Jakarta, RANAHNEWS.com — Peluncuran buku biografi “Pengabdian dari Masa ke Masa: Perjalanan, Pergulatan Hidup, dan Pemikiran” karya tentang Ginandjar Kartasasmita di Menara Kompas, Jakarta, Kamis (9/4/2026), menjadi momentum penegasan kembali kiprah panjang tokoh tersebut dalam pembangunan nasional. Senator RI asal Sumatera Barat, Irman Gusman, menyebut Ginandjar sebagai figur yang berperan penting dalam berbagai fase strategis, mulai dari reformasi kelembagaan hingga penguatan peran daerah melalui Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI.
Dalam acara yang bertepatan dengan peringatan ulang tahun ke-85 Ketua DPD RI pertama itu, Irman hadir memberikan testimoni sekaligus menerima buku pertama yang diluncurkan. Penyerahan buku juga dilakukan kepada sejumlah tokoh nasional, di antaranya Djoko Suyanto, Rachmat Pambudy, Sofyan A. Djalil, dan Fadel Muhammad.
Irman menilai buku biografi tersebut sebagai dokumentasi penting perjalanan pengabdian seorang tokoh bangsa sekaligus warisan pemikiran bagi generasi muda Indonesia.
“Pak Ginandjar adalah salah satu tokoh bangsa yang memiliki pengalaman panjang dalam pemerintahan, pembangunan, dan penguatan kelembagaan negara. Beliau bukan hanya meninggalkan jejak sejarah, tetapi juga warisan pemikiran yang tetap relevan bagi generasi hari ini,” ujar Irman.
Hubungan Irman dan Ginandjar telah terjalin lebih dari tiga dekade, sejak Irman masih aktif sebagai pengusaha muda. Keduanya semakin intens berinteraksi pada 1996 dalam satu forum diskusi yang diselenggarakan Kompas bersama sejumlah tokoh nasional, termasuk Jusuf Kalla dan Hamzah Haz.
Relasi tersebut berlanjut pada 1999 saat keduanya terlibat dalam proses pembentukan representasi daerah di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Ginandjar mewakili Jawa Barat sebagai utusan daerah, sementara Irman mewakili Sumatera Barat. Dalam perkembangan selanjutnya, Ginandjar menjadi salah satu pimpinan MPR dari Fraksi Golkar, sedangkan Irman menjabat wakil ketua Fraksi Utusan Daerah, bertepatan dengan proses amandemen UUD 1945.
“Pada masa inilah merupakan fase penting dalam transformasi ketatanegaraan kita. Pak Ginandjar termasuk tokoh kunci yang ikut mengawal arah perubahan kelembagaan, terutama dalam memperkuat representasi daerah dalam sistem politik nasional,” kata Irman.
Kebersamaan keduanya berlanjut pada 2004 saat DPD RI terbentuk melalui pemilu langsung. Ginandjar dipercaya sebagai Ketua DPD RI pertama, sementara Irman menjadi Wakil Ketua. Menurut Irman, fase tersebut menjadi tonggak penting dalam membangun fondasi kelembagaan DPD, termasuk tata kerja dan posisi strategisnya dalam sistem ketatanegaraan pascareformasi.
“Di bawah kepemimpinan Pak Ginandjar, DPD RI mulai membangun fondasi kelembagaan, tata kerja, serta memperkuat peran daerah dalam memperjuangkan kepentingan regional di tingkat pusat. Kami bersama-sama merintis agar DPD menjadi rumah besar bagi aspirasi daerah,” ungkapnya.
Fondasi tersebut berlanjut pada 2009 ketika Irman dipercaya menjadi Ketua DPD RI, melanjutkan kepemimpinan Ginandjar. Kesinambungan tersebut dinilai memperkuat posisi DPD dalam memperjuangkan kepentingan daerah.
Selain di bidang kelembagaan, Irman juga menyoroti peran Ginandjar dalam stabilisasi ekonomi nasional, khususnya saat krisis 1997–1998 bersama B.J. Habibie. Saat itu, Ginandjar yang menjabat Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri berperan dalam upaya pemulihan nilai tukar rupiah dari kondisi tertekan hingga kembali menguat.
“Jejak pengabdian beliau bukan sekadar tercatat dalam jabatan, tetapi hidup dalam arah kebijakan dan cara kita memandang pembangunan bangsa yang lebih inklusif hingga pelosok daerah dan berkeadilan,” ujar Irman.
Peluncuran buku tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh nasional, antara lain Rahardi Ramelan, Djoko Suyanto, TB. Ace Hasan Syadzily, Agus Gumiwang Kartasasmita, serta undangan lainnya. (rn/*/pzv)














Komentar