Kabupaten Solok, RANAHNEWS – Komitmen Kabupaten Solok dalam menjaga ketersediaan pangan nasional kembali mendapat pengakuan. Sebagai salah satu daerah penghasil komoditas pertanian utama di Sumatera Barat, Kabupaten Solok kini menjadi rujukan dalam strategi pengendalian inflasi daerah. Hal ini tercermin dari kunjungan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sumatera Selatan ke Alahan Panjang, Selasa, 24 Juni 2025.
Rombongan TPID Sumsel yang terdiri dari unsur pemerintah daerah, Bank Indonesia, serta distributor pangan, datang untuk menjajaki kerja sama langsung dengan petani Solok. Mereka disambut jajaran TPID Kabupaten Solok yang dikoordinatori Sekretaris TPID, Yosi Agusta, didampingi sejumlah kepala perangkat daerah, tokoh kelompok tani, dan pelaku pertanian unggulan bawang merah.
Dalam sambutannya, Yosi Agusta menegaskan kesiapan Kabupaten Solok dalam menjalin kemitraan lintas daerah. “Produksi cabai merah kita surplus 77 persen, dan hanya 23 persen dikonsumsi lokal. Untuk bawang merah, dari 216 ribu ton per tahun, yang dikonsumsi masyarakat hanya sekitar 5 persen. Begitu juga beras, 80 persen produksinya keluar Sumbar,” ungkap Yosi.
Menurutnya, potensi itu menjadi peluang strategis untuk memperkuat pasokan pangan antar daerah, termasuk ke Sumatera Selatan yang sedang berupaya menjaga kestabilan harga pangan. Kabupaten Solok juga telah bekerja sama dengan berbagai daerah seperti Riau dan Kota Pekanbaru.
Ketua rombongan TPID Sumatera Selatan, Iis, menilai pendekatan langsung dengan petani dan kelompok tani sangat penting untuk memangkas jalur distribusi dan menurunkan harga pangan hingga ke konsumen. “Kami ingin membuka kerja sama yang efisien dan saling menguntungkan antara distributor di Sumsel dan petani di Solok, khususnya bawang merah dan cabai merah,” katanya.
Ia menambahkan bahwa langkah ini diharapkan membentuk hubungan bisnis berkelanjutan yang tidak hanya menjaga ketersediaan, tetapi juga keterjangkauan harga pangan. Kunjungan ini menjadi awal dari sinergi konkret antar daerah untuk menekan laju inflasi melalui pendekatan distribusi pangan yang lebih adil dan efisien. (E_J)











Komentar