Firdaus: Dari Aktivis Sosial ke Panggung Politik

Politik37 Dilihat

Oleh : Prof. Duski Samad

RANAHNEWS.com — Kepemimpinan yang berakar dari pengabdian sosial kerap melahirkan figur yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. Dalam konteks ini, Firdaus, SH.I, menunjukkan pola tersebut, yakni menapaki jalur sosial sebelum memasuki dunia politik sebagai ruang pengabdian yang lebih luas.

Firdaus dikenal sebagai Ketua DPW Persatuan Keluarga Daerah Piaman (PKDP) Sumatera Barat dan anggota DPRD Sumatera Barat. Ia juga terlibat dalam dukungan terhadap penerbitan buku Ensiklopedia Tuanku dan Warisan Syekh Burhanuddin Ulakan oleh Yayasan Islamic Centre Syekh Burhanuddin Padang Pariaman. Fakta ini menegaskan keterlibatannya dalam aktivitas organisasi, sosial, dan penguatan literasi keislaman.

Perjalanan Firdaus memperlihatkan bahwa kepemimpinan tidak terbentuk secara instan. Ia tumbuh melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan kemasyarakatan dan keumatan. Proses ini menjadi fondasi dalam membangun kepercayaan publik sekaligus memperkuat legitimasi sosial.

Dalam praktiknya, Firdaus dikenal memiliki kemampuan komunikasi yang luwes dan terbuka. Ia mampu menjalin relasi lintas kelompok serta menjembatani berbagai kepentingan. Kemampuan ini menjadi modal penting dalam membangun kepemimpinan yang berbasis kepercayaan dan kedekatan sosial.

Keterlibatan Firdaus juga tampak dalam upaya pelestarian sejarah keulamaan Minangkabau, khususnya warisan Syekh Burhanuddin Ulakan. Dukungan terhadap penerbitan ensiklopedia tersebut menunjukkan perhatian pada penguatan identitas intelektual dan spiritual masyarakat. Hal ini memperlihatkan bahwa pembangunan tidak hanya berorientasi pada kebijakan praktis, tetapi juga pada penguatan nilai dan sejarah.

Selain itu, perannya sebagai Ketua PKDP Sumatera Barat menempatkannya dalam posisi strategis di organisasi kekerabatan masyarakat Pariaman. Organisasi ini menjadi wadah silaturahmi, solidaritas sosial, dan penguatan identitas. Peran tersebut menunjukkan kapasitasnya dalam mengelola organisasi berbasis kultural yang menjadi bagian penting dalam tradisi kepemimpinan Minangkabau.

Masuknya Firdaus ke dunia politik dapat dipahami sebagai kelanjutan dari aktivitas sosial yang telah dijalankannya. Politik, dalam hal ini, bukan sekadar arena kompetisi, tetapi sarana memperluas manfaat bagi masyarakat. Dalam hadis Nabi Muhammad SAW disebutkan, “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban” (HR Bukhari dan Muslim). Rujukan ini menegaskan bahwa kepemimpinan memiliki dimensi moral yang kuat.

Dari sisi karakter, Firdaus dinilai memiliki energi sosial, kemampuan komunikasi adaptif, serta kedekatan dengan masyarakat. Dalam kajian sosiologi, pendekatan ini dikenal sebagai relational leadership, yaitu kepemimpinan yang bertumpu pada hubungan sosial dan kepercayaan.

Nilai tersebut sejalan dengan falsafah Minangkabau yang menempatkan pemimpin sebagai bagian dari masyarakat. Pepatah “didahulukan selangkah, ditinggikan seranting” menegaskan bahwa pemimpin hadir untuk memberi arah, bukan menciptakan jarak. Dengan demikian, kepemimpinan yang dekat dengan masyarakat menjadi kunci dalam menjaga kepercayaan publik.

Di tengah dinamika politik modern, figur yang tumbuh dari aktivisme sosial menghadirkan harapan terhadap praktik politik yang lebih berorientasi pada pengabdian. Kepercayaan masyarakat menjadi faktor utama yang menentukan keberlanjutan kepemimpinan, bukan semata kekuasaan.

Tanpa mengubah isi dan substansinya, penting untuk terus memperkuat peran kepemimpinan berbasis sosial ini melalui konsistensi tindakan, perluasan manfaat, serta komitmen menjaga nilai-nilai yang telah dibangun. Pendekatan ini dapat menjadi rujukan dalam mendorong lahirnya kepemimpinan yang responsif dan berorientasi pada kepentingan publik.

Pada akhirnya, perjalanan Firdaus menunjukkan bahwa transisi dari aktivisme sosial ke politik merupakan perluasan peran pengabdian. Keterlibatan dalam organisasi, dukungan terhadap pelestarian sejarah keulamaan, serta aktivitas sosial yang konsisten memperlihatkan bahwa orientasi pengabdian tetap menjadi fondasi utama.

Sejarah mencatat bahwa yang bertahan bukan hanya kekuasaan, tetapi kontribusi. Sebagaimana hadis Nabi Muhammad SAW, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR Ahmad). Prinsip ini menegaskan bahwa kepemimpinan yang berakar pada pengabdian akan memiliki relevansi jangka panjang bagi masyarakat. (***)

Komentar