Ridwan Tulus, Sang Motivator yang Membumi

Opini605 Dilihat

Oleh: Zera Permana

RANAHNEWS  – Membuktikan motivasi dan idealisme dalam memperjuangkan harga diri bukan sekadar dinilai oleh pandangan mata orang lain. Tetapi lebih dalam dari itu, diukur oleh jari yang menghitung, oleh kepala yang menilai dengan bijak.

Itulah yang saya rasakan ketika pertama kali bertemu dengan sosok Ridwan Tulus, seorang kreator wisata yang telah menembus panggung internasional. Pertemuan hangat itu terjadi secara mendadak di sebuah warung kopi di VII Koto Lapai. Dengan ramah, beliau menyapa dan menanyakan nama saya—sebuah pembuka percakapan yang biasa dilakukan orang-orang cendekia dari ranah Minangkabau.

Yang membuat pertemuan itu begitu berkesan adalah semangat beliau dalam memperjuangkan Nagari Sungai Pinang, kampung halaman saya—yang juga ia akui sebagai bagian dari tanah kelahirannya. Dalam setiap gurauan dan tawa, terselip dakwah yang menyentuh nurani dan mengajak untuk kembali pada Sang Pencipta.

Beliau juga mendorong saya dan tim CENARI (Cerdaskan Anak Nagari) untuk menemui tokoh-tokoh besar. Salah satu momen tak terlupakan adalah ketika beliau mempertemukan kami dengan Prof. Musliar Kasim, mantan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang kini menjabat sebagai Rektor Universitas Baiturrahmah, Padang.

Setibanya di kampus, sebelum turun dari mobil, beliau membimbing doa bersama, memohon kelancaran segala urusan kepada Allah Azza Wa Jalla. Kami pun melangkah ke ruang rektorat dengan penuh kepasrahan dan keyakinan.

Di ruang tersebut, kami menyaksikan betapa dihormatinya sosok Ridwan Tulus. Sambutan hangat dan rangkulan akrab dari para akademisi membuat kami kagum. Prof. Musliar Kasim menyambut beliau dengan penuh semangat. Kami hanya bisa menggeleng kepala menyaksikan kerendahan hati beliau yang tetap berpakaian sederhana namun begitu disegani.

Dengan tawaduk, beliau mengatakan bahwa semua keberhasilan ini adalah berkat kami. Subhanallah, sebuah ungkapan yang mencerminkan ketulusan. Seusai pertemuan, beliau mengajak kami makan siang dengan disiplin waktu yang unik—30 menit ditentukan, dan hanya dua menit yang kami butuhkan untuk siap kembali melanjutkan perjalanan.

Tiba-tiba, panggilan hati mengarahkan beliau untuk singgah di sebuah tempat ibadah para pejuang jalan Tuhan. Di sana, beliau menunaikan kewajiban sebagai hamba, dan kami pun tersentuh, ikut menunaikan salat berjamaah.

Usai ibadah, perjalanan dilanjutkan ke Universitas Andalas, kampus yang melahirkan banyak cendekiawan Minangkabau. Kami diajak ke ruang rektor dan dipertemukan dengan Prof. Dr. Yuliandri, S.H., M.H., seorang tokoh besar yang juga menyambut kehadiran Ridwan Tulus dengan hangat dan penuh hormat.

Kami benar-benar terharu dengan keramahan dan tata cara penyambutan yang penuh santun, sebagaimana adat Minangkabau yang menjunjung tinggi budi pekerti dan penghormatan terhadap tamu.

Semoga Bang Ridwan Tulus selalu diberi kesehatan dan umur panjang oleh Allah SWT. Ia telah menjadi orang tua, kakak, sekaligus suri tauladan yang ditiru, dan teladan yang diterima oleh banyak orang. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin. ((***)

Komentar