Rumah Gadang Kepri Resmi Berdiri, Jadi Wadah Pemersatu Perantau Minang

Ragam418 Dilihat

Batam, RANAHNEWS – Prosesi adat Minangkabau mewarnai pengukuhan Keluarga Besar Rumah Gadang (KBRG) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) di Ballroom D Golden Prawn, Batam, Sabtu (27/9/2025). Acara berlangsung khidmat dengan nuansa rumah gadang yang dihadirkan sejak pintu masuk hingga ruang utama, lengkap dengan tradisi makan bajamba.

Para tamu dan undangan duduk bersila di lantai, sementara penghulu hadir dengan busana adat. Tamu lainnya mengenakan teluk belango atau baju koko dengan sarung tersampir di leher. Suasana kental dengan filosofi Minang ini semakin bermakna ketika personalia KBRG Kepri yang dipimpin H. Nurman HMN Dt. Rajo Basa dikukuhkan langsung oleh Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM), Prof. Dr. Fauzi Bahar Dt. Nan Sati, bersama Gubernur Kepri H. Ansar Ahmad, SE.MM, Dato Setia Bijaya Mahkota Negeri, serta Ketua Harian LKAAM Sumbar, Amril Amir Dt. Lelo Basa.

Pengukuhan ini sekaligus dirangkaikan dengan melewakan gelar adat Nurman Dt. Rajo Basa kepada seluruh perantau Minang di Kepri. Nurman sendiri baru memperoleh gelar tersebut di kampung halamannya, Pariaman, Sumbar, pada 13 September lalu. Sejumlah tokoh adat turut melantunkan petatah-petitih dalam prosesi sambah-manyembah, menambah khidmat acara.

Tak kalah menarik, sajian makan bajamba menjadi simbol kebersamaan. Hidangan disajikan dalam piring besar berdiameter 50 sentimeter yang disebut jamba, dimakan bersama lima hingga enam orang dengan teknik khusus agar nasi tidak tercecer.

Dalam sambutannya, Prof. Fauzi Bahar memuji kehadiran KBRG Kepri sebagai wadah pemersatu organisasi Minang yang tersebar di rantau.

“Banyak organisasi Minang di perantauan, baik bersifat kedaerahan, luhak, maupun suku. Bundo kanduang pun memiliki wadah sendiri. Lahirnya KBRG ini menjadi rumah bersama yang menyatukan semuanya. Seperti pepatah, sadanciang bak basi, saciok bak ayam,” ujarnya.

Gubernur Kepri Ansar Ahmad menegaskan bahwa keberagaman etnis di Kepri—dari Melayu, Jawa, Batak, Tionghoa, Bugis hingga NTT—menjadi kekuatan daerah ini. Menurutnya, masyarakat Minang yang berjumlah sekitar 10,7 persen turut memperkaya harmoni tersebut.

“Hebatnya, masyarakat Kepri ini sangat rukun dan penuh solidaritas. Kepri adalah provinsi paling rukun di Indonesia, dan itu harus kita rawat terus,” kata Ansar yang hadir bersama istrinya, Dwi Kumala Sari, mengenakan pakaian adat Minang.

KBRG sendiri lahir dari gagasan sembilan organisasi Minang yang tersebar di tujuh kabupaten/kota di Kepri. Mereka menggelar Musyawarah Besar pada 11 Mei 2025 di Batam, lalu sepakat menamai wadah tersebut “Rumah Gadang” sebagai simbol rumah bersama.

Nurman menegaskan bahwa KBRG bukanlah induk dari organisasi yang sudah ada, melainkan wadah koordinasi untuk memperkuat silaturahmi dan kebersamaan.

“Kita mendorong semua organisasi perantau semakin solid dan mengakar. Dengan begitu, adat dan tradisi bisa tetap terjaga, baik di kampung halaman maupun di rantau,” ujarnya. (rn/*/pzv)

Komentar