Nevi Minta Penguatan Industri Petrokimia Nasional Segera Dilakukan

Ekonomi80 Dilihat

Jakarta, RANAHNEWS.com — Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PKS, Nevi Zuairina, menyoroti tekanan terhadap industri plastik nasional akibat dampak konflik geopolitik global yang memengaruhi pasokan bahan baku impor. Ia menilai kondisi ini perlu segera direspons pemerintah melalui langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan industri.

Dalam siaran pers di Jakarta, Nevi menjelaskan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku plastik, terutama resin dan nafta, membuat sektor ini rentan terhadap gejolak global, khususnya dari kawasan Timur Tengah.

“Ketika kawasan Timur Tengah mengalami konflik, pasokan nafta langsung terganggu. Padahal sekitar 60 hingga 70 persen bahan baku plastik Indonesia berasal dari wilayah tersebut. Akibatnya, harga resin dan produk plastik melonjak tajam, bahkan mencapai kenaikan hingga 30 sampai 50 persen, dan untuk jenis tertentu bisa menyentuh 70 persen,” ujar Nevi.

Ia menyebut lonjakan harga bahan baku mulai berdampak pada berbagai sektor industri hilir, seperti kemasan, makanan dan minuman, serta otomotif. Kenaikan biaya produksi dinilai berpotensi memengaruhi harga barang konsumsi di masyarakat.

Menurutnya, kondisi ini juga dapat menjadi momentum untuk mendorong transformasi industri, termasuk pengurangan ketergantungan terhadap bahan baku berbasis fosil dan peningkatan pemanfaatan bahan daur ulang.

“Dalam jangka pendek, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan perlu segera mencari alternatif sumber bahan baku dari negara lain seperti kawasan Afrika dan India, agar rantai pasok tetap terjaga,” tegasnya.

Nevi juga menekankan pentingnya penguatan industri petrokimia dalam negeri sebagai langkah jangka panjang guna menciptakan kemandirian, termasuk melalui pembangunan kilang dan pabrik resin nasional.

Selain itu, ia mendorong pemerintah untuk menyiapkan kebijakan stabilisasi harga, seperti pemberian insentif fiskal, subsidi terbatas, serta penyesuaian bea impor bahan baku.

“Jangan sampai kita mengulang kesalahan seperti yang terjadi pada industri tekstil. Negara harus hadir menyelamatkan industri plastik nasional sebelum dampaknya semakin luas,” tutup Nevi Zuairina. (rn/*/pzv)

Komentar