Kabupaten Solok, RANAHNEWS – Di tengah tantangan dunia pendidikan yang terus berkembang, suara guru akhirnya mendapat ruang istimewa di gedung DPRD Kabupaten Solok. Senin (30/6/2025), para pengurus Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Solok menyampaikan langsung harapan, keluhan, dan perjuangan mereka kepada pimpinan DPRD. Bukan sekadar audiensi, pertemuan ini menjadi ajang penyampaian aspirasi yang menyentuh sisi kemanusiaan dan keadilan bagi para tenaga pendidik.
Dipimpin Ketua PGRI Kabupaten Solok, Yongkerman, para pengurus menyuarakan keresahan soal rendahnya kesejahteraan guru, terutama honorer. Mereka juga menyoroti dampak Permendikbud Nomor 8 Tahun 2025, yang membatasi penggunaan dana BOS untuk operasional non-personalia, hingga berimbas langsung pada beban kerja guru dan kondisi sekolah.
“Meski hidup pas-pasan, guru tetap datang ke sekolah dengan semangat. Tapi jangan biarkan semangat itu padam karena tak ada kepastian,” tutur Yongkerman, penuh harap. Ia menyebut program zakat dari BAZNAS yang telah mengumpulkan sekitar Rp400 juta sebagai salah satu upaya kolektif membantu para guru, namun tetap belum menyentuh akar masalah.
Selain itu, PGRI juga mengajukan permohonan pembangunan sekretariat organisasi, perlindungan hukum bagi guru, tambahan anggaran BOSDA, program percontohan pembelajaran bahasa Inggris, dan bantuan hibah untuk Hari Guru Nasional. Usulan yang dibungkus dengan kejujuran dan ketulusan dari orang-orang yang sehari-hari berdiri di depan kelas.
Ketua DPRD Kabupaten Solok, Ivoni Munir, yang didampingi Wakil Ketua Armen Plani, menyambut baik kehadiran para pengurus PGRI dan menyatakan dukungan penuh terhadap seluruh aspirasi yang disampaikan. Ivoni menegaskan bahwa usulan tersebut akan difasilitasi sesuai prosedur yang berlaku dan kemampuan anggaran daerah.
“Soal gedung sekretariat, silakan ajukan permohonan. Tanah HGU yang telah dihibahkan ke pemda bisa dimanfaatkan. DPRD siap mengawal,” tegas Ivoni. Ia juga mengungkapkan bahwa perhatian terhadap pendidikan bukanlah hal baru baginya, mengingat dirinya berasal dari keluarga guru. “Paman saya adalah tokoh pendidikan di Solok. Saya paham betul perjuangan guru,” ucapnya.
Sementara itu, Armen Plani menambahkan bahwa dirinya mendukung penuh semangat PGRI untuk membangun dunia pendidikan yang lebih bermartabat. Ia berjanji akan memperjuangkan aspirasi tersebut dalam forum-forum resmi DPRD.
Suasana hangat dan penuh empati terasa selama pertemuan, seolah menghapus sekat antara legislatif dan pendidik. Dialog yang berlangsung bukan hanya tentang anggaran dan program, tetapi tentang masa depan anak-anak Solok yang digantungkan pada dedikasi para guru. (E_J)











Komentar