpur, jembatan hanyut, dan warga terpisah dari keluarga mereka dalam sekejap. Namun di tengah puing dan tanah longsor yang menutup segalanya, satu hal justru tumbuh paling subur: solidaritas.

Di berbagai titik terdampak—seperti Salareh Aie, Malalak, Malalo, Jembatan Kamba, Batu Busuk, dan sejumlah wilayah lain, air coklat berarus deras menggulung material kayu dan lumpur. Warga hanya bisa menyaksikan kampung mereka lenyap tersapu gelondongan kayu yang diduga berasal dari aktivitas penebangan liar. Tangis kehilangan terdengar di banyak lokasi: seorang anak menyewa alat berat untuk mencari jasad ibunya, seorang ayah menyingkirkan tanah longsor demi menemukan putrinya, dan keluarga lain terpukul saat kampung mereka tertimbun dalam hitungan menit.

Ratusan korban jiwa ditemukan dalam kondisi pilu. Ribuan rumah tenggelam dalam lumpur tebal dan batang-batang kayu yang menghantam tanpa ampun. Sumatra bagian utara seakan menanggung musibah yang sama: semua tertimbun, kecuali semangat untuk saling menolong.

Sesaat setelah bencana, pohon besar bernama solidaritas tumbuh menjulang. Berbagai kelompok spontan bergerak: relawan independen, komunitas sosial, tokoh publik, hingga warga biasa yang ingin meringankan beban sesama. Aksi kemanusiaan ini dipercepat oleh dokumentasi jurnalis dan unggahan warga di media sosial, yang memperlihatkan betapa dahsyatnya bencana.

Gelombang bantuan kian deras ketika tokoh nasional turun langsung ke lokasi. Presiden Prabowo Subianto mengunjungi para penyintas dan menegaskan bahwa negara harus hadir penuh di daerah terdampak. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan komitmen pemerintah untuk menangani seluruh korban serta memperbaiki infrastruktur yang rusak.

BUMN juga menggerakkan sumber daya mereka. Di bawah koordinasi Dony Oskaria, jajaran perusahaan pelat merah diminta hadir cepat di lapangan. Dony menegaskan bahwa BUMN adalah milik rakyat dan harus menunjukkan kepedulian nyata melalui bantuan yang terukur, terarah, dan berkelanjutan.

Para wakil rakyat dari Sumbar pun bergerak tanpa jeda. Andre Rosiade turun langsung ke berbagai titik mulai dari Padang hingga Salareh Aie untuk memastikan bantuan tersalurkan. Zigo Rolanda mendesak pemulihan instalasi PDAM yang rusak karena banjir bandang, mengingat Padang mengalami krisis air bersih. Legislator lain seperti Rahmat Saleh, Nevi Zuairina, Shadiq Pasadique, Beni Utama, hingga Cindy Monika ikut menggerakkan jaringan mereka meski berasal dari partai berbeda. Solidaritas membuat batas politik melebur.

Dukungan masyarakat luas juga mengalir deras. Para kreator digital asal Minang, seperti Ferry Irwandi, Khairen, dan Pras, mengajak publik berdonasi hingga mencapai Rp10 miliar dalam sehari. Inisiatif serupa datang dari Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang berhasil menggalang Rp85 miliar dalam waktu singkat. Dedi Mulyadi pun tidak ketinggalan, mengumpulkan Rp7 miliar dan langsung membuka posko di Kota Padang.

Ketika kampung-kampung terisolasi dan akses tertutup, solidaritas justru menyatukan Indonesia. Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar bukan lagi bencana daerah; ia menjelma menjadi duka nasional. Masyarakat dari seluruh negeri ikut merasakan pilu, seakan tak rela para penyintas menanggung kesedihan sendirian.

Gelombang solidaritas ini menunjukkan bahwa penanganan banjir bandang membutuhkan kekuatan kolektif. Negara hadir, masyarakat bergerak, publik terlibat: semua menjadi bagian dari upaya besar memulihkan Sumatra bagian utara. Dalam setiap tangan yang membantu, ada harapan baru bahwa tanah bencana ini akan kembali pulih.

Pada akhirnya, lumpur memang menimbun kampung, tetapi tidak bisa menimbun kemanusiaan. Solidaritas tumbuh kekar dan gagah, menaungi tanah yang terluka. Dan dari sinilah kebangkitan dimulai.

Salam tangguh dan bangkit, negeri kami. (***)

Komentar