Pak Ce: Gempa 1926 Harus Menjadi Pelajaran Membangun Padang Panjang Tangguh

News25 Dilihat

Padang Panjang, RANAHNEWS.com – Refleksi satu abad Gempa Padang Panjang 1926 harus menjadi titik awal memperkuat budaya kesiapsiagaan bencana, bukan sekadar mengenang tragedi masa lalu. Pesan itu disampaikan Ketua Perkumpulan Jurnalis Keterbukaan Informasi Publik (PJKIP), Rifnaldi, dalam Seminar Internasional Refleksi Satu Abad Gempa Padang Panjang bertema “Padang Panjang Kota Siaga Bencana” di Gedung DPRD Kota Padang Panjang, Senin (29/6/2026).

Seminar yang diselenggarakan PJKIP tersebut dihadiri Wali Kota Padang Panjang Hendri Arnis, Ketua DPRD Imbral, jajaran Forkopimda, anggota DPRD, narasumber dari dalam dan luar negeri, akademisi, tokoh masyarakat, organisasi profesi, insan kebencanaan, serta berbagai elemen masyarakat.

Rifnaldi, yang akrab disapa Pak Ce, mengatakan tahun 2026 menandai genap 100 tahun terjadinya Gempa Padang Panjang 1926, salah satu bencana terbesar dalam sejarah Sumatera Barat yang mengubah wajah kota dan kehidupan masyarakat.

“Sejarah tidak boleh hanya dikenang sebagai cerita masa lalu. Sejarah harus menjadi guru yang membimbing kita membangun masa depan yang lebih aman, lebih tangguh, dan lebih siap menghadapi ancaman bencana,” ujarnya.

Ia menjelaskan, posisi Kota Padang Panjang yang berada di sekitar Sesar Sianok–Sumani, bagian dari Sistem Sesar Sumatera, menjadikan kesiapsiagaan sebagai kebutuhan yang harus dibangun bersama oleh seluruh elemen masyarakat.

Menurut Rifnaldi, seminar internasional tersebut merupakan puncak rangkaian kegiatan yang diawali dengan Focus Group Discussion (FGD) Tahap I dan Tahap II yang membahas berbagai aspek pengurangan risiko bencana.

Pada FGD pertama, para pakar dari bidang geologi, sejarah, mitigasi bencana, tata ruang, pendidikan kebencanaan, hingga kebijakan publik memberikan berbagai masukan. Sementara FGD kedua memperdalam pembahasan melalui diskusi lintas sektor bersama pengurus masjid se-Kota Padang Panjang yang menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis menuju terwujudnya Kota Siaga Bencana.

“Hari ini seluruh gagasan itu kami hadirkan dalam forum internasional agar memperoleh perspektif yang lebih luas sekaligus memperkuat kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, tokoh agama, media, komunitas, dan masyarakat,” katanya.

Ia menegaskan, membangun kota yang tangguh terhadap bencana tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja, melainkan membutuhkan sinergi seluruh unsur masyarakat.

Menurutnya, mitigasi bencana tidak hanya berkaitan dengan pembangunan infrastruktur yang kuat, tetapi juga membangun budaya sadar risiko, budaya siap siaga, budaya saling membantu, serta menempatkan keselamatan sebagai prioritas utama.

“Seminar ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan literasi kebencanaan bagi seluruh lapisan masyarakat, mulai dari pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, organisasi masyarakat hingga generasi muda,” ungkapnya.

Rifnaldi berharap rekomendasi yang dihasilkan dari seminar tersebut dapat menjadi rujukan dalam penyusunan kebijakan pembangunan, pendidikan kebencanaan, penguatan kapasitas masyarakat, serta perencanaan kota yang adaptif terhadap ancaman bencana.

Pada kesempatan itu, ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Padang Panjang atas dukungan terhadap seluruh rangkaian kegiatan refleksi satu abad Gempa Padang Panjang. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada para narasumber, mitra kerja, panitia, media massa, komunitas kebencanaan, dan seluruh peserta.

Menutup sambutannya, Rifnaldi mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan tragedi Gempa 1926 sebagai pelajaran untuk membangun masa depan yang lebih aman.

“Gempa tahun 1926 telah mengajarkan kita arti kehilangan. Seratus tahun kemudian, mari kita buktikan bahwa kita telah belajar. Dari kota yang pernah dilanda bencana, Padang Panjang harus bangkit menjadi contoh dunia sebagai Kota Siaga Bencana,” tegasnya.

Ia menambahkan, bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah, sedangkan kota yang tangguh bukanlah kota yang bebas dari bencana, melainkan kota yang mampu belajar dari setiap peristiwa yang pernah dialaminya.

Seminar internasional tersebut diharapkan menghasilkan rekomendasi dan pemikiran strategis yang dapat mendukung pembangunan Kota Padang Panjang, Sumatera Barat, Indonesia, sekaligus menjadi referensi dalam penguatan budaya kesiapsiagaan bencana di tingkat internasional. (rn/*/pzv)

Komentar