ANTARA Tetap Setia Menjadi Media Pejuang

Opini530 Dilihat

Oleh: Adrian Tuswandi

Dewan Pengawas Perum LKBN ANTARA

RANHNEWS – Sejak didirikan pada 13 Desember 1937, Kantor Berita ANTARA telah menorehkan sejarah panjang sebagai media yang lahir dari semangat perjuangan. Di tengah dominasi pemberitaan kolonial Belanda melalui kantor berita Aneta, sejumlah tokoh muda Indonesia seperti Albert Manumpak Sipahutar, Soemanang, Adam Malik, dan Pandu Kartawiguna merasa perlu menghadirkan suara bangsa sendiri.

Dengan idealisme dan keberanian, mereka mendirikan NV Kantor Berita Antara untuk menyebarluaskan informasi yang jujur dan berpihak kepada kepentingan rakyat Indonesia. Semangat itu tak pernah surut, bahkan terus membara hingga kini, saat ANTARA bertransformasi menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan mengemban tugas sebagai Kantor Berita Negara.

Dalam perjalanan sejarahnya, ANTARA telah melewati berbagai fase penting. Dari menerbitkan buletin sederhana di masa pra-kemerdekaan, pindah ke Yogyakarta saat revolusi fisik, hingga kembali ke Jakarta dan berstatus sebagai lembaga resmi negara. Tahun 2007, status ANTARA berganti menjadi Perusahaan Umum (Perum), namun jati dirinya sebagai media pejuang tetap terjaga.

Pada era digital yang penuh tantangan ini, ketika media sosial, disinformasi, dan perang opini merebak di segala lini, ANTARA tetap berdiri kokoh sebagai ‘buzzer’ negara—dalam pengertian yang bermartabat. Ia bukan sekadar penyambung lidah pemerintah, tetapi juga penjaga informasi akurat yang berpijak pada prinsip jurnalistik: fakta, verifikasi, dan keberimbangan.

Sangat tidak masuk akal jika ada yang berharap ANTARA menyerang program dan kebijakan negara. Sebab sejak awal, DNA ANTARA adalah menjadi garda depan dalam menyampaikan informasi tentang pembangunan, kebijakan, dan program nasional. Itulah sebabnya kantor berita ini kerap dianggap unik—karena tidak mengikuti arus tren media sensasional, melainkan tetap konsisten dengan tagline-nya: Berita dari Sumbernya.

Sebagai satu-satunya Kantor Berita Resmi Negara, ANTARA memiliki kebanggaan dan tanggung jawab yang besar. Tidak semua negara di dunia memiliki kantor berita resmi. Maka dari itu, ANTARA menjadi aset strategis bangsa yang harus dijaga eksistensinya, khususnya di tengah disrupsi digital yang mengguncang dunia pers.

Banyak media tumbang, televisi merampingkan program, bahkan tidak sedikit yang terpaksa tutup karena tekanan zaman. Namun ANTARA tidak menyerah. Ia justru menjadikan transformasi digital sebagai peluang untuk menjangkau publik lebih luas—tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan para pendirinya.

Dengan lebih dari 500 awak redaksi yang tersebar di lebih dari 30 biro di dalam dan luar negeri, ANTARA terus menyajikan karya jurnalistik yang diracik dari gedung bersejarah di Jalan Antara, Pasar Baru, Jakarta Pusat. Produk jurnalistiknya dapat diakses melalui berbagai platform seperti Antaranews.com, AntaraTV, dan Antara Foto.

Sebagai lembaga yang berada di bawah Kementerian BUMN, ANTARA tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan. Tugas utamanya adalah menyajikan informasi publik secara utuh dan bertanggung jawab. ANTARA memisahkan opini dari fakta, menjunjung keberimbangan, dan memastikan tidak ada agenda tersembunyi selain kepentingan negara dan publik.

Berita ANTARA juga berbeda dengan saluran resmi kementerian atau lembaga pemerintah yang cenderung satu arah. Di ANTARA, ada ruang untuk berita layanan publik (PSO), gaya hidup, review sejarah, hingga konten kreatif seperti ANTARA Tempo Doeloe. Semua disajikan dengan bahasa yang lugas dan mudah diakses, tanpa terjebak dalam agenda pihak tertentu.

Mari kembali mengapresiasi ANTARA—media yang tidak lapuk oleh hujan dan tidak lekang oleh panas. Di tengah krisis media kontemporer yang melanda dunia, ANTARA tetap teguh mengusung misi sebagai media pejuang. Ia adalah tiang penyangga informasi negara yang harus terus hidup, tumbuh, dan menjadi kebanggaan bangsa Indonesia.

Salam ANTARA!

Komentar