Pariwisata Sumbar Dinilai Perlu Percepat Transformasi Digital agar Lebih Kompetitif

Pariwisata18 Dilihat

Padang, RANAHNEWS.com – Percepatan transformasi digital dinilai menjadi kebutuhan mendesak bagi sektor pariwisata Sumatera Barat agar mampu bersaing dengan destinasi lain sekaligus menjawab perubahan perilaku wisatawan, terutama Generasi Z. Peraih AITTA Award 2026 kategori The Best Tourism Digital in West Sumatra, Engriyo, menegaskan upaya tersebut harus ditopang empat pilar utama yang saling terintegrasi.

Di Padang, Senin (27/7/2026), Engriyo mengatakan empat pilar yang perlu menjadi prioritas ialah website, database, konten, dan program referral. Menurutnya, penguatan keempat aspek tersebut akan memudahkan wisatawan memperoleh informasi sekaligus meningkatkan efektivitas promosi pariwisata Sumatera Barat.

“Pilar pertama adalah membangun website resmi Visit Sumbar sebagai rumah informasi pariwisata yang terintegrasi. Website ini bukan sekadar galeri foto, tetapi harus memuat informasi lengkap seperti jam operasional, harga tiket, kalender event, peta digital, hingga tombol pemesanan yang terhubung langsung dengan travel agent lokal anggota AITTA. Selama ini informasi masih tersebar di media sosial dan WhatsApp sehingga calon wisatawan kesulitan memperoleh informasi yang utuh,” ujar Digital Marketing Expert tersebut.

Ia menjelaskan, pilar kedua adalah membangun database wisatawan karena promosi digital tidak akan berjalan optimal tanpa didukung data yang akurat mengenai karakteristik pengunjung.

“Kita harus mengetahui asal wisatawan, lama tinggal, hingga destinasi favorit mereka. Data tersebut bisa dikumpulkan melalui sistem pemesanan di website dan jaringan AITTA. Dengan begitu, promosi dapat lebih tepat sasaran, misalnya menawarkan paket kuliner bagi wisatawan Malaysia atau paket wisata baru bagi wisatawan dari Jakarta yang pernah berkunjung ke Sumbar,” katanya.

Selanjutnya, Engriyo menilai penguatan konten digital menjadi pilar ketiga. Menurutnya, pola promosi harus mengikuti perilaku Generasi Z yang lebih tertarik pada pengalaman autentik dibandingkan sekadar menampilkan foto pemandangan.

“Kita harus melahirkan ribuan kreator lokal yang mampu menceritakan pengalaman unik, seperti menjadi petani kopi di Solok selama sehari atau belajar memasak rendang di Bukittinggi. Konten yang jujur, inspiratif, dan mudah dibagikan akan lebih efektif menarik minat wisatawan,” ujarnya.

Adapun pilar keempat ialah membangun program referral yang melibatkan masyarakat dan pelaku industri sebagai duta promosi digital.

“Dengan sistem referral yang sederhana, setiap orang yang berhasil mengajak wisatawan datang ke Sumbar melalui tautan khusus dapat memperoleh komisi. Cara ini akan menciptakan promosi yang berkelanjutan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat,” tambahnya.

Selain empat pilar tersebut, Engriyo menyoroti masih rendahnya visibilitas pariwisata Sumatera Barat di mesin pencari Google. Sebagai praktisi digital marketing yang aktif mempromosikan paket wisata Sumatera Barat, ia menilai potensi daerah belum didukung strategi optimasi digital yang memadai.

“Sumbar memiliki destinasi kelas dunia, mulai dari Lembah Harau, Geopark Silokek, budaya Minangkabau, hingga rendang yang telah mendunia. Namun ketika wisatawan dari Jakarta, Malaysia, atau Singapura mencari kata kunci seperti wisata halal terbaik atau destinasi alam di Sumatera, nama Sumbar masih kalah bersaing dengan Yogyakarta, Lombok, bahkan Danau Toba. Bukan karena destinasi kita kalah menarik, tetapi karena konten dan data digital kita belum optimal,” tegasnya.

Ia mengungkapkan sekitar 80 persen keputusan perjalanan saat ini diawali melalui pencarian di ponsel. Karena itu, apabila informasi mengenai jam operasional, harga tiket, akses menuju lokasi, hingga kontak resmi destinasi tidak muncul di halaman pertama Google, peluang mendatangkan wisatawan akan semakin kecil.

Karena itu, Engriyo mengajak Dinas Pariwisata, AITTA, Pokdarwis, akademisi, media, serta seluruh pelaku industri pariwisata membangun ekosistem digital secara kolaboratif.

“Kita harus memproduksi ribuan artikel, blog, video, dan konten yang menggunakan kata kunci sesuai dengan apa yang benar-benar dicari wisatawan. Promosi digital tidak boleh lagi berjalan sendiri-sendiri. Jika seluruh pihak bergerak bersama, saya optimistis promosi pariwisata Sumbar pada 2026 tidak hanya viral di media sosial, tetapi juga mampu meningkatkan kunjungan wisatawan dan menggerakkan ekonomi masyarakat lokal,” pungkasnya. (rn/*/pzv)

Komentar