Negara Kecil, Mimpi Besar: Pelajaran Cabo Verde untuk Masa Depan Indonesia

Opini32 Dilihat

Oleh: Dr. Syamsul Bahri, M.M.

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Eka Sakti (UNES) Padang

Wakil Ketua APIMSA Sumatera Barat

RANAHNEWS.com — Tidak semua pelajaran tentang kemajuan bangsa lahir dari negara besar. Terkadang, inspirasi justru datang dari negara kecil yang jarang menjadi perhatian dunia. Pengalaman itu saya rasakan ketika menyaksikan pertandingan sepak bola antara Argentina dan Cabo Verde. Meski akhirnya kalah, Cabo Verde tampil disiplin, berani, dan mampu memberikan perlawanan sengit kepada juara dunia tersebut. Pertandingan itu memunculkan pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar hasil akhir: bagaimana negara kecil dengan segala keterbatasannya mampu tampil begitu percaya diri di panggung internasional?

Rasa ingin tahu membawa saya menelusuri berbagai literatur tentang Cabo Verde. Semakin banyak membaca, semakin jelas bahwa kekuatan negara kepulauan di Samudra Atlantik itu bukan bertumpu pada kekayaan alam, melainkan pada kualitas manusianya.

Fakta menunjukkan bahwa Cabo Verde merupakan negara dengan penduduk kurang dari satu juta jiwa. Wilayahnya berupa gugusan pulau yang kering, lahan pertaniannya terbatas, serta hampir tidak memiliki cadangan minyak, gas, maupun mineral strategis. Negara ini juga mewarisi sejarah panjang sebagai koloni Portugis dan salah satu pusat perdagangan budak trans-Atlantik.

Dalam kondisi seperti itu, banyak negara mungkin memilih bergantung pada bantuan luar atau menerima keterbatasan sebagai takdir. Cabo Verde mengambil jalan berbeda. Sejak merdeka, pemerintah menempatkan pendidikan, kesehatan, dan penguatan institusi sebagai prioritas pembangunan. Akses pendidikan diperluas, layanan kesehatan ditingkatkan, serta tata kelola pemerintahan dibangun lebih bersih dan stabil.

Kebijakan tersebut tidak menghasilkan perubahan secara instan, tetapi perlahan membentuk fondasi yang kokoh. Fakta menunjukkan bahwa Cabo Verde kini termasuk negara dengan Indeks Pembangunan Manusia tertinggi di Afrika. Harapan hidup masyarakat meningkat, demokrasi berjalan relatif stabil, dan sektor jasa, terutama pariwisata, transportasi, serta ekonomi maritim, menjadi penggerak utama perekonomian. Diaspora Cabo Verde di Eropa dan Amerika Utara juga berkontribusi melalui remitansi, investasi, dan transfer pengetahuan.

Bagi saya, keberhasilan itu menunjukkan bahwa prestasi olahraga bukanlah titik awal kemajuan suatu bangsa, melainkan salah satu hasil dari pembangunan manusia. Atlet yang mampu bersaing di tingkat dunia lahir dari sistem pendidikan yang baik, masyarakat yang sehat, organisasi yang profesional, dan investasi jangka panjang yang dilakukan secara konsisten.

Refleksi tersebut membawa saya pada Indonesia. Kita memiliki wilayah yang luas, kekayaan alam melimpah, dan jumlah penduduk yang besar. Namun, pertanyaan yang perlu dijawab adalah apakah kebesaran itu telah dibangun di atas fondasi yang paling menentukan, yaitu kualitas manusia. Pelajaran terbesar dari Cabo Verde bukanlah cara mereka bermain sepak bola, melainkan keberanian menjadikan manusia sebagai pusat pembangunan.

Keberhasilan Cabo Verde bukanlah pengecualian. Sejarah modern menunjukkan bahwa banyak negara kecil mampu melampaui negara yang lebih besar karena memilih membangun manusia terlebih dahulu. Mereka membuktikan bahwa keterbatasan sumber daya bukan penghalang untuk menjadi bangsa yang maju apabila pendidikan, kesehatan, dan tata kelola ditempatkan sebagai prioritas.

Keberhasilan Cabo Verde sesungguhnya bukanlah sebuah anomali. Sejarah memperlihatkan bahwa banyak negara kecil mampu melampaui negara-negara yang lebih besar karena memilih membangun manusia sebagai fondasi pembangunan. Mereka tidak bertumpu pada luas wilayah atau kekayaan alam, melainkan pada kualitas pendidikan, tata kelola, serta investasi jangka panjang terhadap sumber daya manusia.

Fakta menunjukkan bahwa Islandia, dengan jumlah penduduk sekitar 400 ribu jiwa, mampu mencatat prestasi luar biasa ketika lolos ke putaran final Piala Dunia dan menyingkirkan Inggris pada Piala Eropa 2016. Keberhasilan tersebut lahir dari pembinaan olahraga sejak usia dini, pendidikan yang berkualitas, pelatih bersertifikat, dan kesempatan yang sama bagi setiap anak untuk berkembang. Di negara itu, olahraga dipandang sebagai bagian dari pembentukan karakter.

Kroasia juga menempuh jalan yang serupa. Meski berpenduduk kurang dari empat juta jiwa dan pernah dilanda konflik berkepanjangan, negara ini mampu menjadi finalis Piala Dunia 2018 serta kembali mencapai semifinal pada edisi berikutnya. Keberhasilan tersebut merupakan hasil pembangunan institusi, pendidikan, dan pembinaan generasi muda yang dilakukan secara konsisten.

Pola yang sama terlihat di Slovenia dan Uruguay. Slovenia berhasil melahirkan atlet-atlet berkelas dunia di berbagai cabang olahraga seiring kemajuan pendidikan, pelayanan publik, serta investasi pada riset dan inovasi. Uruguay, meskipun hanya berpenduduk sekitar tiga setengah juta jiwa, terus mempertahankan tradisi melahirkan pesepak bola berkualitas. Kedua negara itu menunjukkan bahwa jumlah penduduk bukanlah faktor utama penentu prestasi.

Keberhasilan tersebut juga tampak di luar dunia olahraga. Singapura yang miskin sumber daya alam menjelma menjadi pusat keuangan dan inovasi dunia melalui investasi berkelanjutan pada pendidikan, riset, tata kelola pemerintahan, dan pengembangan sumber daya manusia. Finlandia pun berhasil menjadi rujukan dunia dalam bidang pendidikan dengan meningkatkan kualitas guru, membangun budaya membaca, dan menjaga pendidikan sebagai prioritas nasional lintas pemerintahan.

Benang merah dari seluruh kisah tersebut sangat jelas. Mereka tidak memulai pembangunan dengan bertanya apa yang dimiliki, melainkan manusia seperti apa yang ingin dibentuk. Dari pertanyaan itulah arah kebijakan publik ditentukan.

Fakta tersebut sejalan dengan pemikiran ekonom peraih Nobel, Theodore W. Schultz, yang menegaskan bahwa investasi terbesar suatu bangsa bukanlah mesin atau infrastruktur fisik, melainkan manusia. Pendidikan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, produktivitas, serta kemampuan beradaptasi sehingga menjadi investasi yang memberikan manfaat ekonomi dan sosial dalam jangka panjang.

Pandangan itu diperdalam oleh Amartya Sen melalui pendekatan capability. Menurut Sen, tujuan pembangunan tidak sekadar meningkatkan pendapatan, tetapi memperluas kemampuan manusia untuk belajar, berkarya, berinovasi, dan menjalani kehidupan yang lebih bermakna. Pendidikan menjadi instrumen utama untuk memperluas kemampuan tersebut.

Dari perspektif itu, prestasi olahraga hanyalah salah satu indikator keberhasilan pembangunan manusia. Atlet hebat tidak lahir secara kebetulan. Mereka tumbuh dari keluarga yang sehat, sekolah yang berkualitas, pelatih yang kompeten, organisasi yang profesional, serta lingkungan yang menghargai proses. Dengan demikian, prestasi olahraga bukanlah keajaiban, melainkan hasil dari investasi panjang pada manusia.

Pelajaran inilah yang menurut saya masih sering diabaikan oleh banyak negara berkembang. Kita cenderung mengagumi hasil, tetapi kurang sabar membangun proses. Kita ingin memiliki atlet kelas dunia, ekonomi yang maju, dan inovasi yang kuat, tetapi belum sepenuhnya menjadikan pendidikan, kualitas guru, riset, dan ilmu pengetahuan sebagai prioritas utama. Padahal, sejarah membuktikan bahwa bangsa yang mampu bertahan dalam persaingan global bukanlah yang paling kaya sumber daya alam, melainkan yang paling kaya sumber daya manusia.

Pelajaran dari Cabo Verde pada akhirnya mengarah pada satu pertanyaan penting bagi Indonesia. Dengan wilayah yang luas, kekayaan alam yang melimpah, dan bonus demografi yang besar, sudahkah kita benar-benar menempatkan pembangunan manusia sebagai prioritas utama?

Fakta menunjukkan bahwa hampir seluruh bangsa yang berhasil mengubah nasibnya memulai perubahan dari pendidikan. Mereka berbeda dalam budaya, bahasa, dan sistem politik, tetapi memiliki kesamaan dalam menempatkan pendidikan sebagai investasi paling strategis. Di era ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge economy), daya saing bangsa tidak lagi ditentukan oleh banyaknya sumber daya alam, melainkan oleh kemampuan manusia menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi.

Sayangnya, pendidikan masih sering dipandang sebagai sektor yang menghabiskan anggaran, sedangkan pembangunan fisik lebih mudah dijadikan ukuran keberhasilan. Padahal, infrastruktur tanpa didukung manusia yang berkualitas hanya akan menghasilkan pertumbuhan yang rapuh. Jalan, pelabuhan, bandara, dan gedung memang mempercepat aktivitas ekonomi, tetapi tidak akan melahirkan inovasi apabila manusianya tidak memiliki pengetahuan, keterampilan, karakter, dan etos kerja yang kuat.

Menurut saya, pembangunan fisik dan pembangunan manusia bukanlah dua pilihan yang saling bertentangan. Keduanya harus berjalan beriringan. Namun, pembangunan manusia harus menjadi fondasi. Pendidikan membentuk cara berpikir, kemampuan memecahkan masalah, berkolaborasi, beradaptasi terhadap perubahan, dan melahirkan inovasi. Kemampuan inilah yang menjadi modal utama bagi bangsa untuk bersaing di tingkat global.

Hubungan tersebut sangat jelas. Pendidikan melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas. Sumber daya manusia meningkatkan produktivitas. Produktivitas mendorong pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi memperbesar kemampuan negara untuk kembali berinvestasi pada pendidikan, kesehatan, riset, teknologi, dan olahraga. Karena itu, prestasi olahraga bukanlah awal dari pembangunan, melainkan hasil dari pembangunan manusia yang dilakukan secara konsisten.

Indonesia sesungguhnya memiliki modal yang jauh lebih besar dibandingkan Cabo Verde. Kekayaan alam, jumlah penduduk, dan keberagaman budaya merupakan kekuatan yang tidak dimiliki banyak negara. Tantangannya bukan terletak pada kurangnya potensi, melainkan pada kemampuan mengelola potensi tersebut melalui manusia yang unggul.

Oleh sebab itu, pembangunan pendidikan harus menjadi agenda yang dijaga secara berkelanjutan. Setiap anak Indonesia berhak memperoleh pendidikan yang berkualitas tanpa dibatasi kondisi ekonomi, letak geografis, ataupun latar belakang sosial. Pada saat yang sama, kualitas dan kesejahteraan guru, dosen, serta tenaga pendidik harus terus diperkuat karena merekalah yang membentuk generasi masa depan.

Pada akhirnya, tulisan ini bukan sekadar tentang Cabo Verde atau sepak bola. Cabo Verde hanyalah cermin yang mengingatkan bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak ditentukan oleh luas wilayah, jumlah penduduk, ataupun melimpahnya sumber daya alam. Kemajuan ditentukan oleh keberanian menjadikan manusia sebagai investasi utama pembangunan.

Jalan raya suatu saat akan rusak. Jembatan akan memerlukan perbaikan. Gedung dan mesin akan menua. Namun manusia yang memperoleh pendidikan berkualitas akan terus menciptakan ilmu pengetahuan, inovasi, kewirausahaan, dan kepemimpinan yang memberi manfaat lintas generasi.

Jika negara kecil seperti Cabo Verde mampu bermimpi besar karena membangun manusianya, Indonesia seharusnya mampu melangkah lebih jauh. Masa depan bangsa tidak ditentukan oleh apa yang tersimpan di dalam bumi, melainkan oleh apa yang tumbuh di dalam pikiran, karakter, dan kemampuan setiap anak bangsanya. Di situlah letak investasi terbesar yang akan menentukan arah Indonesia pada masa depan. (***)

Komentar