Padang, RANAHNEWS.com — Menjelang Musyawarah Daerah (Musda) IX Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Kota Padang, calon Ketua LKAAM Kota Padang Hendri Yazid Dt. Rajo Diguci memperkuat komunikasi dengan jajaran LKAAM dan Kerapatan Adat Nagari (KAN) se-Kota Padang.
Silaturahmi dan tatap muka tersebut digelar di Kaffe Alta, Jalan Kampuang Lalang, By Pass, Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sabtu (19/9/2026). Pertemuan menjadi ruang bagi Hendri untuk menyerap pandangan, masukan, dan harapan para pemangku adat terkait keberlangsungan kelembagaan adat Minangkabau.
Hendri Yazid mengatakan komunikasi antara LKAAM, KAN, niniak mamak, tokoh masyarakat, generasi muda, dan berbagai unsur masyarakat penting untuk menjaga keberlangsungan nilai-nilai adat Minangkabau.
“Silaturahmi ini kita laksanakan sebagai bagian dari upaya membangun komunikasi dan mempererat hubungan dengan jajaran LKAAM dan KAN se-Kota Padang. Bagi saya, masukan dari para tokoh adat sangat penting untuk menjadi bahan dalam melihat bagaimana kelembagaan adat ke depan dapat semakin kuat dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Hendri.
Menurut Hendri, LKAAM dan KAN memiliki posisi strategis dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, termasuk dalam menjaga nilai adat dan budaya, memperkuat hubungan sosial kemasyarakatan, serta mendukung pembinaan anak kemenakan.
Ia menilai berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat perlu dibicarakan melalui komunikasi dan musyawarah dengan melibatkan para pemangku adat.
“Pertemuan seperti ini bukan hanya membicarakan persoalan organisasi. Yang lebih penting adalah bagaimana kita bersama-sama melihat kondisi adat dan masyarakat saat ini, mendengarkan masukan dari para tokoh adat, kemudian mencari langkah yang dapat dilakukan secara bersama,” katanya.
Hendri juga menekankan pentingnya memperkuat LKAAM dan KAN agar mampu menjalankan fungsi kelembagaan adat secara optimal di tengah perubahan sosial yang terus berlangsung.
Nilai-nilai Minangkabau seperti adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah (ABS-SBK), musyawarah dan mufakat, gotong royong, serta penghormatan kepada niniak mamak, menurutnya, perlu terus dipelihara dan diterapkan dalam kehidupan masyarakat.
“Tujuan kita tentu bagaimana LKAAM dan KAN ke depan semakin kuat, solid dan mampu menjalankan fungsi kelembagaan adat dengan baik. Kita ingin nilai-nilai adat Minangkabau tetap hidup di tengah masyarakat dan dapat diwariskan kepada generasi muda sebagai bagian dari jati diri masyarakat Kota Padang,” ujar Hendri.
Ia mengatakan penguatan kelembagaan adat juga membutuhkan tata kelola organisasi yang baik, komunikasi terbuka, serta kemampuan menyerap aspirasi masyarakat. Lembaga adat, kata dia, diharapkan tidak hanya hadir dalam kegiatan seremonial, tetapi juga memberikan kontribusi dalam kehidupan sosial masyarakat.
Hendri berpandangan, persoalan adat dan sosial tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak. Koordinasi antara LKAAM, KAN, niniak mamak, tokoh masyarakat, pemerintah, generasi muda, dan unsur lainnya diperlukan untuk membangun komunikasi serta mencari solusi bersama.
“LKAAM dan KAN harus menjadi ruang bersama untuk membangun komunikasi. Kalau komunikasi berjalan dengan baik, berbagai persoalan yang muncul di tengah masyarakat dapat dibicarakan dengan mengedepankan musyawarah dan mencari solusi bersama,” tuturnya.
Dalam pertemuan tersebut, Hendri juga berharap seluruh rangkaian menuju Musda IX LKAAM Kota Padang berlangsung tertib, aman, dan penuh kekeluargaan. Musda menjadi mekanisme organisasi untuk menentukan kepengurusan LKAAM Kota Padang periode 2026–2031.
“Harapan saya, seluruh proses yang sedang kita jalani dapat berlangsung dengan baik, tertib dan penuh kekeluargaan. Siapa pun yang nantinya mendapat amanah, yang paling penting adalah bagaimana kita bersama-sama menjaga persatuan, marwah adat dan kepentingan anak kemenakan,” ujar Hendri.
Ia menegaskan perbedaan pandangan maupun pilihan dalam proses Musda tidak semestinya mengganggu hubungan antarsesama pemangku adat.
“Kita tidak ingin perbedaan pilihan atau pandangan menjadi alasan untuk memutus silaturahmi. Justru melalui silaturahmi dan dialog, kita bisa saling memahami, saling memberikan masukan dan bersama-sama mencari jalan terbaik untuk kemajuan kelembagaan adat di Kota Padang,” katanya.
Selain kelembagaan, Hendri menyoroti pentingnya menjaga adat dan budaya Minangkabau agar tetap relevan dengan perkembangan masyarakat. Menurutnya, pelestarian adat tidak berarti menutup diri terhadap perubahan, tetapi mempertahankan nilai dasarnya sekaligus menyesuaikan penerapannya dengan kondisi masyarakat.
“Adat harus tetap hidup dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Karena itu, kita harus mampu menjembatani nilai-nilai adat dengan kebutuhan masyarakat hari ini. Generasi muda harus kita rangkul dan diberikan ruang agar mereka mengenal, memahami dan ikut melestarikan adat serta budaya Minangkabau,” ujarnya.
Ia menilai generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga kesinambungan adat dan budaya Minangkabau. Karena itu, pembinaan generasi muda perlu dilakukan dengan memberikan ruang untuk terlibat dalam kegiatan sosial dan kebudayaan.
Hendri juga menegaskan komunikasi dengan berbagai unsur masyarakat adat akan terus dibuka. Menurutnya, penguatan kelembagaan membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
“Menjaga marwah adat merupakan tanggung jawab kita bersama. Karena itu, komunikasi dan kebersamaan harus terus kita bangun. Jangan sampai ada jarak di antara sesama pemangku adat hanya karena perbedaan pandangan,” katanya.
Menjelang Musda IX, Hendri berharap seluruh pihak tetap mengedepankan persatuan dan menjaga suasana kondusif. Ia menilai perbedaan pandangan dalam organisasi dapat menjadi bagian dari proses musyawarah.
“Yang paling utama adalah persatuan. Kita boleh berbeda pandangan dalam proses organisasi, tetapi setelah seluruh proses selesai, kita tetap satu keluarga besar masyarakat adat. Kepentingan bersama dan kepentingan anak kemenakan harus menjadi perhatian kita,” katanya.
Hendri berharap Musda IX menjadi momentum memperkuat koordinasi antara LKAAM dan KAN serta memperluas komunikasi dengan niniak mamak, tokoh masyarakat, generasi muda, dan seluruh unsur masyarakat.
“Harapan kita sederhana, bagaimana adat tetap hidup, kelembagaan semakin kuat, hubungan antarpemangku adat semakin baik dan anak kemenakan mendapatkan pembinaan yang baik. Semua itu membutuhkan kebersamaan. Karena itu, mari kita jaga silaturahmi dan bersama-sama membangun adat untuk kepentingan masyarakat Kota Padang,” pungkasnya. (rn/*/pzv)












Komentar