ALKO Dorong Transparansi Rantai Kopi, Nilai Petani Bisa Meningkat

Ekonomi27 Dilihat

Padang, RANAHNEWS.com — Transparansi rantai pasok kopi didorong sebagai langkah strategis untuk meningkatkan nilai jual di tingkat petani, seiring masih lebarnya selisih harga dari hulu ke hilir yang belum sepenuhnya dipahami pelaku usaha di lapangan.

Hal itu disampaikan CEO PT ALKO Sumatra Kopi, Suharyono, saat kegiatan diskusi bersama media di Pangeran Beach Hotel, Padang, Kamis (30/4/2026). Ia menilai keterbukaan informasi menjadi kunci memperkuat posisi tawar petani dalam sistem perdagangan kopi.

“Dalam satu rantai distribusi, terdapat banyak komponen biaya, termasuk logistik yang bisa mencapai miliaran rupiah. Ketika hal ini terbuka, petani akan menyadari bahwa nilai produknya sebenarnya jauh lebih tinggi,” ujarnya.

Ia menegaskan, dengan memahami struktur biaya dan alur distribusi, petani tidak lagi hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi dapat mengambil peran lebih besar dalam sistem ekonomi yang lebih berimbang.

Direktur PT ALKO Sumatra Kopi, Pebriansyah, menambahkan industri kopi memiliki keunggulan karena rantai distribusinya relatif lebih pendek dibanding komoditas lain seperti sawit atau kakao.

“Rantai industri kopi relatif lebih pendek. Dari green bean, bisa langsung di-roasting dan menjadi minuman. Bahkan bisa dilakukan dalam skala kecil. Ini membuat pasar kopi lebih terbuka dan tidak terlalu bergantung pada industri besar,” katanya.

Ia menjelaskan harga kopi juga mengikuti pasar global yang dapat dipantau secara real time, sehingga membuka peluang bagi petani untuk meningkatkan nilai tambah melalui pengolahan dan penguatan merek.

“Value itu yang penting. Ketika petani tidak hanya menjual bahan mentah, tapi juga mengolah, maka nilai ekonominya meningkat,” tambahnya.

Untuk memperkuat posisi petani, ALKO mengembangkan model korporasi berbasis koperasi yang berperan sebagai off-taker sekaligus mendorong hilirisasi di tingkat petani.

Perusahaan tersebut mulai berkembang sejak 2017 dan memperkuat pendekatan profesional melalui pembentukan unit usaha berbasis kesejahteraan anggota. Dukungan awal juga datang dari World Wide Fund for Nature (WWF) dalam pengembangan awal.

Sejak 2019, ALKO juga menerapkan teknologi blockchain yang diperkenalkan mitra dari Jepang, Sasuke Morasaki, guna mendukung transparansi rantai pasok. Dalam perkembangannya, produk ALKO berhasil menembus pasar global dan masuk jaringan Starbucks.

Pembina PT ALKO Sumatra Kopi, Ridwan Tulus, menyebut langkah perusahaan dalam ekspor kopi menjadi terobosan penting di sektor ini.

“PT ALKO Sumatra Kopi mencatat langkah tidak biasa dalam ekspor kopi dengan mengirim 10 ton kopi ke Oman melalui jalur udara. Strategi ini dipilih untuk memenuhi permintaan cepat pasar Timur Tengah, meski biaya logistik jauh melampaui harga produk,” ujarnya.

Selain itu, pengembangan kopi juga dilakukan di wilayah Agam melalui pendampingan kepada petani, termasuk mendorong regenerasi petani milenial dan digitalisasi sektor pertanian.

Saat ini, produksi kopi yang terhimpun dalam koperasi mencapai sekitar 13.000 ton per tahun dari 41.000 anggota. Namun, serapan oleh ALKO di Sumatera Barat masih di bawah 100 ton per tahun.

Dengan meningkatnya permintaan kopi global, ALKO melihat peluang ekspansi pasar ekspor sekaligus memperkuat kesejahteraan petani melalui sistem yang lebih transparan dan berkelanjutan.

“Teknologi dan ekosistem sebenarnya sudah ada. Tantangannya sekarang bagaimana petani memahami nilai produknya dan mengambil peran lebih kuat di pasar,” tutup Suharyono. (rn/*/pzv)

Komentar