Nevi Dorong Hilirisasi Aluminium Berbasis Kemandirian Energi

Parlemen91 Dilihat

Pontianak, RANAHNEWS.com — Penguatan hilirisasi aluminium nasional menjadi sorotan dalam Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VI DPR RI ke Pontianak pada medio Februari 2026. Proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat, ditegaskan harus menjadi fondasi industri bernilai tambah, bukan sekadar fasilitas pengolahan bahan mentah.

Anggota DPR RI Fraksi PKS, Nevi Zuairina, menyatakan keberhasilan SGAR perlu diukur dari kemampuannya mendorong tumbuhnya industri turunan aluminium di dalam negeri.

Menurutnya, Indonesia tengah memasuki fase transformasi dari pengekspor bahan mentah menjadi negara industri bernilai tambah tinggi. Karena itu, sinergi antara BP BUMN, Antam, Inalum, PT Borneo Alumina Indonesia, serta pengelola kawasan industri dinilai krusial agar hilirisasi berjalan terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Dalam kunjungan tersebut, ia menekankan pentingnya sinkronisasi pendanaan antar fase proyek, penguatan ketahanan pasokan bahan baku, serta keberpihakan pada kebutuhan domestik sebelum ekspor.

“Strategi mitigasi risiko terhadap fluktuasi harga alumina global sangat penting agar keberlanjutan proyek tetap terjaga secara finansial dan tidak hanya bergantung pada siklus komoditas dunia,” ujarnya.

Aspek energi juga menjadi perhatian. Ia menilai industri alumina dan aluminium membutuhkan jaminan pasokan listrik stabil selama 24 jam dengan tarif kompetitif agar mampu bersaing di pasar global.

“Ketika industri sudah berjalan, listrik tidak boleh menjadi titik lemah. Pasokan energi harus pasti, berkelanjutan, dan mendukung efisiensi biaya produksi,” katanya.

Selain itu, ia mendorong pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab, terutama terkait limbah red mud, serta percepatan transfer teknologi agar tenaga kerja Indonesia mampu menjadi operator utama industri pengolahan mineral strategis tersebut.

Nevi juga menilai Kalimantan Barat berpeluang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru melalui pengembangan kawasan industri aluminium terpadu yang melibatkan UMKM, tenaga kerja lokal, dan sektor pendukung lainnya.

“Kita tidak boleh berhenti di alumina. Target akhirnya adalah industri aluminium nasional yang kuat, mandiri, dan mampu menjadi bagian dari rantai pasok global, termasuk untuk kebutuhan energi masa depan dan kendaraan listrik,” tutupnya. (rn/*/pzv)

Komentar