Padang, RANAHNEWS — Kondisi Pelabuhan Teluk Bayur dinilai belum sepenuhnya mampu mendukung aktivitas ekspor dari Sumatera Barat. Akibatnya, sebagian besar pelaku usaha di provinsi ini lebih memilih mengirimkan barang melalui Pelabuhan Belawan di Sumatera Utara atau Dumai di Riau, yang dianggap lebih efisien dan kompetitif.
Pengusaha ekspor asal Sumatera Barat, Marta Gunawan, menilai Pelabuhan Teluk Bayur sebenarnya memiliki potensi besar sebagai pintu gerbang ekspor di pantai barat Sumatera. Namun, potensi itu belum dapat dimanfaatkan maksimal karena persoalan infrastruktur dan layanan pelabuhan yang masih tertinggal dibandingkan pelabuhan besar lainnya.
“Secara geografis, Teluk Bayur sangat potensial menjadi pelabuhan ekspor utama Sumatera bagian barat. Tapi dalam praktiknya, banyak pengusaha terpaksa memakai Belawan atau Dumai karena fasilitas dan efisiensi di sana jauh lebih baik,” ujar Marta Gunawan di Padang, Kamis (13/11/2025).
Ia menjelaskan, kendala utama Teluk Bayur terletak pada kedalaman alur pelayaran dan terbatasnya fasilitas bongkar muat. Pelabuhan tersebut lebih banyak melayani muatan curah seperti semen, batu bara, dan CPO, sementara kapasitas kontainer ekspor masih terbatas.
“Kalau lewat Belawan atau Dumai, kapal besar bisa langsung berangkat ke luar negeri tanpa transit. Di Teluk Bayur, sering kali harus pindah muatan dulu, dan ini tentu menambah biaya operasional,” jelasnya.
Selain faktor pelabuhan, Marta juga menyoroti akses jalan dari sentra produksi menuju Teluk Bayur yang belum efisien. Truk pengangkut barang kerap terkendala jalan sempit dan kemacetan, sedangkan rute menuju Belawan dan Dumai sudah tersambung dengan jalan tol dan infrastruktur logistik yang lebih baik.
“Kita berharap pemerintah daerah dan pusat bisa memberi perhatian lebih terhadap kondisi ini. Jika Teluk Bayur dibenahi, tentu pengusaha di Sumatera Barat akan lebih memilih ekspor dari pelabuhan daerah sendiri,” katanya.
Menurutnya, pelabuhan-pelabuhan di luar Sumbar kini telah menjadi simpul utama ekspor nasional, sementara Teluk Bayur masih memerlukan dorongan kuat dari berbagai pihak agar mampu bersaing.
“Sumatera Barat punya banyak komoditas ekspor potensial seperti pinang, gambir, dan produk industri kecil menengah. Namun, jika biaya logistik tinggi, daya saing kita di pasar ekspor otomatis menurun,” ungkap Marta.
Ia berharap Teluk Bayur mendapat prioritas dalam program modernisasi pelabuhan nasional. Dengan fasilitas dan konektivitas yang memadai, pelabuhan ini diyakini bisa menjadi motor penggerak ekspor Sumatera bagian barat sekaligus mengurangi ketergantungan pada pelabuhan di provinsi lain. (rn/*/pzv)











Komentar