Lumpur Banjir dan Sejarah Melayu di Aceh Tamiang

News288 Dilihat

Tamiang, RANAHNEWS — Aceh Tamiang masih diselimuti lumpur tebal lebih dari sebulan setelah banjir bandang menerjang wilayah itu. Puing pemukiman, sisa material, dan jejak kehidupan warga masih terlihat di sejumlah titik, menandai besarnya dampak bencana yang melanda kawasan di sepanjang Sungai Tamiang pada akhir November 2025.

Dari Medan, perjalanan darat menuju wilayah terparah terdampak banjir memakan waktu sekitar tiga jam. Di kota pinggir sungai itu, aktivitas pemulihan terus berlangsung dengan melibatkan negara, masyarakat, dan relawan lintas instansi. Puluhan alat berat serta ribuan personel dikerahkan untuk membersihkan lumpur dan memulihkan kehidupan warga.

Guru SDIT Wulandari menuturkan, pada awal bencana hingga beberapa hari pasca-kejadian, sempat muncul kekhawatiran bahwa Aceh Tamiang harus bangkit sendiri.

“Awal bencana hingga dua-tiga hari pascakejadian ada rasa Tamiang dibiarkan bangkit sendiri. Namun kini kami tahu negara dan bangsa Indonesia tidak akan membiarkan Tamiang bangkit sendirian,” ujarnya, Minggu (28/12/2025).

Perubahan mulai terlihat seiring masuknya masa tanggap darurat lanjutan dan transisi pemulihan. Pemerhati bencana banjir Aceh Tamiang, Khairian, menyebutkan kondisi lumpur yang sempat tinggi di banyak wilayah kini berangsur menurun.

“Sekarang setelah Presiden dua kali datang dan BUMN bersatu padu saat tanggap darurat serta masa transisi, banyak kemajuan. Hunian sementara mulai dibangun di dekat Masjid Darussallam oleh BUMN Karya, Himbara, Pertamina, dan PLN,” ujarnya.

Aceh Tamiang berada di wilayah timur Aceh, membentang di sepanjang aliran Sungai Tamiang. Kawasan ini bukan sekadar daerah terdampak bencana, melainkan juga saksi lahirnya salah satu peradaban Melayu tertua di Sumatra. Sejak abad ke-7 Masehi, Sungai Tamiang telah menjadi nadi kehidupan, jalur perdagangan, serta penghubung pedalaman Sumatra dengan Selat Malaka.

Berbagai literatur kuno menyebut keberadaan wilayah makmur dan teratur di pesisir timur Sumatra. Sejumlah sejarawan menduga kawasan tersebut merupakan bagian dari Kerajaan Melayu Tamiang yang telah eksis sejak abad ke-7 Masehi.

Namun, jejak peradaban itu perlahan terkubur oleh perubahan alam dan waktu. Banjir besar Sungai Tamiang berulang kali membawa lumpur yang menutup lapisan demi lapisan pemukiman lama, termasuk bencana besar pada 25 November 2025 yang meninggalkan dampak mendalam.

Penggiat sejarah muda Tamiang, Herdian, menilai lumpur bukan hanya bencana, melainkan juga arsip alam yang menyimpan jejak masa lalu.

“Lumpur bukan sekadar bencana. Ia menyimpan sisa tiang rumah, jalur pelabuhan kuno, hingga artefak yang belum sepenuhnya terungkap,” ujarnya.

Ia menambahkan, tanpa penggalian dan riset serius, lumpur justru menjadi penutup sejarah yang menghilangkan jejak peradaban Melayu awal.

Aceh Tamiang juga menempati posisi penting dalam sejarah awal Islam di Sumatra. Islam datang lebih awal ke wilayah ini dan menyatu dengan adat Melayu melalui jalur perdagangan. Pedagang Arab dan Gujarat tidak hanya membawa komoditas, tetapi juga keyakinan yang diwariskan lintas generasi.

“Tapak Islam awal di Tamiang tidak selalu berbentuk bangunan megah. Ia hidup dalam adat, bahasa, hukum keluarga, dan struktur kepemimpinan lokal yang diwariskan turun-temurun,” kata Herdian.

Perubahan alur sungai, pendangkalan, serta pergeseran pusat ekonomi perlahan membuat Tamiang kehilangan peran strategisnya. Ketika Kesultanan Aceh Darussalam menguat dan kolonialisme datang, kawasan ini kian tersisih. Pelabuhan lama membisu, rumah panggung berpindah, dan jejak peradaban pun tertutup lumpur.

Meski demikian, identitas Melayu Tamiang tetap bertahan dalam bahasa sehari-hari, adat istiadat, pantun, petuah, dan hukum adat Islam yang hidup di tengah masyarakat.

“Sepanjang waktu, Tamiang boleh kehilangan istana dan prasasti, tetapi tidak kehilangan jiwanya,” ujar Khairian, alumni Universitas Sumatra Utara.

Saat ini, Aceh Tamiang tercatat sebagai kabupaten terparah terdampak banjir bandang di Aceh. Di bawah tanahnya, tersimpan cerita peradaban lama yang belum selesai ditulis.

“Tanpa riset arkeologi, dokumentasi sejarah, dan kesadaran kolektif, peradaban Melayu awal ini akan terus terkubur, bukan hanya oleh lumpur, tetapi oleh lupa,” ujarnya.

Sejak dahulu, Tamiang menjadi pengingat bahwa peradaban tidak selalu runtuh oleh perang. Bencana alam juga dapat menenggelamkan sejarah secara perlahan, melalui lumpur, air, dan waktu.

“Namun selama cerita masih dituturkan, sejarah belum benar-benar mati,” ujar seorang tetua kampung di Aceh Tamiang, Minggu sore. (rn/*/pzv)

Komentar