Padang, RANAHNEWS.com — Supri Ardi kembali dipercaya menjadi narasumber utama dalam kegiatan Pendidikan Politik bagi Tokoh Masyarakat Kabupaten Pasaman dan Pasaman Barat yang digelar Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Sumatera Barat di Hotel Rocky Padang, 18–20 Mei 2026. Dalam forum tersebut, ia membahas tantangan demokrasi di era kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Penggiat media sosial berbasis AI asal Sumatera Barat itu membawakan materi bertajuk “AI dan Masa Depan Politik: Memahami Peran, Tanggung Jawab, dan Strategi Menghadapi Tantangan Politik di Era Digital”.
Dalam pemaparannya, Supri Ardi menegaskan bahwa AI kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam dunia politik dan media sosial.
“Dulu orang berpikir AI hanya ada di film-film. Hari ini AI sudah masuk ke ruang politik, media sosial, ekonomi, pendidikan, bahkan cara manusia mengambil keputusan,” ujarnya di hadapan peserta.
Ia menjelaskan, kecerdasan buatan saat ini mampu menciptakan tulisan, gambar, video, suara, hingga simulasi percakapan manusia dengan tingkat presisi tinggi. Menurutnya, teknologi tersebut dapat menjadi sarana pendidikan demokrasi, namun juga berpotensi digunakan sebagai alat propaganda.
“Di era AI, kebohongan bisa terlihat lebih meyakinkan daripada kebenaran,” katanya.
Supri juga memaparkan ancaman teknologi deepfake yang dapat menghasilkan video dan suara palsu tokoh publik dengan kualitas menyerupai aslinya. Teknologi itu dinilai berpotensi memicu manipulasi opini publik hingga konflik sosial.
“Bayangkan jika suatu hari muncul video seorang tokoh agama atau kepala daerah mengucapkan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ia katakan. Dalam hitungan menit, video itu bisa menyebar ke ribuan grup WhatsApp dan media sosial,” jelasnya.
Selain itu, ia menyoroti penggunaan bot dan algoritma media sosial yang dapat menggiring emosi masyarakat secara sistematis. Menurutnya, masyarakat yang tidak memiliki literasi digital akan lebih mudah terpengaruh konten manipulatif.
“Perang politik hari ini bukan lagi hanya perang gagasan, tapi perang algoritma,” tegasnya.
Meski demikian, Supri menilai AI tidak semata menjadi ancaman. Ia menyebut teknologi tersebut juga memiliki potensi besar untuk memperkuat demokrasi dan memperluas akses pendidikan politik masyarakat.
“AI bisa membantu demokrasi menjadi lebih inklusif jika digunakan dengan hati nurani,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga nilai budaya Minangkabau di tengah derasnya arus digitalisasi. Menurutnya, budaya musyawarah, adab, dan marwah sosial menjadi kekuatan penting menghadapi perkembangan teknologi.
“Jangan sampai teknologi membuat kita kehilangan jati diri sebagai urang Minang yang badunsanak,” katanya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Guru Besar Ilmu Politik Universitas Andalas Prof. Dr. Asrinaldi, M.Si, Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Sumatera Barat Mursalim, AP., M.Si, Praktisi dan Motivator Nasional Muhammad Ilham Akbar, S.Psi., C.H., C.Ht, Kepala Bidang Politik Dalam Negeri Kesbangpol Sumbar Aschari Cahyaditama, S.STP., M.Soc.Sc., Ph.D, serta Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat H. Muzli M. Nur, S.Pd.
Peserta yang terdiri atas tokoh masyarakat, tokoh adat, pemuda, dan unsur masyarakat dari Kabupaten Pasaman dan Pasaman Barat tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
Salah seorang peserta, Weni, mengaku memperoleh wawasan baru terkait perkembangan AI dan ancaman manipulasi digital.
“Kami baru tahu ternyata AI bisa membuat video palsu yang sulit dibedakan. Materi seperti ini sangat penting agar masyarakat tidak mudah terprovokasi,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Sumatera Barat Mursalim menegaskan pendidikan politik harus menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi informasi.
“Kita tidak ingin masyarakat menjadi korban manipulasi informasi. Karena itu pendidikan politik harus diperkuat dengan literasi digital,” katanya.
Menurut Mursalim, keterlibatan narasumber muda seperti Supri Ardi menjadi energi baru dalam pendidikan politik di Sumatera Barat.
Pada kesempatan yang sama, Prof. Dr. Asrinaldi, M.Si menilai demokrasi yang sehat hanya dapat terwujud melalui masyarakat yang kritis dan matang secara digital.
“Teknologi itu netral. Yang menentukan baik atau buruk adalah manusia yang menggunakannya,” ujar Prof. Asrinaldi. (rn/*/pzv)













Komentar