Akademisi Apresiasi Huntara Danantara untuk Penyintas Aceh

Nasional136 Dilihat

Aceh, RANAHNEWS.com — Pembangunan Rumah Hunian Sementara (Huntara) Danantara bagi penyintas bencana di Aceh mendapat apresiasi dari kalangan akademisi. Mereka menilai upaya tersebut mencerminkan komitmen kemanusiaan dan menjadi langkah awal penting dalam proses pemulihan masyarakat terdampak bencana.

Akademisi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Esa Unggul, Dr. Iswadi, M.Pd., menyampaikan bahwa pembangunan hunian sementara merupakan wujud nyata kepedulian pemerintah dan para pemangku kepentingan dalam memastikan penyintas dapat kembali menjalani kehidupan secara aman, layak, dan bermartabat.

Menurut Iswadi, hunian sementara tidak semata berfungsi sebagai tempat berlindung, tetapi juga menjadi ruang awal pemulihan fisik, sosial, dan psikologis bagi masyarakat terdampak bencana.

“Saya berharap pembangunan ini terus dilakukan secara berkelanjutan, berorientasi pada kebutuhan masyarakat, serta disertai perencanaan matang menuju hunian tetap. Semoga ikhtiar ini menjadi amal kebaikan dan memperkuat semangat kebersamaan dalam membangun Aceh yang tangguh,” ujarnya, Jumat (2/2/2026).

Ia juga menyarankan agar pembangunan Huntara mengacu pada standar hunian sementara yang pernah diterapkan pascabencana tsunami Aceh. Standar tersebut dinilai telah teruji dalam aspek keamanan, kelayakan huni, kesehatan lingkungan, serta pemenuhan kebutuhan sosial masyarakat terdampak.

“Dengan menerapkan standar yang telah teruji, hunian sementara tidak hanya menjadi tempat tinggal darurat, tetapi juga mampu mendukung proses pemulihan yang lebih baik dan bermartabat,” tambah Iswadi.

Apresiasi serupa disampaikan Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Budi Luhur sekaligus Pengurus Pusat Taman Iskandar Muda (PPFTIM), Umaimah Wahid. Ia menilai hunian merupakan kebutuhan mendasar yang sangat krusial bagi masyarakat korban bencana di Aceh.

“Langkah pemerintah ini patut diapresiasi. Namun, perhatian tidak boleh berhenti pada pembangunan rumah sementara saja,” ungkap Umaimah.

Menurutnya, pemerintah juga perlu memikirkan pemulihan aspek ekonomi masyarakat, terutama bagi warga yang kehilangan mata pencaharian akibat bencana.

“Salah satu yang hilang adalah sawah dan lahan usaha yang tertutup lumpur. Ini perlu menjadi perhatian agar masyarakat bisa bangkit secara menyeluruh,” katanya.

Sebagaimana diketahui, Presiden RI Prabowo Subianto pada Kamis (1/1/2026) meninjau langsung pembangunan Rumah Hunian Danantara di Kabupaten Aceh Tamiang. Huntara tersebut dibangun untuk memastikan pemulihan dan keberlanjutan kehidupan masyarakat terdampak bencana.

Pembangunan Huntara dimulai pada 24 Desember 2025 dan menunjukkan percepatan signifikan. Sebanyak 600 unit dijadwalkan diserahkan kepada pemerintah daerah pada 8 Januari 2026 untuk kemudian diberikan kepada warga terdampak. Secara keseluruhan, pembangunan ditargetkan mencapai 15.000 unit dalam waktu tiga bulan ke depan.

Danantara Indonesia menyampaikan bahwa Huntara dibangun sesuai standar kelayakan hunian darurat, dengan struktur aman dan sanitasi memadai. Fasilitas pendukung seperti klinik, taman bermain, serta akses listrik dan internet juga disediakan tanpa biaya.

Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa capaian pembangunan hingga awal 2026 merupakan hasil kerja keras dan sinergi lintas pihak, khususnya peran aktif BUMN dalam pelaksanaan di lapangan.

“Target pembangunan Rumah Hunian Danantara di Aceh Tamiang telah ditetapkan secara jelas sejak awal. Capaian hingga 1 Januari 2026 menunjukkan komitmen kuat seluruh pihak untuk menepatinya, meski bekerja dalam kondisi yang tidak mudah,” jelas Rosan. (rn/*/pzv)

Komentar