Ekonomi Sumbar Terpuruk, Jefri Nedi Minta Pemimpin Jadi Strong Leader

Ekonomi375 Dilihat

Padang, RANAHNEWS — Pertumbuhan ekonomi (PE) Sumatra Barat kian mengkhawatirkan. Pada triwulan terakhir, angkanya hanya 3,94 persen, terendah di Sumatra dan jauh di bawah rata-rata nasional. Kondisi ini dinilai sebagai alarm serius yang harus segera dijawab dengan kepemimpinan kuat dan strategi konkret.

Pengusaha nasional berdarah Minang, Jefri Nedi, menilai banyak potensi Sumbar masih tertimbun seperti “harta karun” yang belum dikelola secara maksimal. Dua sektor yang semestinya bisa menjadi penggerak utama, yakni pariwisata dan pertanian, justru belum digarap secara optimal.

“Pariwisata dan pertanian adalah harta karun luar biasa yang dimiliki Sumbar. Untuk mengangkat ekonomi, pemimpin daerah harus bergerak cepat dengan kepemimpinan kuat, berkolaborasi, dan bersinergi,” ujar Jefri Nedi dalam diskusi media via Zoom bersama wartawan di Padang, Jumat (3/10/2025).

Ia menegaskan, tanpa strong leader di level gubernur, bupati, maupun wali kota, sulit membenahi kedua sektor tersebut. Kepemimpinan yang lemah hanya akan menghasilkan kebijakan setengah hati, sehingga peluang menciptakan lapangan kerja baru pun terhambat.

“Pariwisata tidak akan jadi magnet PAD jika objek wisata kotor, infrastruktur buruk, dan banyak pungutan liar. Begitu pula pertanian, petani tertekan karena harga ditekan tengkulak, sementara ongkos distribusi mahal,” kata Jefri.

Menurutnya, jika pemimpin tidak sigap, enggan berkolaborasi, dan minim inisiatif, mustahil Sumbar bisa mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 7 persen. Sebaliknya, daerah ini akan semakin terpuruk.

“Pemimpin harus jemput bola, merangkul semua pemangku kepentingan, terutama pengusaha nasional asal Minang. Kalau ini bisa dilakukan, Sumbar pasti bisa bangkit,” tegasnya.

Jefri menambahkan, diaspora pengusaha Minang sangat banyak dan sukses di perantauan. Jika mereka difasilitasi dengan forum seperti investor summit, serta ditawari investasi yang transparan dan bersih, peluang mengalirnya modal ke kampung halaman akan terbuka lebar.

“Gubernur harus berani mengundang, duduk bersama, dan menawarkan konsep investasi yang jelas. Masak pengusaha asal Minang tidak mau membangun daerahnya sendiri?” ucapnya. (rn/*/pzv)

Komentar