Akhirnya, Si Anak Tarusan Itu Jadi Sarjana

Ragam309 Dilihat

Catatan: Gilang Gardhiolla Gusvero

RANAHNEWS — Setiap perjuangan memiliki waktunya sendiri untuk menuai hasil. Pada 1 November 2025, seorang wartawan muda asal Sumatera Barat, Fardianto, resmi menyandang gelar Sarjana Ilmu Komunikasi. Setelah menempuh studi selama lima setengah tahun di salah satu universitas di Padang, ia menutup bab panjang perjuangan pendidikannya dengan toga dan senyum kemenangan.

Fardianto, atau akrab disapa Fardi, adalah putra kelahiran 1990-an dari Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan. Sejak awal, jalan yang ditempuhnya tidak mudah. Di kampung, banyak yang meragukan kemampuannya untuk menembus dunia akademik dan bertahan di kota besar. Namun, di tengah cibiran dan keraguan itu, ia memilih bertahan dan membuktikan diri.

Kehidupan merantau di Padang mengajarkannya arti keteguhan. Seperti ombak yang tak henti memukul pantai, cobaan datang silih berganti, kadang besar, kadang kecil, tapi tak pernah absen. Ia bekerja sambil kuliah, menulis berita, dan menimba ilmu komunikasi dengan kesabaran panjang. Fakta ini memperlihatkan bagaimana semangat anak daerah tetap bisa menembus batas keterbatasan.

Kini, Fardi membuktikan bahwa mimpi tak selayaknya diremehkan. Ia membungkam suara-suara yang dulu meragukan langkahnya. Di balik toga yang dikenakannya, ada kerja keras, air mata, dan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan menuju perubahan.

Sebagai wartawan muda, Fardi bukan hanya menulis kisah orang lain, tetapi kini ia menjadi tokoh dalam kisahnya sendiri, kisah tentang keteguhan, tentang seorang anak Tarusan yang menolak kalah oleh keadaan.

Opini ini mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan sekadar gelar, melainkan simbol keberanian untuk menolak batas. Di negeri yang masih menyimpan ketimpangan kesempatan, kisah seperti Fardianto seharusnya menjadi inspirasi bagi anak-anak muda lain di pelosok daerah: bahwa tekad bisa menyalakan cahaya, bahkan di tengah gelapnya keraguan orang lain.

Selamat kepada Fardianto, S.I.Kom. Akhirnya, si anak Tarusan itu benar-benar jadi sarjana, bukan hanya dalam gelar, tapi juga dalam makna perjuangan. (rn/*/pzv)

Komentar