Jakarta, RANAHNEWS – Percepatan industri baterai kendaraan listrik (EV) di Indonesia tak bisa dilepaskan dari peran strategis BUMN energi. Anggota Komisi XII DPR RI, Hj. Nevi Zuairina, menegaskan bahwa hilirisasi sumber daya alam dan investasi teknologi harus menjadi fokus utama agar Indonesia tidak hanya menjadi penyedia bahan baku, tetapi juga penguasa industri baterai EV dari hulu ke hilir.
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan PT Inalum, PT Antam, Pertamina Power Indonesia, PLN, dan Indonesia Battery Corporation (IBC), politisi PKS ini menyoroti pentingnya komitmen kuat dalam membangun rantai pasok industri baterai EV yang berkelanjutan.
“Indonesia memiliki semua sumber daya alam yang dibutuhkan untuk produksi baterai EV, kecuali teknologi dan investasi yang masih harus kita optimalkan. Oleh karena itu, BUMN energi harus memastikan proyek-proyek strategis masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) agar mendapat dukungan penuh dari pemerintah,” ujar Nevi Zuairina, baru-baru ini.
Selain hilirisasi, Nevi juga menyoroti tantangan besar dalam pengelolaan limbah baterai EV. Dengan meningkatnya penggunaan kendaraan listrik, ia menekankan perlunya sistem daur ulang yang efisien guna mengurangi ketergantungan pada bahan baku baru serta meminimalkan dampak lingkungan.
“Daur ulang baterai harus menjadi perhatian utama. Kita perlu investasi yang kuat dalam teknologi daur ulang agar baterai bekas dapat dimanfaatkan kembali dan mendukung ekonomi sirkular,” lanjutnya.
Lebih lanjut, Nevi meminta kepastian dari pemegang saham IBC terkait komitmen investasi jangka panjang serta percepatan pembangunan pabrik baterai dengan target kapasitas 15 GWh. Menurutnya, keberlanjutan industri ini sangat bergantung pada alih teknologi, pendanaan yang cukup, dan SDM yang kompeten.
Sebagai langkah konkret, Nevi mendorong kolaborasi erat antara BUMN dan Kementerian Investasi untuk menarik investor asing. Dengan investasi luar negeri, Indonesia dapat memperoleh teknologi mutakhir yang mendukung pengembangan industri baterai EV nasional.
“Saya berharap Indonesia bisa menjadi pemain utama dalam industri baterai global, sejalan dengan visi transisi energi yang berkelanjutan dan ketahanan energi nasional,” tutupnya. (rn/*/pzv)













Komentar