Ustad Afdholi: Tambang Liar Bisa Datangkan Azab Allah

News53 Dilihat

Jakarta, RANAHNEWS.com — Rusaknya keseimbangan alam akibat eksploitasi tambang liar dan pengerukan sumber daya tanpa rehabilitasi menjadi sorotan dalam Pengajian Malam Idul Adha di Jakarta, Rabu (27/5/2026). Dalam ceramahnya, Dr. Afdholi Ali Rahman, SQ, MA menegaskan Alquran sejak 15 abad lalu telah mengingatkan manusia agar menjaga bumi dan tidak melakukan pengrusakan.

“Ada dua bentuk pengrusakan bumi oleh manusia. Pertama, merusak secara fisik, yaitu mengambil hasil bumi tanpa memikirkan keseimbangan alam,” ujar Ustad Afdholi.

Menurutnya, bumi memang diciptakan Allah SWT untuk kesejahteraan manusia, namun pemanfaatannya tidak boleh dilakukan secara brutal dan wajib memperhatikan keseimbangan ekosistem.

“Pemerintah keras merawat alam, padahal 15 abad lalu Alquran sudah menggarisbawahi menjaga keseimbangan alam. Ketika terjadi bencana, jangan alam yang disalahkan. Itu justru tanda manusia tak mampu menjaga alam,” katanya.

Ia menjelaskan, banyak bencana alam yang terjadi bukan semata-mata kehendak Allah SWT, melainkan akibat ulah manusia yang merusak bumi secara membabi buta melalui pengerukan emas dan batu bara tanpa rehabilitasi, serta penebangan hutan secara masif.

Selain kerusakan fisik, Ustad Afdholi menyebut adanya kerusakan nonfisik berupa perilaku manusia yang mengotori bumi dengan dosa-dosa. Menurutnya, ketika dosa melampaui batas, alam akan menjadi peringatan bagi manusia.

Ia merujuk pada Surat Al-Baqarah ayat 11 tentang manusia yang membuat kerusakan di bumi tetapi merasa sebagai pihak yang memperbaiki. Penegasan serupa, katanya, juga terdapat dalam Surat Luqman ayat 20 mengenai nikmat Allah yang ditundukkan untuk manusia sehingga tidak boleh disia-siakan.

Ustad Afdholi menegaskan konsep halal dalam Alquran selalu berdampingan dengan tayib atau baik. Karena itu, pemanfaatan sumber daya alam yang halal tetap harus dilakukan dengan cara yang baik dan tidak merusak lingkungan.

Ia juga menyinggung maraknya penambangan liar di Sumatra Barat yang viral di berbagai media. Menurutnya, peringatan terhadap praktik tersebut kerap tidak diindahkan.

Hal itu, katanya, sejalan dengan Surat Ar-Rum ayat 41 yang menyebut kerusakan di darat dan laut terjadi akibat ulah tangan manusia agar mereka kembali ke jalan yang benar.

“Musibah yang diturunkan Allah tidak hanya menimpa pelaku pengrusakan alam. Warga yang tidak berdosa pun ikut menjadi korban amukan alam yang dirusak manusia,” ujarnya.

Menurut Ustad Afdholi, musibah memiliki makna berbeda bagi setiap manusia. Bagi orang saleh, musibah adalah ujian. Bagi manusia yang berada di antara kebaikan dan keburukan, musibah menjadi peringatan. Sementara bagi mereka yang mengabaikan peringatan, musibah bisa menjadi “persekot azab”.

“Kepada orang saleh, musibah bermakna ujian. Kepada manusia yang setengah baik dan setengah buruk, musibah adalah peringatan. Tapi kalau musibah menjadi persekot azab, itu ditujukan kepada manusia yang tak mengindahkan peringatan, baik dari pemerintah maupun ahli kitab,” paparnya.

Ia menambahkan, para nabi juga terus diuji meskipun merupakan manusia pilihan Allah SWT. Menurutnya, ujian menjadi bagian dari proses pembentukan manusia yang saleh dan tangguh.

“Seperti kata orang bijak, pelaut hebat lahir dari gelombang dan badai dahsyat. Demikian pula manusia yang berbrevet saleh,” katanya.

Ustad Afdholi juga mengutip Surat Al-Mulk ayat 2 yang menyebut hidup dan mati diciptakan sebagai ujian untuk mengetahui siapa yang terbaik amalnya.

“Hidup adalah ujian. Senang dan susah sama-sama ujian. Manusia mengaku baik, tetapi Allah belum mengakuinya sebelum ia lulus dari ujian,” ujarnya.

Dalam ceramah tersebut, ia menyebut tiga amalan untuk menghadapi dan membendung musibah, yakni memakmurkan masjid, mencintai sesama, dan memperbanyak istigfar.

Pada bagian lain, Ustad Afdholi mengingatkan bahwa Alquran mengatur seluruh kompleksitas kehidupan manusia hingga akhir zaman. Ia menegaskan bahwa merusak alam dan menyakiti makhluk hidup dapat menjadi penghalang seseorang menuju surga.

Ia juga mengingatkan umat Islam yang telah berusia di atas 40 tahun agar tidak sekadar membaca dan menghafal Alquran, tetapi memahami serta mengaktualisasikan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Banyak dari kita yang hanya membaca dan menghafal, tanpa mengaktualkannya. Jangan jadikan ibadah sekadar transaksi pahala,” ujar Adrian, salah seorang jemaah pengajian malam itu.

“Sujudku kepada Allah tak mengharap pahala dan surga; jika itu yang kuharap, benamkanlah aku di neraka-Mu kelak, ya Rabb,” lanjutnya. (rn/*/pzv)

Komentar