Biaya Pengobatan Besar, Keluarga Azmi Tetap Berjuang Mencari Kesembuhan

Dharmasraya, RANAHNEWS.com — Selama 2,5 tahun, pasangan Laras Sadi dan Eni Cahya Ningtiyas terus berjuang mendampingi putra mereka, Beyazid Shah Azmi (5), yang didiagnosis mengalami gangguan spektrum autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD). Di tengah keterbatasan ekonomi, keduanya tetap berupaya memenuhi kebutuhan terapi dan pengobatan Azmi, meski harus menempuh perjalanan jauh serta mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.

Azmi merupakan anak pertama dari dua bersaudara yang lahir pada 18 September 2021. Ia tinggal bersama keluarganya di Kampung Baru, Nagari Sikabau, Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya.

Ibu Azmi, Eni Cahya Ningtiyas, menuturkan, tanda-tanda gangguan perkembangan mulai terdeteksi ketika putranya berusia dua tahun. Sebelumnya, Azmi mengalami keterlambatan bicara akibat tongue tie atau kelainan pada jaringan pengikat lidah. Kondisi tersebut telah ditangani melalui operasi ketika Azmi berusia tiga tahun.

Namun, keluarga mendapati perubahan yang mengkhawatirkan. Azmi yang sempat mampu mengucapkan sejumlah kata saat berusia sekitar 1,5 tahun justru kehilangan kemampuan berbicara tersebut.

Awalnya, Azmi dibawa ke dokter spesialis anak, dr. Andi. Setelah pemeriksaan, keluarga disarankan melanjutkan pemeriksaan ke Padang untuk mendapatkan penanganan tumbuh kembang yang lebih sesuai.

Demi memperoleh penanganan terbaik, Eni bersama suami dan Azmi rela menempuh perjalanan dari Dharmasraya ke sejumlah rumah sakit di Kota Padang menggunakan sepeda motor.

Pilihan tersebut diambil untuk menghemat biaya perjalanan. Selain itu, Azmi mengalami mabuk jika bepergian menggunakan kendaraan travel. Sementara itu, menyewa mobil membutuhkan biaya lebih besar, terlebih keluarga harus menginap selama beberapa hari di Padang untuk menjalani pemeriksaan dengan sejumlah dokter.

Dari rangkaian pemeriksaan tersebut, Azmi akhirnya didiagnosis mengalami ASD, yaitu gangguan perkembangan saraf yang dapat memengaruhi komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku.

Sejak itu, Azmi dianjurkan menjalani terapi secara rutin. Ia juga harus mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter. Selama sekitar 2,5 tahun, kedua orang tuanya terus berupaya membawa Azmi menjalani pemeriksaan dan pengobatan meski lokasi layanan kesehatan cukup jauh dari tempat tinggal mereka.

Berbagai pemeriksaan telah dijalani, termasuk pemeriksaan MRI otak di Rumah Sakit Otak Bukittinggi.

Sekitar tiga bulan lalu, keluarga kembali membawa Azmi ke RS Awal Bros Pekanbaru untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis neurologi anak. Di rumah sakit tersebut, Azmi menjalani pemeriksaan laboratorium dengan biaya sekitar Rp1,4 juta, belum termasuk biaya konsultasi dokter dan obat-obatan.

“Kalau biaya selama bolak-balik ke Padang ini sudah lumayan banyak kami habiskan. Kami tetap berusaha agar Azmi mendapatkan penanganan yang terbaik,” ujar Eni, Minggu (1/11/2026).

Dalam perjalanan pengobatan itu, keluarga juga memperoleh informasi mengenai terapi stem cell atau sel punca yang disampaikan sebagai salah satu opsi lanjutan oleh dokter yang menangani Azmi di Pekanbaru.

Namun, biaya yang besar membuat keluarga harus mempertimbangkan pilihan tersebut secara matang. Menurut Eni, berdasarkan informasi yang diterimanya, biaya satu kali suntikan diperkirakan mencapai Rp40 juta hingga Rp50 juta dan pelaksanaannya di Jakarta.

“Kami masih mempertimbangkan karena biayanya luar biasa besar. Untuk sekarang, kami tetap menjalankan terapi rutin,” tuturnya.

Di tengah kebutuhan pengobatan yang terus berjalan, kondisi ekonomi keluarga menjadi tantangan tersendiri. Ayah Azmi bekerja serabutan dan lebih sering menjadi buruh muat tandan buah segar (TBS) kelapa sawit.

Meski penghasilan terbatas, kedua orang tua Azmi tetap berupaya mendampingi putra mereka menjalani terapi dan pengobatan. Setiap perjalanan ke rumah sakit menjadi bagian dari ikhtiar mereka untuk mendukung perkembangan Azmi.

Masyarakat yang ingin membantu meringankan biaya pengobatan Azmi dapat menyalurkan donasi melalui rekening Bank Nagari nomor 71050220035200 atas nama Eni Cahya Ningtiyas.

Informasi lebih lanjut dapat diperoleh melalui kontak 0822-8620-536. (akn)

Komentar