Tragedi Glamping Alahan Panjang dan Pentingnya Standar Keselamatan Wisata

Opini993 Dilihat

Oleh: Weli Yusra
(Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat)

RANAHNEWS — Kabar meninggalnya seorang wisatawan asal Padang dan kondisi kritis suaminya setelah menginap di sebuah glamping di Alahan Panjang mengguncang perhatian publik. Peristiwa yang menimpa pasangan pengantin baru tersebut menunjukkan bahwa keselamatan pengunjung harus menjadi bagian utama dari pengelolaan wisata, terutama ketika konsep wisata alam semakin populer.

Informasi medis awal yang beredar menyebut adanya dugaan paparan gas berbahaya yang kemungkinan berasal dari instalasi pemanas air berbahan bakar gas. Keterangan ini masih menunggu penyelidikan resmi aparat dan tim teknis. Namun, dugaan tersebut cukup untuk menegaskan bahwa instalasi gas dan ventilasi yang tidak memenuhi standar dapat menimbulkan risiko serius bagi tamu.

Tragedi ini juga mengungkap kelemahan dalam pengawasan terhadap usaha akomodasi wisata. Gubernur Sumatera Barat telah menyampaikan keprihatinan dan meminta evaluasi menyeluruh terhadap seluruh penginapan wisata di daerah itu. Seruan tersebut relevan, mengingat sebagian pelaku usaha lebih menonjolkan tampilan estetis ketimbang memastikan standar keselamatan, seperti penempatan instalasi gas yang aman, ventilasi memadai, dan sistem peringatan dini.

Di balik persoalan teknis, terdapat tanggung jawab moral yang tidak boleh diabaikan. Wisata bukan semata-mata bisnis, tetapi ruang di mana masyarakat mencari ketenangan dan pengalaman yang aman. Ketika wisatawan datang untuk menikmati alam, mereka memiliki hak untuk memperoleh perlindungan yang layak dari segala potensi bahaya yang seharusnya bisa dicegah.

Pemerintah daerah perlu memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat regulasi dan pengawasan. Pemeriksaan berkala, audit keselamatan, serta standar teknis yang diperbarui harus menjadi keharusan bagi semua penginapan, baik hotel maupun glamping. Tanpa sistem kontrol yang ketat, kejadian serupa berpotensi terulang dan sekaligus merugikan citra pariwisata Sumatera Barat.

Pelaku usaha wisata pun harus meningkatkan komitmen terhadap keselamatan. Upaya sederhana seperti pemasangan alarm karbon monoksida, perbaikan ventilasi, pelatihan penanganan darurat, dan pengecekan berkala instalasi gas dapat memberikan perlindungan besar bagi tamu. Keuntungan usaha tidak boleh berada di atas keselamatan pengunjung.

Duka yang dialami pasangan ini menjadi pengingat bahwa kedekatan dengan alam tidak boleh mengurangi kewaspadaan terhadap risiko keselamatan. Tragedi ini seharusnya membuka mata seluruh pemangku kepentingan bahwa keamanan adalah fondasi utama sebuah destinasi wisata. Wisata tidak akan pernah benar-benar menawarkan keindahan jika keselamatan pengunjung diabaikan. (rn/*/pzv)

Komentar