Insannul Kamil Tinjau Gedung 24 Lantai Miring di Guangxi

Wuzhou, Guangxi, RANAHNEWS.com — Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Indonesia, Insannul Kamil, meninjau penerapan teknologi optimalisasi fondasi dan koreksi bertahap pada gedung hunian 24 lantai yang mengalami kemiringan hingga 5,52 persen di Kota Wuzhou, Guangxi, China, Jumat (25/9/2026).

Peninjauan tersebut dilakukan di sela keikutsertaan Insannul dalam The Fourth ASEAN-China Cooperation and Development Forum on Building Industry di Guangzhou yang mengusung tema “Exploring New Opportunities, Building New Cities”.

Gedung yang ditinjau memiliki tinggi 73 meter dengan satu lantai basement. Proyek perbaikan mencakup optimalisasi fondasi serta koreksi dan penurunan bertahap bangunan yang mengalami kemiringan melebihi batas standar teknis.

“Proyek yang sedang dilakukan adalah pekerjaan optimalisasi fondasi serta koreksi dan penurunan bertahap bangunan yang berlokasi di Kota Wuzhou, Guangxi,” ujar Insannul Kamil yang juga Dosen Fakultas Teknik Universitas Andalas.

Berdasarkan data pemantauan dan hasil monitoring yang dipaparkan dalam diskusi di lokasi proyek, kemiringan maksimum bangunan ke arah selatan mencapai 5,52 persen. Angka tersebut melampaui batas maksimum 2,5 persen yang diperbolehkan dalam standar teknis yang berlaku.

Sementara itu, kemiringan bangunan ke arah barat tercatat sebesar 0,97 persen. Nilai tersebut masih berada di bawah ambang batas maksimum 2,5 persen.

Insannul yang juga Ketua Badan Keahlian Mesin (BKM) Persatuan Insinyur Indonesia menjelaskan, hasil analisis data monitoring menunjukkan laju penurunan bangunan dalam 100 hari terakhir relatif stabil.

Namun, akumulasi penurunan masih memperlihatkan perbedaan yang cukup signifikan dan tidak merata pada beberapa bagian bangunan.

Data distribusi penurunan kumulatif selama 100 hari menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara sisi timur dan sisi utara bangunan. Pola distribusi penurunan tersebut memperlihatkan rasio sekitar 3,1 kali.

Untuk menangani kondisi tersebut, kontraktor yang ditunjuk melakukan desain optimalisasi fondasi serta koreksi kemiringan bangunan. Pekerjaan itu mencakup perkuatan fondasi dan tindakan teknis untuk mengendalikan serta memperbaiki kemiringan yang telah melampaui standar nasional.

“Kontraktor bertanggung jawab melaksanakan pekerjaan konstruksi terkait koreksi dan penurunan bertahap bangunan sesuai persyaratan teknis desain menggunakan teknologi maju dan terkini yang dilakukan oleh tenaga kerja konstruksi yang ahli, terampil, dan memiliki kualifikasi tingkat tinggi,” kata Insannul yang juga Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia Bidang Pengembangan SDM Profesi Teknik dan Industri.

Menurutnya, proyek tersebut menjadi salah satu contoh penerapan teknologi konstruksi modern dalam menangani bangunan tinggi yang mengalami penurunan diferensial dan kemiringan, sekaligus menjaga keselamatan struktur bangunan untuk jangka panjang. (rn/*/pzv)

Komentar