Oleh: Dr. Syamsul Bahri, M.M.
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Ekasakti (UNES) Padang
Wakil Ketua APIMSA (Asosiasi Pengusaha Kecil Menengah Mikro Nusantara) Sumatera Barat
RANAHNEWS.com — Kota Padang genap berusia 357 tahun pada 7 Agustus 2026. Peringatan hari jadi ini patut dirayakan, tetapi usia panjang sebuah kota seharusnya tidak berhenti pada seremoni dan nostalgia. Momentum tersebut justru perlu digunakan untuk menjawab pertanyaan yang lebih penting: Padang hendak menjadi kota seperti apa dalam 20, 30, hingga 50 tahun mendatang?
Pertanyaan itu penting karena arah pembangunan kota tidak hanya ditentukan oleh apa yang dimiliki hari ini. Masa depan juga ditentukan oleh kemampuan membaca perubahan dan menemukan posisi strategis dalam perkembangan kawasan.
Pemerintah Kota Padang tahun ini mengusung tema Padang Road to Gastronomy City sebagai bagian dari upaya menuju pengakuan UNESCO Gastronomy City. Pilihan ini menarik karena gastronomi dapat memperkuat pariwisata, UMKM, dan ekonomi kreatif. Namun, menurut saya, Padang membutuhkan visi yang lebih besar.
Gastronomi dapat menjadi salah satu kekuatan Padang, tetapi masa depan kota tidak semestinya hanya dibangun dari aktivitas di dalam batas administratifnya. Padang perlu melihat dirinya sebagai kota yang melayani kawasan lebih luas. Padang jangan hanya menjadi ibu kota Sumatera Barat.
Padang perlu didorong menjadi regional hub, yaitu pusat pendidikan, perdagangan, jasa, logistik, sekaligus gerbang ekspor bagi kawasan Barat Sumatra. Karena itu, Padang harus dilihat bukan hanya dari dalam batas kota, melainkan dari keterkaitannya dengan kabupaten dan kota lain di Sumatera Barat serta wilayah regional di bagian barat Sumatra.
Selama ini pembangunan kota kerap menggunakan perspektif administratif. Padang dipandang sebagai wilayah yang harus dilayani pemerintah kota sekaligus sebagai pasar bagi penduduknya sendiri. Cara pandang tersebut tidak keliru. Namun, bagi kota yang memiliki posisi geografis dan sejarah perdagangan seperti Padang, perspektif itu terlalu sempit.
Kota yang berkembang menjadi pusat ekonomi regional biasanya tidak hanya mengandalkan kekuatan internal. Kota tersebut tumbuh karena mampu menyediakan layanan bagi wilayah di sekitarnya. Padang memiliki modal awal untuk memainkan peran itu: posisi di pesisir barat Sumatra, Pelabuhan Teluk Bayur, Bandara Internasional Minangkabau, perguruan tinggi, pusat pemerintahan, jaringan perdagangan, sumber daya manusia, dan ekosistem jasa.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan bahwa pendidikan merupakan salah satu sektor yang dapat dikembangkan sebagai kekuatan regional. BPS menyediakan data khusus mengenai jumlah perguruan tinggi, dosen, dan mahasiswa menurut kabupaten/kota di Sumatera Barat.
Dengan demikian, persoalannya bukan apakah Padang memiliki modal. Persoalannya adalah apakah seluruh modal tersebut sudah dihubungkan dalam satu visi regional.
Peluang itu dapat dilihat melalui contoh Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh di Provinsi Jambi. Kerinci memiliki komoditas yang telah menembus pasar internasional, antara lain kopi dan kayu manis.
Pada Mei 2026, sebanyak 20 ton kopi Fine Robusta asal Kerinci diberangkatkan menuju pasar Tiongkok melalui Pelabuhan Belawan, Medan. Pemerintah Provinsi Jambi kemudian mendorong agar ekspor komoditas tersebut pada masa mendatang dapat dilakukan melalui pelabuhan di Jambi.
Contoh lainnya adalah kayu manis. Pada 2025, UMKM binaan Pertamina melalui PT Agro Santara Indonesia mengekspor 10,4 ton kayu manis khas Kerinci ke Turki dengan nilai sekitar US$53 ribu.
Fakta tersebut menunjukkan bahwa produk daerah mampu menembus pasar global. Namun, rantai logistiknya masih dapat dikembangkan agar lebih efisien.
Hal itu kembali terlihat pada Juni 2026. Wakil Ketua I DPRD Provinsi Jambi Ivan Wirata menyebut komoditas lokal seperti kopi, kayu manis, dan pinang masih banyak menggunakan pelabuhan di luar daerah, antara lain Teluk Bayur, Belawan, dan Belakang Padang. Salah satu alasannya adalah keterbatasan Pelabuhan Talang Duku dalam melayani peti kemas internasional secara rutin.
Bagi saya, fakta tersebut penting. Artinya, gagasan Padang sebagai regional hub bukan sesuatu yang dibangun dari ruang kosong. Pergerakan barang lintas daerah sudah terjadi. Yang perlu dipikirkan adalah bagaimana Padang menyediakan ekosistem jasa yang membuat hubungan tersebut semakin efisien.
Dalam konteks ini, Pelabuhan Teluk Bayur merupakan aset strategis. Data 2025 menunjukkan terminal nonpetikemas Teluk Bayur menangani ekspor CPO sebanyak 3.151.458 ton. Pelabuhan tersebut juga melayani berbagai komoditas lain, seperti cangkang sawit, palm kernel expeller, batu bara, pupuk, gipsum, kedelai, jagung, dan komoditas lainnya.
Teluk Bayur juga telah melayani ekspor produk dengan jenis yang lebih beragam. Pada Maret 2025, misalnya, Sumatera Barat melakukan ekspor perdana 19,9 ton frozen yellowfin tuna tujuan Amerika Serikat melalui Pelabuhan Teluk Bayur.
Data tersebut menunjukkan bahwa Teluk Bayur bukan sekadar aset fisik. Pelabuhan itu telah menjadi bagian dari aktivitas perdagangan.
Namun, pelabuhan besar tidak otomatis menjadikan sebuah kota sebagai pusat perdagangan regional. Yang menentukan adalah ekosistem di belakang pelabuhan. Padang membutuhkan pusat pergudangan, konsolidasi barang, cold storage, pengemasan, pengendalian mutu, sertifikasi, perusahaan perdagangan, freight forwarding, perbankan, asuransi, jasa kepabeanan, teknologi informasi, serta layanan ekspor-impor.
Dengan ekosistem tersebut, barang yang datang ke Padang tidak sekadar singgah. Barang dapat memperoleh nilai tambah di Padang. Di situlah peluang ekonomi baru muncul.
Padang mungkin tidak perlu dipaksakan menjadi kota industri berat. Karakter geografis, sejarah, dan struktur ekonominya justru memberi ruang untuk mengembangkan ekonomi berbasis jasa bernilai tambah.
Kita dapat membayangkan Padang sebagai tempat berbagai aktivitas ekonomi bertemu. Petani dan pelaku usaha dari daerah menghasilkan komoditas. Perusahaan perdagangan melakukan konsolidasi. Perguruan tinggi menyediakan pengetahuan. Perbankan menyediakan pembiayaan. Perusahaan logistik mengatur distribusi. Perusahaan pengemasan meningkatkan nilai produk. Selanjutnya, Teluk Bayur menghubungkannya dengan pasar internasional.
Dengan ekosistem seperti itu, Padang tidak harus menghasilkan seluruh barang yang diperdagangkan. Padang dapat memperoleh nilai ekonomi karena menjadi penghubung. Dalam ekonomi modern, posisi dalam jaringan rantai pasok merupakan salah satu unsur penting daya saing wilayah.
Selain perdagangan dan logistik, Padang memiliki kekuatan lain yang sangat strategis, yakni pendidikan.
Padang memiliki sejumlah perguruan tinggi dan tradisi pendidikan yang kuat. Tantangannya adalah mengubah posisi tersebut dari sekadar melayani kebutuhan mahasiswa Sumatera Barat menjadi tujuan pendidikan bagi kawasan yang lebih luas, bahkan internasional.
Pertanyaannya sederhana: mengapa mahasiswa dari Kerinci harus selalu pergi ke kota lain? Mengapa mahasiswa dari Jambi, Bengkulu, Riau, atau wilayah lain tidak menjadikan Padang sebagai salah satu tujuan utama pendidikan tinggi?
Lebih jauh lagi, mengapa Padang tidak menarik lebih banyak mahasiswa asing untuk mempelajari Islam, budaya, pariwisata, ekonomi, lingkungan, kebencanaan, pertanian tropis, dan bidang lain yang memiliki kekhasan Sumatra?
Mahasiswa yang datang ke Padang tidak hanya membayar biaya pendidikan. Mereka membutuhkan tempat tinggal, makanan, transportasi, kebutuhan sehari-hari, rekreasi, dan berbagai layanan lainnya. Dengan demikian, pendidikan dapat berkembang menjadi industri jasa sekaligus penggerak ekonomi kota.
Perguruan tinggi juga dapat menjadi pusat penelitian yang membantu daerah hinterland mengembangkan komoditasnya. Universitas di Padang, misalnya, dapat bekerja sama dengan pemerintah dan pelaku usaha Kerinci untuk meningkatkan kualitas kopi dan kayu manis, mulai dari produksi, standardisasi, pengemasan, branding, pemasaran digital, hingga strategi ekspor.
Di sinilah hubungan yang saling menguntungkan dapat dibangun. Daerah menyediakan potensi, sedangkan Padang menyediakan pengetahuan dan jasa.
Namun, konsep tersebut harus dibangun dengan satu prinsip penting: Padang tidak boleh diposisikan sebagai kota yang mengambil ekonomi daerah lain.
Sebaliknya, yang perlu dibangun adalah konsep Padang dan hinterland. Kerinci membutuhkan akses pasar, Padang menyediakan jasa. Bengkulu memiliki komoditas, Padang menyediakan alternatif jaringan perdagangan dan logistik. Daerah-daerah di Sumatera Barat menghasilkan komoditas, sementara Padang menyediakan pusat perdagangan dan jasa ekspor.
Perguruan tinggi di Padang membutuhkan mahasiswa, sedangkan daerah sekitar memiliki calon mahasiswa. Pelabuhan membutuhkan volume barang, sementara pelaku usaha daerah membutuhkan akses pasar. Dengan demikian, pertumbuhan Padang justru dapat menjadi bagian dari pertumbuhan kawasan.
Apakah gagasan ini realistis? Tentu realistis untuk dikaji, tetapi tidak sederhana.
Kita tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa semua komoditas dari Kerinci, Bengkulu, Riau, atau Jambi pasti lebih murah jika dikirim melalui Teluk Bayur. Hal itu harus dibuktikan melalui studi biaya logistik, jarak, waktu tempuh, kapasitas jalan, frekuensi kapal, biaya bongkar muat, dan kepastian layanan.
Justru karena itu, gagasan tersebut layak dikaji secara serius. Jambi sendiri pada 2026 mengakui bahwa sejumlah komoditas seperti kopi, kayu manis, dan pinang masih menggunakan pelabuhan luar daerah, termasuk Teluk Bayur.
Artinya, kita tidak sedang menciptakan kebutuhan yang tidak ada. Kita sedang melihat peluang dari arus ekonomi yang sudah berlangsung. Karena itu, gagasan Padang sebagai regional hub bukan mimpi kosong.
Langkah pertama adalah Pemerintah Kota Padang bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Barat membuat peta hinterland ekonomi Padang. Peta tersebut tidak semata-mata berdasarkan batas provinsi, tetapi berdasarkan potensi komoditas dan efisiensi konektivitas.
Kedua, perlu dilakukan studi komparatif biaya logistik. Untuk komoditas tertentu dari Kerinci, misalnya, perlu dihitung apakah pengiriman melalui Padang lebih kompetitif dibandingkan Belawan atau pelabuhan lainnya.
Ketiga, Padang perlu mengembangkan kawasan jasa perdagangan dan logistik yang terintegrasi dengan Teluk Bayur.
Keempat, perlu didorong pertumbuhan perusahaan lokal di bidang perdagangan, ekspor, pergudangan, freight forwarding, dan rantai pasok.
Kelima, perguruan tinggi harus menjadi bagian dari ekosistem, bukan berdiri sendiri. Kampus dapat menjadi pusat riset dan inovasi untuk mendukung komoditas serta persoalan pembangunan kawasan.
Keenam, pemerintah perlu membangun diplomasi ekonomi antardaerah. Pemerintah Padang, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, dan Riau perlu duduk bersama membicarakan konektivitas ekonomi, bukan hanya hubungan pemerintahan.
Pada akhirnya, peringatan 357 tahun Kota Padang seharusnya tidak hanya menjadi momentum untuk bertanya tentang apa yang telah dicapai. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa peran Padang bagi masa depan kawasan?
Saya membayangkan Padang memiliki empat fungsi utama. Pertama, Education Hub, sebagai kota tujuan pendidikan nasional dan internasional. Kedua, Trade Hub, sebagai pusat perdagangan dan jasa bisnis kawasan. Ketiga, Logistics Hub, sebagai pusat pergudangan, distribusi, dan rantai pasok. Keempat, Export Gateway, sebagai gerbang perdagangan internasional melalui Teluk Bayur.
Keempat fungsi itu saling menguatkan. Mahasiswa datang membawa pengetahuan dan konsumsi. Pelaku usaha membawa aktivitas perdagangan. Barang datang dari hinterland. Pergudangan dan jasa memberikan nilai tambah. Teluk Bayur kemudian menghubungkan seluruh ekosistem tersebut dengan pasar dunia.
Padang tidak perlu menjadi kota terbesar di Sumatra. Padang juga tidak harus menjadi kota industri terbesar. Padang cukup menjadi kota yang paling strategis dalam menghubungkan manusia, pengetahuan, barang, dan pasar.
Inilah perubahan paradigma yang perlu dimulai. Selama ini kita bertanya, bagaimana membuat Kota Padang semakin maju? Pertanyaan itu perlu diperluas menjadi: bagaimana membuat Padang semakin bernilai bagi daerah-daerah di sekitarnya?
Sebab, sebuah kota besar bukan hanya kota yang memiliki banyak aktivitas di dalam dirinya. Kota besar adalah kota yang mampu menciptakan nilai bagi wilayah yang lebih luas.
Padang sudah memiliki sebagian besar modal tersebut: pelabuhan, perguruan tinggi, sumber daya manusia, pusat pemerintahan, jaringan perdagangan, dan posisi geografis. Yang belum cukup adalah menghubungkan seluruh modal itu dalam satu visi regional.
Karena itu, pada usia 357 tahun, sudah saatnya Padang tidak hanya menjadi ibu kota Sumatera Barat. Padang perlu diarahkan menjadi hub pendidikan, perdagangan, jasa, dan logistik sekaligus gerbang ekspor kawasan Barat Sumatra.
Bukan untuk mengambil peran daerah lain, melainkan untuk membuat daerah-daerah tersebut tumbuh bersama. Padang tidak harus menjadi produsen terbesar untuk menjadi kota yang paling penting dalam rantai ekonomi kawasan. Justru di situlah salah satu kemungkinan terbesar masa depan Padang. (*)














Komentar