METI Sumbar Resmi Dilantik, Siap Kawal Transisi Energi Bersih

News111 Dilihat

Padang, RANAHNEWS.com — Kepengurusan Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Wilayah Sumatera Barat resmi dilantik di Auditorium Istana Gubernuran Sumbar, Jumat (6/2/2026), sebagai upaya mengawal transisi energi bersih di daerah yang memiliki potensi energi baru terbarukan hampir lengkap.

Pelantikan pengurus METI Sumbar dilakukan langsung oleh Ketua METI Pusat Zulfan Zahar dan disaksikan Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah, Kepala Dinas ESDM Sumbar Helmi Heriyanto, perwakilan PT PLN, jajaran organisasi perangkat daerah, akademisi, serta pelaku sektor energi.

METI Sumbar dipimpin Dr. Ir. Firman Hidayat, MT, dosen Fakultas Kehutanan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, dengan posisi Sekretaris Jenderal dijabat Fauzi. Kepengurusan ini terbentuk di tengah tantangan transisi energi yang masih dihadapkan pada penolakan sosial, ketidakpastian investasi, dan konflik informasi.

Ketua METI Pusat Zulfan Zahar menyebut METI Sumbar merupakan pengurus wilayah kedua dari 18 kepengurusan daerah yang akan dibentuk di seluruh Indonesia.

“Ini pengurus wilayah kedua dari 18 METI wilayah yang akan segera diresmikan di seluruh Indonesia,” ujar Zulfan.

Ia menyampaikan METI tengah dikembangkan sebagai organisasi yang tidak hanya berperan di tingkat pusat, tetapi juga menjadi penggerak ekosistem energi terbarukan di daerah.

“Kami ingin METI menjadi semacam KADIN-nya energi terbarukan, bukan hanya berbicara di jajaran direksi BUMN,” katanya.

Zulfan juga menjelaskan bahwa METI Pusat tengah menyiapkan pembentukan 20 METI Energi Muda berbasis perguruan tinggi untuk melibatkan generasi muda dalam transisi energi.

“Pelaku transisi energi ke depan adalah anak-anak muda. Mereka harus disiapkan sejak sekarang,” tegasnya.

Ia mengungkapkan hasil diskusi di lingkungan kampus yang mencatat sekitar 28 perusahaan energi di Sumatra dicabut izinnya pascabencana ekologis di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

“Ini berbahaya, tapi juga sinyal bahwa ada masalah serius dalam pengelolaan dan iklim investasi,” ujarnya.

Zulfan berharap METI wilayah dapat berperan sebagai think tank di tingkat provinsi, termasuk dalam pengawasan pembangunan energi, seperti rencana pembangkit air berkapasitas sekitar 111 megawatt di Sumatra Barat.

“Jangan sampai salah pengelolaan konstruksi dan memicu longsor. METI Sumbar harus ikut mengawasi pelaksanaannya,” katanya.

Ketua METI Sumbar Firman Hidayat menyebut pelantikan tersebut sebagai hasil kerja panjang pegiat energi baru terbarukan di Sumatra Barat.

“Tiga tahun lalu kami sudah hadir dan menghimpun pegiat EBT di Sumatra Barat. Alhamdulillah, kami berhasil mengumpulkan nan taserak,” ujarnya.

Menurut Firman, transisi energi mencakup aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial budaya masyarakat.

“EBT bukan hanya idealisme lingkungan. Ia juga bicara bisnis, nilai ekonomi, SDGs, dan pengembangan sosial budaya masyarakat,” katanya.

Ia menegaskan kesiapan METI Sumbar untuk mendampingi pemerintah daerah, termasuk dalam pengawalan kebijakan tata ruang.

“Ke depan, seluruh RTRW kabupaten/kota hingga provinsi harus mengakomodasi pengembangan EBT. Kami siap menyiapkan kajian pengembangan energi baru terbarukan Sumatra Barat,” tegasnya.

Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah menyatakan energi baru terbarukan merupakan bagian dari perlindungan lingkungan dan kesehatan masyarakat.

“Energi fosil terbatas dan berdampak negatif. Sementara EBT bersih dan potensinya melimpah,” ujarnya.

Mahyeldi menyebut hingga 2025 bauran energi baru terbarukan di Sumatra Barat telah mencapai 32 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional.

“Ini pernah saya sampaikan langsung ke Presiden Jokowi,” katanya.

Ia mengakui masih adanya tantangan sosial, termasuk penolakan terhadap pengembangan panas bumi, yang menurutnya sering dipicu oleh informasi yang tidak utuh.

“Di Ijen dan Kamojang masyarakat justru diuntungkan. Jadi saya heran kenapa di sini ditolak,” ujarnya.

Mahyeldi berharap METI dapat menjadi ruang penjernihan informasi publik terkait pengembangan energi bersih di Sumatra Barat.

“Kita ingin Sumatra Barat menjadi Green Province. Surya, air, geothermal, hingga potensi laut dan Mentawai harus dikembangkan secara benar,” katanya. (rn/*/pzv)

Komentar