Novel Syekh Ahmad Khatib Terbit di Arab Saudi dan Indonesia

Pendidikan74 Dilihat

Padang, RANAHNEWS.com — Karya novel sejarah tentang ulama Minangkabau, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, menembus pasar internasional setelah versi bahasa Arabnya diterbitkan di Arab Saudi, sementara edisi terbaru berbahasa Indonesia dijadwalkan terbit kembali oleh Kompas Gramedia Grup.

Informasi tersebut disampaikan penulisnya, Khairul Jasmi, yang menerima kabar langsung dari keturunan tokoh tersebut di Arab Saudi.

“Iya saya diberi informasi oleh keturunan beliau, Khalid, buku tersebut sudah terbit di Saudi dalam Bahasa Arab,” kata Khairul Jasmi di Padang, Ahad (22/3/2026).

Menurut penulis, dokumentasi yang dikirim menunjukkan buku itu telah beredar dan dibaca di kereta cepat Haramain High Speed Railway yang menghubungkan kota-kota utama di Arab Saudi.

“Foto ini diambil di kereta Haramin,” kata Khalid kepada KJ, sapaan Khairul Jasmi.

Pada sampul belakang versi Arab, novel ini menggambarkan perjalanan intelektual dan spiritual Syekh Ahmad Khatib sebagai ulama besar yang berpengaruh, mulai dari asal-usulnya di Sumatera hingga kiprahnya di Masjidil Haram. Narasi memadukan pendekatan sejarah dan fiksi dengan menekankan kontribusi keilmuan, dakwah, serta peran pembaruan pemikiran.

Versi Arab tersebut mengusung judul “Riwayāt al-Syaikh Aḥmad bin ‘Abd al-Laṭīf al-Khatib” dengan penegasan peran tokoh sebagai imam dan khatib Masjidil Haram, pengajar, serta mufti mazhab Syafi’i dari kepulauan Indonesia.

Secara visual, sampul buku didominasi warna cokelat klasik dengan sentuhan keemasan, memuat ilustrasi Ka’bah, menara masjid, serta elemen budaya yang merepresentasikan hubungan antara Arab Saudi dan Nusantara.

Sementara itu, edisi bahasa Indonesia kembali diterbitkan oleh Elex Media Komputindo (Kompas Gramedia Grup) dengan judul “Yang Mengajar di Gerbang Nabi: Jejak Ahmad Khatib Al-Minangkabawi” setebal 316 halaman. Sebelumnya, buku ini sempat diterbitkan oleh Republika.

Penulis menyebutkan karya ini merupakan bagian dari rangkaian penulisan biografi tokoh-tokoh ulama, yang telah dimulai sejak novel biografi Inyiak Canduang dan terus berlanjut dengan penerbitan rutin.

“Akan menyusul beberapa buku lainnya,” kata KJ. (rn/*/pzv)

Komentar