Sawah Pokok Murah: Ketika Inovasi Lapangan Memprovokasi Kita

Opini339 Dilihat

Oleh: Munzir Busniah

(Dosen Faperta UNAND)

RANAHNEWS – Bisakah petani menanam padi tanpa bajak, tanpa pupuk mahal, namun tetap memanen hasil melimpah? Jawabannya ada pada Sawah Pokok Murah (SPM), sebuah inovasi lokal yang lahir dari kecerdikan lapangan dan keberanian menggugat dogma lama. SPM bukan sekadar metode bertani, melainkan provokasi intelektual yang memaksa kita berpikir ulang: apakah kemandirian pangan bisa dicapai tanpa ketergantungan pada input luar, dan apakah kelestarian lingkungan dapat berjalan seiring dengan efisiensi biaya?

Di Sumatra Barat, SPM berkembang pesat berkat gagasan Ir. Djoni, seorang praktisi pertanian yang merumuskan teknik budidaya hemat biaya, ramah lingkungan, dan memanfaatkan kearifan lokal. Keberhasilan SPM bahkan menarik perhatian nasional. Pada Sabtu, 21 Juni 2025, Ibu Titiek Soeharto hadir di Sumatra Barat untuk ikut melakukan panen raya padi SPM. Fakta ini memperkuat sinyal bahwa SPM bukan sekadar eksperimen, melainkan tawaran jalan baru bagi masa depan pertanian kita.

SPM mengandalkan prinsip sederhana: tanah tidak dibajak, sawah dijaga tetap lembap tanpa digenangi, jerami tidak dibakar melainkan dijadikan mulsa, benih muda ditanam satu batang per lubang dengan kedalaman dangkal, pupuk buatan digunakan secara minimal, dan saluran air dibangun teratur. Perbandingan dengan metode konvensional menunjukkan perbedaan mencolok, terutama pada biaya dan dampak lingkungannya.

Dalam hal pembajakan, budidaya konvensional membutuhkan Rp2,2 juta per hektar. SPM menggantinya dengan kegiatan pemotongan tunggul padi, penyebaran jerami, dan pembuatan saluran air dengan total biaya Rp1,1 juta—penghematan 50 persen. Untuk benih, meskipun perbedaannya tipis, SPM cenderung lebih irit. Pupuk buatan juga dipangkas hingga 60 persen dari dosis konvensional, menghemat Rp1,5 juta per hektar. Secara total, SPM mampu memangkas biaya hingga separuh tanpa mengorbankan produktivitas.

Pertanyaannya, apakah hasil panen menurun? Demplot lapangan menunjukkan tidak. Tanpa pembajakan dan dengan pupuk buatan minimal, hasil tetap stabil. Fenomena ini mungkin dipengaruhi kejenuhan unsur hara pada tanah sawah, namun tetap memerlukan kajian lanjutan. Penggunaan jerami sebagai mulsa memberi keuntungan tambahan: mengembalikan nutrisi alami, memperbaiki struktur tanah, menekan gulma, menjaga kelembapan, dan meningkatkan aktivitas mikroorganisme.

Dari sisi lingkungan, SPM meniadakan praktik pembakaran jerami yang merusak udara, serta mengoptimalkan sumber daya lokal yang selama ini terbuang. Dampak sosialnya pun signifikan: menekan beban biaya petani kecil, memperkuat ketahanan pangan, dan menumbuhkan semangat kemandirian desa.

Meski masih menyisakan pertanyaan—berapa lama tanah bisa tetap produktif tanpa dibajak, sejauh mana pupuk bisa dikurangi, dan apakah jerami selalu mencukupi untuk mulsa—SPM sudah berhasil memantik diskusi penting. Inovasi ini mengingatkan kita bahwa pertanian masa depan tak harus terjebak pada cara lama. SPM bukan sekadar metode, melainkan ajakan untuk menata ulang relasi kita dengan tanah, petani, dan sumber daya lokal demi pangan yang berkelanjutan. (***)

Komentar