Sumbar Cerdas Bertani, Gerakan Rahmat Saleh untuk Regenerasi Petani

Ekonomi366 Dilihat

Padang, RANAHNEWS – Regenerasi petani kian mendesak di Sumatera Barat, di tengah tantangan pangan dan kebutuhan modernisasi pertanian. Anggota Komisi IV DPR RI, Rahmat Saleh, menilai generasi muda harus berani mengambil peran agar sektor ini tidak sekadar bertahan, tetapi berkembang mengikuti tuntutan zaman.

Dalam kegiatan AgriYouth Talks bertema Investasi Masa Depan, Pertanian dan Financial untuk Generasi Muda yang digelar Paten Mekar Tani di Auditorium Gubernuran, Padang, Kamis (18/9/2025), Rahmat memperkenalkan program Sumbar Cerdas Bertani sebagai gerakan nyata untuk melahirkan petani milenial.

“Sumbar Cerdas Bertani bukan sekadar program, tapi gerakan. Petani milenial harus jadi motor penggerak. Kita harus sinkronisasi dan adaptasi karena perkembangan dunia berubah begitu cepat,” ujarnya.

Menurut Rahmat, pola tradisional yang masih dominan membuat biaya produksi tinggi dan hasil tidak efisien. Ia menekankan pentingnya penerapan teknologi sebagai jalan keluar.

“Dengan teknologi, biaya bisa ditekan dan hasil panen meningkat. Adaptasi seperti ini wajib, bukan pilihan. Petani kita harus bekerja cerdas,” katanya.

Rahmat menjelaskan, program tersebut dirancang untuk menjembatani anak muda agar melihat pertanian sebagai bidang usaha menjanjikan. Ia ingin generasi muda berani mengelola lahan, memanfaatkan teknologi, dan membangun jaringan pasar.

“Kita ingin generasi muda melihat pertanian sebagai masa depan, bukan sekadar pekerjaan orang tua,” katanya.

Rahmat juga menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, swasta, akademisi hingga petani sendiri. “Tidak mungkin pertanian maju tanpa kolaborasi. Pemerintah memberi dukungan, swasta menyediakan akses pasar, kampus menyiapkan SDM, dan petani menjalankan praktiknya. Semua harus jalan bersama,” tegasnya.

Gubernur Sumbar Mahyeldi yang hadir pada acara itu menambahkan, kebutuhan pangan terus meningkat, sementara kapasitas produksi belum mampu mengejar.

“Kebutuhan jagung Sumbar per tahun mencapai 2,4 juta ton, sementara produksi lokal baru 40 persen. Ini peluang besar bagi generasi muda untuk terjun langsung,” ujarnya.

Ia juga menyinggung komoditas ekspor seperti gambir dan manggis yang bernilai ekonomi tinggi, namun perlu segera didorong hilirisasinya. “Kalau ingin kaya, jadilah wirausaha pertanian. Jangan hanya bercita-cita jadi pegawai,” tuturnya.

Sementara itu, Direktur Utama Paten Mekar Tani, Ari Irpendi, menyampaikan pihaknya melibatkan mahasiswa untuk belajar langsung praktik pertanian modern.

“Tadi sudah ditandatangani MoU dengan Pemprov Sumbar dan tiga universitas. Mahasiswa akan praktik kerja lapangan selama enam bulan di lahan kami,” jelas Ari.

Ia menyebut saat ini perusahaannya mengelola 250 hektar lahan jagung di Padang Pariaman dengan teknologi modern. “Kami ingin mahasiswa melihat langsung bagaimana pertanian bisa dikelola secara profesional. Tujuannya, mereka berani menjadi agripreneur,” ucapnya. (rn/*/pzv)

Komentar