Rahmat Saleh: Regenerasi Petani Harus Dimulai dari Sekolah

Parlemen463 Dilihat

Jakarta, RANAHNEWS – Masa depan pertanian Indonesia tidak cukup dijaga oleh lahan dan produksi semata, melainkan perlu dimulai dari benih pemahaman yang ditanamkan sejak di bangku sekolah. Hal ini disampaikan Anggota Komisi IV DPR RI, Rahmat Saleh, yang menilai bahwa regenerasi petani harus dibangun melalui pendekatan pendidikan yang kontekstual dan berkelanjutan.

“Anak-anak sekolah dan mahasiswa perlu diperkenalkan bahwa pertanian bukan sekadar cangkul dan tanah, tapi juga ilmu, teknologi, dan peluang usaha. Ini soal bagaimana kita membangun persepsi yang tepat sejak dini,” ujar Rahmat di Jakarta, Senin (7/7/2025).

Rahmat menegaskan bahwa dunia pendidikan dapat menjadi gerbang awal dalam menciptakan petani muda yang tangguh. Menurutnya, pelajar perlu dikenalkan pada sistem pertanian dari hulu hingga hilir, tidak hanya melalui teori di kelas, tetapi lewat proyek langsung, kunjungan lapangan, dan kemitraan dengan petani.

Ia juga mengapresiasi program Brigade Pangan yang digagas Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui Dinas Perkebunan Tanaman Pangan dan Hortikultura (Disbuntanhor), sebagai upaya melibatkan petani milenial dalam menjaga ketahanan pangan daerah. Rahmat menyarankan agar program tersebut diperluas ke sekolah dan kampus dengan melibatkan berbagai sektor.

“Kalau ingin anak muda tertarik ke pertanian, maka dunia pertanian harus hadir di lingkungan mereka. Kita harus buat pertanian sebagai topik yang menarik, membumi, dan relevan,” katanya menambahkan.

Ia juga mendorong agar kegiatan ekstrakurikuler sekolah menyediakan ruang lebih besar untuk aktivitas pertanian, khususnya yang berkaitan dengan kewirausahaan dan inovasi teknologi pangan.

Rahmat berharap pendekatan ini tidak bersifat insidental, melainkan menjadi kebijakan yang berkelanjutan. Ia menekankan pentingnya pendampingan, dukungan pembiayaan, serta akses pasar yang terbuka agar minat generasi muda terhadap sektor pertanian tidak berhenti pada ketertarikan semata.

“Kalau kita ingin kedaulatan pangan, kita tidak bisa hanya bicara soal lahan dan produksi. Kita harus bangun minat dan pengetahuan generasi baru agar siap mengambil peran. Dan itu dimulai dari sekolah dan kampus,” tutupnya. (rn/*/pzv)

Komentar